AUDIO KAJIAN ISLAM

BERBAGI BUKU ISLAM

TULIS nama, alamat lengkap & nomor HP/WhatsApp pada KONTAK

TATA CARA SHALAT

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

BAHAN BACAAN
PENGUNJUNG

Flag Counter

Tebarkan Rahmat di Seluruh Alam (2) [KH Jalaluddin Rakhmat]

image

 Rasulullah saw bersabda:

أَلاَ أَنَّهُ قَدْدَبَّ إِلَيْكُمْ دَاءُ الأُمَمِ مِنْ قَبْلِكُمْ وَهُوَالْحَسَدُ لَيْسَ بِحَالِقِ الشَّعْرِ , لَكِنَّهُ حَالِقُ الدِّيْنِ .

Ketahuilah, sudah merayap kepada kalian penyakit yang menjangkiti umat sebelum kalian, yaitu dengki. Dengki itu menggunduli, bukan menggunduli rambut, melainkan menggunduli agama.

Surat al-Takatsur menjelaskan tiga pengobatan untuk menghilangkan takatsur dan sekaligus membasmi akar takabbur, dengki, dan dendam. Ketiga obat itu ialah, pertama mengingat maut; kedua, meningkatkan ilmu; ketiga, memupuk rasa tanggung jawab.

“Telah melupakan kamu takatsur sehingga kamu berkunjung ke kuburan. Berkunjung ke kuburan dapat berarti sebenarnya, dapat berarti kiasan. Tetapi, kedua-duanya berkenaan dengan kematian. Rasulullah saw. bersabda:

نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُوْرِ , فَزُوْرُوْهَا فَإِنَّهَا تُذكِّّرُكُمُ الْمَوْتَ .  ( رواه الحاكم ) 

Aku pernah melarang kalian berziarah ke kubur. Sekarang berziarahlah kamu ke sana karena berziarah ke kubur itu mengingatkan kamu kepada kematian (HR. Al-Hakim). Jadi, obat yang pertama untuk menghilangkan kerakusan adalah kesadaran akan kematian. Kesadaran bahwa semua yang kita kumpulkan itu akan kita tinggalkan. Kesadaran bahwa semua akan kita akhiri dengan ketiadaan.

Karena itu, setelah salat Id nanti, berkunjunglah Saudara ke kuburan. Merenungkan di sana, di atas pusara ayah-bunda atau orang-orang yang Saudara cintai. Kenangkan bahwa Saudara juga akan berbaring di bawah tanah seperti mereka dibungkus kain kafan, tergolek seperti seonggok tubuh yang tidak berguna dan terlupakan. Tengoklah ke kiri dan ke kanan. Bukankah lebaran dahulu mereka masih bersama kita, ikut pergi ketanah lapang, ikut menggemakan takbir di samping kita? Tetapi hari ini Allah memanggil mereka lebih dahulu. Nanti, ketika berkunjung ke kuburan ucapkanlah salam:

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ يَا أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ أَنْتُمْ لَنَا فَرَطٌ وَإِنَّا إِنْشَاءَاللهُ بِكُمُ الّلاَحِقُوْنَ .

Salamlah bagi kalian, hai ahli kubur, kaum Muslimin. Kalian sudah mendahului kami. Dan insya Allah kami pun akan menyusul.

Obat yang kedua adalah ilmu. Dengan ilmu Saudara menyadari bahwa takatsur berakibat jelek. Bukan saja pada orang lain, juga pada diri Saudara sendiri. Takatsur mencabut kasih sayang dari jantung Saudara, mengambil ketenteraman dari kehidupan  Saudara, menyibukkan Saudara untuk mengumpulkan bara neraka jahim.

Sungguh kalian akan mengetahuinya. Kemudian sesungguhnya kalian akan mengetahuinya. Sesungguhnya, seandainya kalian mengetahuinya dengan ilmu yakin, kalian sungguh akan melihat neraka jahim, kemudian kalian melihatnya dengan mata yakin.

Ilmu yang menyebabkan kita sadar betapa tidak bermakna kemegahan hidup di dunia ini. Ilmu seperti ini tidak diperoleh di perguruan tinggi, atau di bangku sekolah. Ilmu semacam ini tumbuh dari kearifan menghayati kehidupan dengan bimbingan syariat Islam.

Obat yang terakhir adalah rasa tanggung jawab. “Kemudian kalian akan ditanya pada hari itu dari segala kenikmatan di dunia ini.” Saudara bakal dimintai tanggung jawab atas kekayaan, kekuasaan, kesehatan, kemashuran, dan segala kesenangan yang Saudara miliki.

Dengan keras Alquran mengingatkan:Apakah manusia mengira bahwa dirinya akan dibiarkan tanpa dimintai tanggung jawab?” (Qs 75:76).

Sabda Rasulullah saw:

لاَتَزُوْلُ قَدَمَ عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأّلَ عَنْ أَرْبَعٍ عَنْ عُمْرِهِ فِيْمَا أَفْنَاهُ , وَعَنْ جَسَدِهِ فِيْمَا أَبْلاَهُ , وَعَنْ مَالِهِ فِيْمَا أَنْفَقَهُ , مِنْ أَيْنَ إِكْتَسَبَهُ , وَعَنْ حُبِّنَا أَهْلِ الْبَيْتِ .  ( رواه الطبرانى )

Tidak akan bergeser telapak kaki manusia di hari kiamat nanti sehingga mereka akan ditanya empat hal: Dari usianya, untuk apa dihabiskannya. Dari tubuhnya, untuk apa ia mempergunakannya.  Dari hartanya, dari mana ia memperolehnya dan ke mana ia membelanjakannya. Dan keempat, dari kecintaannya kepada kami, keluarga Nabi (HR.Thabrani).

Mengertilah kita sekarang, mengapa zakat yang kita berikan tadi pagi disebut zakat fitrah. Karena zakat itu telah mengingatkan kita pada fitrah kasih sayang dalam hati nurani kita. Zakat fitrah mengenangkan kita betapa selama ini kita telah melupakan penderitaan saudara-saudara kita. Betapa selama ini kita lupakan mereka yang bekerja keras hanya untuk memperoleh sesuap nasi, mereka yang masih harus membanting tulang di hari tua karena tidak ada jaminan pensiun, mereka yang tidak sanggup meredakan rasa sakitnya karena mereka tidak bisa berobat ke dokter, mereka yang menarik anak-anak tercintanya dari sekolah dan memaksanya bergulat dalam kehidupan keras.

Kita juga mengerti mengapa lebaran ini disebut Idul-Fitri. Kata Idul-Fitri berarti mengembalikan kepada rasa fitrah kasih sayang. Nanti selesai salat, kita tinggalkan lapang ini, lalu kita tebarkan rahmat di tengah-tengah keluarga kita, di masyarakat, bahkan di seluruh alam.

KH Jalaluddin Rakhmat adalah Ketua Dewan Syura IJABI

(Naskah diambil dari buku Jalaluddin Rakhmat, Khotbah-khotbah Idul Fitri. Penerbit Remaja Rosdakarya Bandung, 1993; halaman 97106) 

 

Sat, 26 Jul 2014 @15:24

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved