BERBAGI BUKU ISLAM

TULIS nama, alamat lengkap & nomor HP/WhatsApp pada KONTAK

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Tiada Kecaman Bagi Kalian Pada Hari Ini [KH Dr Jalaluddin Rakhmat]

image

Pagi ini, Idul Fithri mendatangi kita untuk ke-1433 kalinya. Idul Fithri yang pertama menemui Nabi saw setelah Perang Badar, pada tahun kedua Hijriah. Kaum Muslim dipenuhi kebahagiaan karena baru saja Allah swt memperlihatkan kepada Rasulullah saw dan umatnya kebenaran firman-Nya “kam min fi-atin qaliilatin ghalabat fi-atan katsiratan bi-iznillah”, betapa banyaknya kelompok kecil berhasil mengalahkan kelompok besar dengan izin Allah.

Waktu itu, masih segar dalam ingatan para sahabat situasi di Badar, ketika mereka diguyur hujan lebat. Mereka bertudungkan kulit unta dan berlindung di bawah pepohonan. Mereka datang dalam jumlah ratusan dan orang Quraisy tiba dengan ribuan pasukan. Masih melekat dalam ingatan mereka doa, yang tidak henti-hentinya digumamkan Nabi saw di Badar, sepanjang malam sambil menghadap Qiblat, “Allahumma in tuhlik hadzihil ‘ishabah la tu’bad fil ardhi abadan.” Tuhan, jika engkau binasakan kelompok kecil ini, Engkau tidak akan disembah lagi di bumi selama-lamanya! (Shahih Muslim 1763; Ibn Katsir, al-Bidayah 4:24; Musnad Ahmad 1:112, 118; Al-Albani, Shahih al-Turmuzi 3081; Shahih Asbab al-Nuzul 61; Shahih Dalail al-Nubuwwah 311).

Allah Swt memenuhi janji-Nya, menolong hamba-Nya, memenangkan tentara-Nya, dan mengalahkan pasukan-pasukan musuh-Nya. Lebaran hari itu sekaligus bersyukur atas kemenangan kebenaran atas kebatilan, keadilan atas kezaliman, kerendahan hati hamba atas kepongahan tiran.

Lebaran keenam, tahun 8 H, didahului oleh penaklukan Mekkah. Dua puluh hari sebelum Lebaran, Bilal, budak hitam dari Afrika, memperoleh kehormatan naik ke atas Rumah Tuhan, dan mengumandangkan azan, “Allahu Akbar, Allahu Akbar.” Dengan muka yang sumringah, Nabi saw berdiri di hadapan ribuan penduduk Mekkah. “Kami melihat wajah Nabi saw bersinar-sinar seperti rembulan,” kata para sahabat Nabi saw.

Sang Penakluk Agung ini memandangi orang-orang yang dahulu pernah menudingnya sebagai orang gila dan ahli sihir, yang pernah menyiksa Bilal hanya karena ia selalu menggumamkan Nama Allah, “Ahad, Ahad.”, yang pernah membantai keluarga Sumayyah dan menyisakan ‘Amar bin Yasir, yang pernah mengusir para sahabatnya dan akhirnya dirinya dan keluarganya. Kita mendengar suara indah dari Nabiyyur Rahmah, yang bersandar di pintu Ka’bah:

"Hai orang-orang Quraisy, bagaimana menurut perkiraan kalian apa yang akan aku lakukan pada kalian?" 

Mereka serentak menjawab: “Kebaikan! Engkaulah saudara yang pemurah, anak dari saudara yang pemurah. Sungguh engkau sekarang berkuasa (untuk melakukan apa pun).”

Kita dengarkan lagi sabda beliau selanjutnya: “Aku akan berkata seperti saudaraku Yusuf.ŮŽ Dia (Yusuf) berkata: "Pada hari ini tak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Allah mengampuni (kamu), dan Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang" (QS Yusuf 12:92)

“La tatsriiba ‘alaikum al-yawm, tak ada kecaman, tak ada cercaan, tak ada hukuman, tak ada pembalasan dendam bagi kalian.” 

Ia tebarkan ampunan, di saat para penakluk menumpahkan darah. Ia sebarkan maaf, ketika para pemenang melepaskan dendam. Ia datangkan kedamaian, ketika para panglima menyebarkan ketakutan.

Mendengar itu, Umar bin Khattab berkata, “Tubuhku basah keringat karena malu, mendengar sabda Nabi saw. Begitu aku masuk kota Mekkah, aku berkata kepada mereka- Hari ini kami akan membalaskan dendam kami dan kami akan melakukannya.” (Lihat tafsir QS Yusuf 92, pada Tafsir al-Qurthubi).

Lebaran tahun ini menemui kita, umat Islam Indonesia, setelah negeri ini dicabik-cabik perpecahan; setelah kita saling mengejek, saling mencemooh, saling menghantam. Mungkin saja, kita kadang-kadang melakukan hal yang sama.

Suami isteri saling menyakiti. Orang tua dan anak saling melukai. Tetangga dengan tetangga saling bermusuhan. Anak-buah dan atasan saling menyerang. Hati kita semua sudah terluka. Pelupuk mata kita sudah pedih karena merasa diperlakukan tidak adil.

Marilah kita meniru Nabi yang Penuh Kasih. Katakan kepada orang-orang yang pernah melukai hati kita, ayat Al-Quran yang dikutip Nabi saw, “La tatsriiba ‘alaikum al-yawm!”. Apakah memaafkan akan menjatuhkan kehormatan saudara. Tidak! Nabi saw bersabda,

"Hendaklah kalian memaafkan. Karena memaafkan hanya akan menambah kemuliaan orang. Kalian harus saling memaafkan, supaya Allah memuliakan kalian" (Mizan al-Hikmah 3:2013).

Apa artinya rasa sakit kita dibandingkan dengan penderitaan Nabi saw? Boleh jadi tetangga saudara telah menghina saudara dengan caci-makinya, tetapi pernahkan dia melemparkan kotoran ke muka saudara, seperti dilakukan tetangga Nabi saw kepadanya. Boleh jadi teman-teman telah memfitnah saudara dengan tuduhan-tuduhan keji, tetapi pernahkah kerabat saudara terus menerus menyebarkan fitnah, hammalatal khathab, seperti yang dilakukan kerabat Nabi saw, Abu Lahab dan istrinya, kepada beliau.

Boleh jadi ada banyak orang yang menyakiti saudara, tetapi berapa banyak di antara mereka yang ingin mengambil nyawa saudara dan keluarga saudara, seperti yang dilakukan orang Quraisy terhadap Nabi saw. Setelah Idul Fithri, marilah kita sebarkan maaf kita dengan tulus, “La tatsriiba ‘alaikum al-yawm, tak ada kecaman, tak ada cercaan, tak ada hukuman, tak ada pembalasan dendam bagi kalian.”

Seorang lelaki mendatangi Nabi saw dan berkata, “Ya Rasul Allah, keluargaku selalu menentangku, memusuhiku, dan mencaci-makiku, apakah aku usir saja mereka semua? Nabi saw bersabda, “Kalau begitu, nanti Allah akan mencampakkan kalian semua”. Kata lelaki itu: “Lalu, apa yang harus aku lakukan?” Nabi saw bersabda, “Sambungkan lagi hubungan dengan orang yang memusuhimu, beri orang yang menahan hartanya darimu, dan maafkan orang yang menzalimimu. Jika kau lakukan itu semua, Allah akan mengunggulkan kamu di atas mereka.” (Al-Kafi 2:150).

Tidak ada batas dalam menyebarkan maaf, kecuali kalau maaf itu menimbulkan kerusakan dalam agama atau mendatangkan kesengsaraan dan kerugian pada masyarakat luas. Tidak ada maaf dalam menegakkan keadilan. Tidak ada maaf dalam menegakkan hukum. “janganlah belas kasihan kepada mereka mencegah kamu untuk menegakkan agama Allah!” (QS Al-Nur 24:2). Tidak ada maaf dalam menghukum para koruptor. Imam Ali kw bersabda, “Balaslah dengan kebaikan dan maafkan keburukan selama tidak merusak agama atau tidak melemahkan kekuatan Islam”.

Walhasil, kalau ada orang yang melukai hatimu dan berbuat zalim kepadamu secara personal, karena kejahilan, kedengkian, atau karena kamu pun telah melukai hati mereka, berikanlah maafmu, supaya Allah swt juga mengampuni kamu. Tetapi jika ada orang yang menyakiti, memecah-belah, menyebarkan fitnah terhadap sesama umat Nabi saw, yang berakibat lemahnya kekuatan umat Islam, memaafkannya dan membiarkannya menjadi perbuatan buruk. Allah swt berfirman:

"Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya. Allah akan mela'natinya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan." (QS Al Ahzab 33:57)

"Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mu'min dan mu'minat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata." (QS Al Ahzab 33:58)

“Ya Allah, bila ada seorang hamba menyerangku padahal Engkau larang; atau merampas hakku padahal Engkau cegah; dan ia sudah mati dengan kezalimannya kepadaku, atau aku dapat mengadukannya ketika ia hidup; ampunilah dia atas apa yang dilakukannya padaku; maafkanlah dia atas pengkhianatannya padaku; jangan Kau periksa dia karena apa yang dikerjakannya padaku; jangan bukakan keburukan dia karena perlakuannya padaku. Jadikan semua maaf yang aku berikan kepadanya; dan semua sedekah yang aku sumbangkan kepadanya, sedekah yang paling suci dari orang-orang yang bersedekah, dan hadiah yang paling agung dari orang-orang yang mendekatkan diri pada-Mu.”

“Gantilah maafku kepada mereka dengan ampunan-Mu; gantilah doaku untuk mereka dengan rahmat-Mu, sehingga kami semua bahagia dengan karunia-Mu, dan semuanya selamat dengan pemberian-Mu.”

“Ya Allah, bila ada seorang hamba-Mu, yang pernah menderita karena perbuatanku, yang pernah disakiti karenaku, atau pernah dizalimi karenaku –langsung atau tidak; lalu aku tidak memenuhi haknya, atau aku mati dalam membawa kezaliman kepadanya, sampaikan salawat kepada Muhammad dan keluarganya, ridokan dia kepadaku dengan karunia-Mu, penuhi haknya dari sisi-Mu.”

KH Dr Jalaluddin Rakhmat adalah Ketua Dewan Syura IJABI dan Anggota DPR RI Terpilih 2014-2019

 

 

Tue, 29 Jul 2014 @09:25

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved