Limpahan Kasih-Nya [khutbah idul fitri]

Hari ini, bersama ratusan juta umat manusia, kita meninggalkan rumah bergerak menuju tanah lapang. Kita gemakan takbir bersama. Kita lakukan salat berjamaah. Kita rebahkan kepala-kepala kita di atas tanah. Kita ungkapkan syukur kita, dengan bibir gemetar: Subhana rabbiyal a’la wa bi hamdih.

Semoga Dia yang Bertahta di ‘arasy yang Agung, yang bermukim di hati kita yang paling dalam, berkenan menerima syukur kita, baik yang kita ungkapkan dalam gemetar bibir kita maupun yang tidak sanggup kita ucapkan, dalam relung hati kita yang paling sunyi.

Dialah yang bersabda, “Dan tanda kebesaran Kami bagi mereka ialah sesungguhnya Kami angkut keturunan mereka dalam kapal yang makin padat.” Kitalah keturunan manusia, yang dibawa pesiar oleh kapal padat yang bernama bumi. Sejak Lebaran yang lalu, kita sudah menempuh perjalanan sepanjang 972.000.000 km, dengan kecepatan 107. 000 km per jam, atau 30 km per detik. Sambil bergerak dengan kecepatan yang dahsyat, pesawat ruang angkasa kita berpusing seperti gangsing dengan kecepatan 1670 km per jam. Ajaibnya, walaupun kapal bumi ini bergerak dalam orbitnya seribu kali lebih cepat dari mobil kita di jalan raya, kita tinggal di bumi dengan nyaman.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar wa Lillahil hamd.

Sejak Lebaran yang lalu sampai Lebaran ini, kita menumpang di kapal bumi selama 8766 jam atau 365 hari. Selama itu, Sang Pemilik kapal dan sekaligus Nakoda yang Agung tidak menuntut kita untuk membayar sepeser pun. Bahkan setiap hari, setiap jam, setiap menit, setiap detik Dia menyediakan kebutuhan kita. Pada setiap tarikan nafas kita, tidak terhitung anugrah Tuhan mengalir kepada kita. Tidak henti-hentinya Dia melayani kebutuhan kita seakan-akan tidak ada lagi hamba lain selain kita. Pada saat yang sama tidak henti-hentinya kita melawan Dia seakan-akan kita punya Tuhan lain selain Dia.

Apa yang dilakukan Nakoda Agung itu dalam kapal kita? Meliputi kita dengan limpahan kasihNya. Apa yang kita lakukan setiap hari di atas bumi ini? Menumpuk dosa!

Dzunubi mitslu a’dadir rimali
Fa hab li tawbatan ya Dzal Jalali
Wa ‘umri naqishun fi kulli yawmi
Wa dzanbi zaidun kaifah timali
Dosaku sebanyak pasir sahara
Ampunilah wahai Tuhan yangMulia
Umurku berkurang setiap harinya
Dosaku bertambah, aduh beratnya

Pada hari yang kudus ini, kita datang menemui Al-Rahman al-Rahim, Yang Mahakasih Mahasayang, dengan punggung-punggung yang melengkung karena onggokan dosa. Hari ini kita kembali kepadaNya dengan muka-muka yang kusam muram karena kemaksiatan. Hari ini kita hadir lagi di hadapanNya dengan hati yang gelap kelabu karena kedurhakaan. Hari ini kita jeritkan lagi doa-doa kita, yang kita ucapkan pada malam-malam Ramadhan:

Tuhanku,
Telah berhenti para pemohon di depan pintu-Mu
Telah berlindung orang-orang fakir ke haribaan-Mu
Telah berlabuh perahu orang-orang miskin
pada tepian lautan kebaikan-Mu dan kemurahan-Mu
dengan harapan dapat menggapai halaman kasih sayang-Mu dan anugerah-Mu

Tuhanku,
Jika sekiranya di bulan ini Engkau
hanya menyayangi orang yang ikhlas karena-Mu
dalam menjalankan puasa dan shalat malamnya,
maka siapakah yang akan menyayangi pendosa yang berbuat salah
bila ia tenggelam dalam lautan dosa dan maksiatnya

Tuhanku, jika Engkau hanya menyayangi orang-orang yang taat,
maka siapakah yang akan menyayangi orang-orang yang maksiat.
Jika engkau hanya menerima orang-orang yang beramal,
maka siapakah yang akan menerima orang-orang yang tidak beramal.

Tuhanku,
Beruntung sudah orang-orang yang puasa,
Berbahagialah orang-orang yang shalat malam,
Selamatlah orang-orang yang ikhlas,
Sedangkan kami hamba-hamba-Mu yang berdosa
Maka sayangilah kami dengan kasih sayang-Mu
Dan lepaskanlah kami dari api neraka dengan ampunan-Mu
Ampunilah dosa-dosa kami dengan kasih-sayang-Mu
Wahai Yang Paling Pengasih dari segala yang mengasihi
 

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahil Hamd

Para ‘Aidin dan ‘Aidat, Faizin dan Faizat:

Allah yang Mahakasih berfirman: “Sekiranya Allah menurunkan siksa kepada manusia karena (dosa-dosa) yang mereka lakukan, maka di atas punggung bumi ini tidak akan tinggal satu makhluk hidup pun. Tetapi Allah tangguhkan sampai waktu yang ditentukan. Apabila sudah datang waktunya, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui hamba-hambanya.” (Fathir 35:45).

Mari kita hitung dosa-dosa yang kita lakukan. Pernah Iblis berkawan dengan salah seorang Muslim. Pada suatu hari si Muslim itu sibuk dengan pekerjaannya, sehingga ia meninggalkan semua salatnya. Iblis menegur dia: Aku takut berkawan denganmu. Dahulu aku diusir Tuhan karena tidak mematuhi perintahNya satu kali saja. Aku disuruh sujud kepada Adam dan aku membangkang. Sekarang ini dalam satu hari kamu membangkang perintah Tuhan sampai lima kali.” Sekarang mari kita ingat berapa banyak kita tinggalkan salat dengan sengaja atau melalaikannya. Sekiranya tidak ada ampunan Allah, kita mungkin tidak lagi menghirup udara.

Tuhan melarang kita berbuat zalim kepada sesama makhluk Tuhan. Sekarang kenanglah apa yang sehari-hari kita lakukan. Setiap saat kita melihat orang lain, kita berpikir bagaimana kita mengambil keuntungan dari mereka. Kita menjadi serigala satu sama lain. Kita saling menyerang, kita saling mendengki, kita saling menyakiti, kita saling menghina, kita saling menghancurkan, kita saling membinasakan. Semua kita lakukan agar kita bisa mengungguli orang lain; agar kita bisa memuaskan hawa nafsu kita yang rendah; agar kita bisa berpesta di atas penderitaan orang lain. Dengan sabar Tuhan tangguhkan azabnya kepada kita. Dengan penuh kasih Dia menunggu kita kembali kepadaNya

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar wa Lillahil Hamd.

Dengarkan Nakoda Agung itu berfirman lagi:

Maka anugrah Tuhan mana lagi yang kamu dustakan
Apa lagi balasan perbuatan baik selain perbuatan baik lagi
Maka anugrah Tuhan mana lagi yang kamu dustakan

Tuhan telah berbuat baik kepada kita. Nakoda Agung itu telah membawa kita menjelajah alam semesta dalam naungan rahmat dan kasihNya. Ketika kita salah, ia memaafkan kita atau menangguhkan pembalasannya supaya kita sempat kembali kepadaNya. Ketika kita berbuat baik, ia membalasnya dengan kebaikan berlipat ganda. Ia bersabda: Ahsin kama ahsanallahu ilayk. Berbuat baiklah kepada makhluk sebagaimana Allah berbuat baik kepada kamu.

Ia juga bersabda: “Seluruh makhluk ini keluarga besarku. Orang yang paling Aku cintai adalah orang yang paling penyayang kepada makhlukKu.” Sebagaimana Tuhan telah menyayangi kita, kita dimintaNya untuk menyayangi sesama manusia. Kita semua memikul missi Nabi saw untuk menyebarkan kasih sayang ke seluruh alam.

Apa yang kita peroleh kalau kita menyebarkan kasih sayang. Tuhan akan mengirimkan kepada kita tangan-tangan lembut yang akan menjahit luka-luka kehidupan kita dengan jarum-jarum halus kasih sayang. Apa yang akan kita peroleh kalau kita menebarkan kebaikan? Tuhan akan menggerakkan tangan-tangan mulia yang akan menyiramkan pada taman kehidupan kita hujan kebaikan. Apa yang akan kita peroleh kalau kita berusaha membahagiakan orang-orang di sekitar kita? Tuhan akan membukakan mata kita untuk melihat keindahan yang memesona pada apa pun yang berada di sekitar kita.

Apa lagi balasan perbuatan baik selain perbuatan baik lagi

Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar walillahil Hamd

Aidin dan Aidat, Faizin dan Faizat:

Sebelum kita tinggalkan tanah lapang ini, marilah kita simak kalimat-kalimat indah yang diwarisi Imam Ali dari Mentor Agungnya Rasulullah saw:

Jadikanlah dirimu sebagai tolok ukur dari selainmu
Berbuatlah sesuatu yang menggembirakan orang lain sebagaimana yang engkau inginkan mereka berbuat

Janganlah berbuat sesuatu yang engkau tidak ingin orang lain berbuat hal itu kepadamu

Janganlah berbuat aniaya sebagaimana engkau tidak suka di aniaya
Berbuat baiklah kepada selainmu sebagaimana engkau ingin orang lain berbuat baik kepadamu.

Cegahlah dirimu dari perbuatan mungkar sebagaimana kau tidak ingin orang lain berbuat itu kepadamu.’

Berbuatlah sesuatu yang menyenangkan orang lain agar ia juga berbuat sesuatu yang menyenangkan dirimu…

Janganlah engkau berbiacara sesuatu pembicaraan yang tidak engkau inginkan orang lain berbicara seperti itu kepadamu. 

KH Jalaluddin Rakhmat adalah Ketua Dewan Syura IJABI 

(khutbah Id tahun 2007)

 

Wed, 30 Jul 2014 @08:18

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved