AUDIO KAJIAN ISLAM

BERBAGI BUKU ISLAM

TULIS nama, alamat lengkap & nomor HP/WhatsApp pada KONTAK

TATA CARA SHALAT

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

BAHAN BACAAN
PENGUNJUNG

Flag Counter

Imam Khomeini dalam Pandangan Allamah Sayyid Muhammad Husein Fadhlullah

image

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Shalawat dan salam kepada Sayyidina Muhammad dan keluarganya yang baik dan para sahabatnya dan kepada seluruh para nabi dan rasul.

Assalamualaikum wahai saudara-saudaraku mukminin dan mukminat, warahmatullahi wabarakatuh.

Imam Khomeini adalah seorang Al-Arif billah yang bukan dicapai olehnya melalui kerumitan falsafah. Tetapi beliau memperolehnya dari kebersihan akalnya dan kejernihan ruhnya terhadap Allah swt dan dari situ beliau membuka wujudnya terhadap seluruh wujud yang ada, karena insan yang hidup bersama Allah dalam cakrawala makrifat maka dia adalah seorang manusia yang hidup penuh inspirasi dalam setiap fikirannya, kalbunya dan setiap gerak geriknya dalam kehidupan.

Maka manusia yang mengenal Allah swt akan membuka dirinya terhadap manusia yang lain, yang setiap kali berbeda dengan manusia yang lain dalam beberapa perkara yang tampak dalam hubungannya tentang Allah atau berkenaan dengan berbagai macam pemikiran maka manusia tersebut bersama dengan manusia-manusia itu yang menginginkan kebebasan, memberikan satu kreasi, mendalami, tumbuh dan menjadikan kebenaran itu sebagai hakikat pada akhir perjalanannya.

Sesungguhnya manusia yang hidup bersama Allah dalam akal pikirannya, kecintaan dalam kalbunya dan gerakan dalam hidupnya adalah Manusia yang tidak mencoba ‘memenjarakan’ Allah dalam ke-egoisannya dan ke-akuannya akan tetapi dia hidup bersama Allah dalam menghadapi problematika, maka sepatutnya manusia itu membuka seluruh kehidupnya. Dan prolematika yang sering dihadapi oleh manusia yang hidup dalam penjara diri mereka sendiri atau penjara kelompoknya atau partainya atau kefanatikan lainnya, mereka adalah manusia yang belum mengenal Allah, sekalipun mereka meneriakkan nama-Nya ribuan kali.

Untuk itu jika manusia membuka diri kepada Allah berarti ia membuka diri kepada seluruh manusia, mencermati manusia dalam seluruh dimensi dan sisinya. Bagaimana keterbelakangan itu mengubah akal pikirannya sehingga menutup seluruh nuraninya dan bagaimana fanatisme itu bergerak sehingga memisahkan dirinya dari orang lain, dari realitas kehidupannya dan akhirnya memisahkan dirinya dari Allah.

Begitulah kami melihatnya ketika beliau (Imam Khomeini) seorang arif yang membuka dirinya kepada Allah dan membuka dirinya terhadap kehidupan dan manusia maka dialah seorang faqih. Seorang faqih yang fikihnya hidup dan dapat diterima dalam kehidupan manusia seluruhnya. Dia tidak hidup dengan manusia dan memandang mereka secara parsial tetapi beliau justru menangani problematika manusia dari satu bagian ke bagian yang lain, dalam setiap isu dan rasa sakit dalam nurani mereka.

Begitulah fikihnya berlanjut hingga beliau menyerang rezim yang pada hakekatnya yang beliau lakukan itu bahkan membenahi manusia seluruhnya. Dia tidak ingin fikihnya ambruk dan jatuh kedalam lingkaran yang sempit tetapi ia ingin fikih itu hidup bersama manusia dan untuk manusia. Sebagaimana beliau selalu berbicara bahwa agama diciptakan untuk melayani manusia dan bukan sebaliknya, manusia yang melayani agama. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Quran: "Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu..” (Q.S Al- Anfal : 24).

Begitulah wahai saudara-saudaraku tercinta, kepribadian seorang bijak hidup bersama kepribadian seorang fakih dan kemudian menjadi sebuah gerakan revolusi. Kemudian menjadikan manusia dalam cakrawala Allah dan ini adalah rahasia dari revolusinya. Ketika berfikir tentang manusia beliau menggali seluruh problem manusia itu, beliau menjadikan dirinya, akalnya, hatinya dan jiwanya sebagai tolak ukur dalam menyelesaikan masalah manusia. Begitu juga beliau melihat pihak yang ingin menempatkan kemanusiaan dengan segala macam fasilitas melalui arogansi yang hidup dengan pribadi yang keras, arogansi yang menguasai manusia, beliau berfikir bahwa mereka menggunakan dalih kelalaian manusia dalam unsur-unsur kekuatannya dan pergerakan eksistensinya.

Dan beliau melihat disana ada banyak firaun yang mengajukan dirinya untuk menjadi tuhan untuk manusia. Dan beliau melihat banyak manusia menjadi penyembah-penyembah berhala dirinya sendiri, untuk itu beliau berkata; “Sesungguhnya seluruh kekuatan itu hanya milik Allah semata...”, “.. Dan kemuliaan itu hanya milik Allah..” dan beliau selalu berkata kepada manusia, “Kalian memiliki unsur kemanusiaan, maka usahakanlah unsur itu untuk menjadi sebuah kekuatan dan kalian juga memiliki unsur kekuatan dari sekeliling kalian maka usahakanlah itupun ikut tumbuh bersama kalian, sedangkan para penguasa zalim menyimpan banyak kelemahan dalam dirinya dan sekitarnya dan janganlah kalian sekali-kali melupakan hal itu, cermatilah dengan unsur kekuatan kalian.

Jika kalian ingin menjadi orang yang realistis sebagaimana yang terjadi pada banyak manusia sesuai dengan mimpi-mimpinya, agar manusia itu tidak menjadi idealis dan melayang diatas dalam berbicara mengenai kekalahan dan kemenangan, atau dalam masalah perang dan damai, atau berkenaan dengan politik dsb”.

Dan Imam Khomeini adalah seorang yang realistis – dalam makna yang paling dalam, akan tetapi beliau tidak memandang bahwa realistis itu berarti pasrah terhadap realita itu sendiri bukan juga tunduk terhadap identitas dari realita, akan tetapi realistis itu adalah merubah realita dengan perangkat realita itu sendiri, mencari potensi kekuatan dalam realita dan menggunakannya, karena mereka (mustakbirin) tidak dilahirkan dengan kekuatan tetapi mereka justru mengambil kekuatan itu dari realita mereka dan kemudian mereka menjadi orang yang memiliki kekuatan. Lalu mengapa kalian tidak menjadi orang-orang kuat?”

Untuk itu seluruh kegelisahannya diawal revolusi atau sebelum memperoleh kemenangan itu atau setelah kemenangan, beliau mengosongkan pikiran manusia, hati, gerakan dan perasaan dari rasa takut menghadapi penguasa zalim atau perasaan itu yang tumbuh dalam jiwa mereka. Untuk itu beliau berkata kepada manusia, “Tataplah’ Allah dan tataplah mereka (mustakbirin)! dan perbandingkanlah antara keduanya, antara kekuatan Allah dan kekuatan mereka. Jika kalian mendapatkan keseimbangan atau kesamaan dalam beberapa hal maka berarti kalian harus mempelajari permasalahannya hingga tuntas (hingga tidak ada yang dapat dibandingkan dengan-Nya) dan jangan kalian hanya berhenti pada awalnya karena setiap persoalan jika kalian mempelajarinya maka akhirnya dapat diselesaikan dengan mempelajari fakta-fakta yang ada.

Begitulah, mungkin banyak manusia mentertawakan, dan saya mendengar dari kelompok ini, ketika beliau mengatakan; “Tidak barat dan tidak timur!”. Yang beliau maksud timur adalah Uni Soviet dan barat adalah Amerika dan Eropa, maka banyak orang mentertawakannya, “Apa kekuatan orang tua ini ketika berdiri dan mengatakan tidak barat dan tidak timur?” Karena tidak barat dan tidak timur dianggap sebagai sesuatu kesombongan pada saat itu.

Beliau berkata, “Problem timur adalah dimana mereka takut akan masa depan dan pertumbuhan ekonominya terhadap dunia barat, takut akan keamanan dan politiknya.”

Di situ beliau mampu menghidupkan insaniah manusia hingga menjadikan sebuah slogan, menjadi sebuah gerakan, dan sebaliknya, tidak menjadikan gerakan hanya menjadi sebuah slogan. Beliaupun tidak menjadikan slogan hanya sebuah komoditi tetapi justru menjadikan slogan tersebut menjadi sebuah kalimat yang memerankan keinginan manusia dalam menyusun kekuatan menghadapi kezaliman.

Sumber: Ahlulbayt Times

 

Thu, 31 Jul 2014 @14:56

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved