Rubrik
Terbaru
PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed
AUDIO MISYKAT

TATA CARA WUDHU

TATA CARA SHALAT

TATA CARA TAYAMUM

MEDSOS ISLAM

WhatsApp: 0812-2391-4000

Fanpage: Komunitas Misykat

Twitter: Sekolah Islam Ilmiah

BERBAGI BUKU ISLAM

MISYKAT akan memberikan buku-buku ISLAM secara gratis. Silakan tulis nama, alamat lengkap, dan WhatsApp (aktif) pada KONTAK

BAHAN BACAAN

Sosok Ideal Wanita Muslimah [KH Jalaluddin Rakhmat]

image

Untuk apa perempuan diciptakan ?

Sebagian orang beranggapan, perempuan dicipta hanya untuk menyenangkan laki-laki, karena mereka memandang dari sudut berbagai tempat hiburan, seperti perempuan-perempuan “dijual” untuk memuaskan selera laki-laki. Sehingga sampai ada berpikiran “kita perlukan gundik untuk memuaskan kesenangan kita, dan istri untuk melahirkan keturunan kita.” Tak ada gundik atau istri yang laki-laki.

Tidak ada satu masyarakat pun yang perempuannya dominan. Bila Ratunya perempuan, orang-orang penting disekitarnya –bahkan kadang-kadang yang mengendalikan di belakang− ada laki-laki. Karena itu, norma, etika, hukum, bahkan aturan alokasi kekayaan dibuat untuk memenangkan laki-laki. Wanita yang berani menyatakan cintanya lebih dahulu disebut agresif, laki-laki tidak. Istri yang menyeleweng menjadi gunjingan sekampung, laki-laki yang “jajan” dianggap normal.

Bila wanita secara sukarela menyerahkan dirinya kepada laki-laki, kecelakaan yang terjadi seringkali menjadi tanggung jawab wanita seorang. Bila bayi yang merupakan hasil berdua –lahir, yang merasakan sakit hanya ibu. Bila suami istri hanya diberi kesempatan mempunyai anak satu orang saja, besar kemungkinan mereka memilih anak laki-laki, perempuan selalu nomor dua.

Pada zaman Jahiliyyah, pembunuhan anak perempuan disebut wa’dul banat; pada zaman modern kita menyebutnya abortus provocatus (karena penelitian menunjukkan bahwa anak-anak perempuan lebih cenderung digugurkan dari pada anak laki-laki).

Kantor Menteri Negara urusan Peranan Wanita didirikan, tetapi nasib TKW (Tenaga Kerja Wanita) dan buruh-buruh pabrik baru Insya Allah akan diperjuangkan. Seringkali berita TV & media surat kabar memberitakan kejadian peristiwa bayi merah yang ditinggalkan ibunya.

Ibunya ditangkap, ia menangis dan menceritakan deritanya. Ia telah lama menyembunyikan kandungannya (hasil dari hubungan sah dengan suami yang menelantarkannya), agar ia tetap diterima bekerja di pabrik. Ia bertahan untuk tidak memperlihatkan beratnya kandungan. Bahkan ia tidak menangis ketika anaknya lahir. Ia kuatir tetangganya akan membawanya ke rumah sakit dan ia tidak tahu dari mana ia harus membayar perawatan. Ia tinggalkan bayi merah yang ia sayangi. Hanya karena ia ingin mempertahankan hidupnya. Mungkin, masih dengan darah yang memercik dibalik pakaiannya, ia meneruskan pekerjaannya di pabrik.

Ia berhasil tetap hidup, padahal banyak orang seperti wanita itu mati karena melahirkan. Setiap tahun ada setengah juta ibu meninggal ketika melahirkan; Sembilan puluh Sembilan persen kematian ibu ini terjadi pada bangsa-bangsa yang miskin.

Di Indonesia, sekitar 800 sampai 1009 orang ibu mati dari 100.000 ibu yang melahirkan. Secara nasional 450 orang ibu yang melahirkan. Secara nasional 450 orang ibu mati diantara 100.000 persalinan hidup di Indonesia, (bandingkan dengan Malaysia, 59; Sri Langka, 60; Thailand, 50). Setiap tahun, ribuan ibu Indonesia mati karena melahirkan, tetapi tidak ada hari berkabung nasional.

Kita tidak mempunyai Menteri Peranan Laki-laki, tetapi jika ada 450 orang saja laki-laki, meninggal ketika bertugas, Negara akan berduka cita. Dunia kita memang dunia kaum laki-laki. Ketika Nabi yang mulia ditanya siapa manusia yang paling layak memperoleh pengkhidmatan (pelayanan) kita. Nabi menyebut ibu sampai tiga kali. Baru setelah itu bapak disebut. Tetapi itu dunia dalam persepsi Nabi, bukan dunia yang kita huni sekarang.

Setiap tahun kita memperingati hari ibu, tetapi pelayanan  kesehatan dan kesejahteraan ibu tidak pernah mendapatkan prioritas. Dengan demikian sungguh mengenaskan dan nyata benar kaum wanita yang penuh menjadi korban.

Sering terjadi suami mengumumkan perceraiannya dengan istrinya untuk menikahi tetangganya ataupun sekretariatnya ataupun teman dekat istrinya. Istri yang diceraikannya memberi komentar, ini mestilah masyarakat ataupun sanak keluarga ataupun para famili yang merasa sakit, kalau orang dibiarkan merampas suami orang lain.

Suami kecewa, jengkel dan frustasi menghadapi ulah masyarakat ataupun sanak keluarga ataupun para famili yang merasa sakit dan tersinggung. Amat mengherankan suami berbuat seperti itu.

Bukankah sudah lama pergaulan bebas dinikmati oleh perempuan-perempuan masa kini? Bukankah mereka telah mencapai puncak emansipasi? Yang menyakitkan istri yang dicerai, mungkin bukan kebiasaan suaminya untuk tidur dengan siapa saja yang ia inginkan, tetapi karena ia harus kehilangan suaminya.

Sebaliknya, sekretaris atau tetangga atau teman baik istri itu bangga karena ia bukan saja mendapat pekerjaan yang baik tetapi juga berhasil memperoleh suami yang terhormat dan tampan serta berwibawa. Tidak jadi soal bagaimana perasaan mantan istrinya terdahulu. Masyarakat bebas adalah masyarakat yang kompetitif (penuh persaingan), baik dan buruk diukur dari kemenangan dalam kompetisi. Yang menang artinya yang berkualitas lebih tinggi, yang berhasil menaklukkan pasar. Dalam masyarakat liberal berlaku prinsip yang terkuatlah yang dapat bertahan hidup.

KH Jalaluddin Rakhmat adalah Ketua Dewan Syura IJABI


Mon, 11 Aug 2014 @19:33

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved