Negative Theology, Via Negativa, Bila Kayfa, Tanzih dan Tasybih

image

Setelah melihat komentar-komentar pendek dari postingan saya terakhir "mengapa tuhan tidak bisa kita kenal?" saya menyimpulkan adanya salah paham terhadapnya. Seperti ungkapan "kalau begitu Tuhan hanyalah sebuah ilusi." Dengan demikian saya ingin menjelaskan beberapa konsep penting di atas.

Negative Theology. Sepintas istilah ini seperti ingin menolak teologi atau menolak Tuhan itu sendiri. Tapi sebenarnya bukan itu yang dimaksud. Istilah ini dipakai untuk menjelaskan bahwa Tuhan tidak bisa dinyatakan secara positif, seperti Tuhah seperti ini atau seperti itu.

Tapi bisa diperikan dengan cara menyelipkan kata "tidak" atau "bukan", seperti pernyatan Tuhan TIDAK seperti apa pun, "TIDAK ada sesuatu apa pun yang setara dengan-Nya. Dalam al-Qur'an kita temukan ungkapan seperti itu, misalnya: ليس كمثله شيئ ataupun ولم يكن له كفوا احد . Atau dalam Taoisme kita mendapatkan ungkapan seperti "tao adalah bahwa kalau ada orang mengatakan inilah Tao, maka ia BUKAN-lah Tao.

Via Negativa. Istilah lain yang terhubung dengan Negative theology, adalah Via Negativa. Istilah latin ini merujuk pada cara Negatif dalam mendeskripsikan Tuhan. Tuhan bukan ini atau itu. Jadi hampir sama dengan istilah Negative theology.

Bila Kayfa. Dalam teologi Islam, terutama Asy'ariyyah, ada istilah "Bila kayfa," artinya tanpa tahu bagaimana. Ini juga sebenarnya hampir sama dengan via negativa. Istilah ini digunakan ketika mereka ingin menjelaskan, misalnya tentang sifat Allah. Mereka mengatakan, ketika Tuhan digambarkan al-Qur'an duduk di Arasy, maka menurut mereka memanglah Ia duduk di atas Arasy tanpa bertanya bagaimna duduknya. Tuhan punya wajah dan tangan seperti yang dinyatakan dalam al-Qur'an, TANPA harus bertanya dan tahu bagaimana wajah dan tangan-Nya itu. Ini dilakukan karena Allah memang berbeda dengan apa pun, karena dia itu unik (ahad)' satu-satunya, tiada bandingan, tiada taranya.

Tanzih. Tanzih merujuk pada transendensi Tuhan, di mana Tuhan digambarkan sebagai mengatasi, berada di luar, jangkauan manusia untuk memahaminya. Al-Qur'an merujuk pada fakta ini dalam ungkapan سبحان الله عما يصفون artinya maha suci Allah ( artinya terlepas, mengatasi) dari apa yang mereka deskripsikan.

Dengan ini al-Qur'an ingin menjelaskan bahwa apa pun yang manusia perikan atau deskripsikan tentang Allah, Allah mengatasi/mentransenden semua pemerian atau deskripsi tersebut. Istilah ini biasanya digunakan oleh para sufi untuk menggambarkan zat Allah yang tidak sama dengan benda apa pun atau dengan konsep apa pun dari manusia.

Meski begitu, ketidak-mampuan manusia untuk mengetahui zat Allah, sama sekali tidak sama dengan penolakan terhadap keberadaan-Nya atau disamakan dengan ilusi.

Katidakmampuan manusia menunjukkan betapa tingginya Dia. Karena kita pun tahu bahwa kita tidak bisa melihat ultra-violet atau infra merah, sinar x, sinar gamma dan lainnya. Tapi kita pun tahu bahwa itu sama sekali tidak berarti bahwa mereka tidak ada. Mereka ada, tetapi mata kita tidak bisa menangkapnya. Dan kita sebagai orang beriman tidak boleh menolak yang ghaib hanya karena kita tidak bisa melihatnya.

Janganlah kita seperti kodok yang sejak lahir tercebur ke sumur yang dalam, dan mengatakan kepada kodok yang lain yang kebetulan jatuh ke sumur tersebut bahwa di atas sana tidak ada sesuatu apa pun yang tidak bisa dia lihat, misalnya tidak ada rumah, pohon, sungai maupun gunung. Dan sekali pun kodok yang diajak bicara mencoba meyakinkannya bahwa di atas sana banyak hal yang menarik, ia akan tetap menolaknya. Tetapi kita pun tahu bahwa penolakan kodok terhadap rumah, sungai, pohon yang tidak pernah ia lihat, tidak akan berarti bahwa mereka itu benar-benar tidak ada. Jangan karena kita tidak tahu, lalu mengakatan tidak ada.

Tasybih. Istilah terakhir yang ingin saya jelaskan adalah Tasybih. Istilah ini juga digunakan oleh para sufi, khususnya Ibn 'Arabi untuk menjelaskan kemungkinan manusia untuk mengetahui Tuhan secra lebih positif, tentunya tidak melalui zat-Nya tapi melalui sifat atau asma-Nya. Kalau tanzih menekankan segi keperbedaan kita dengan Tuhan, tasybih menekankan segi 'persamaan" manusia dengan-Nya dari aspek sifat-sifat-Nya.misalnya sifat mengetahui (alim), hidup (hayy) berkuasa (qadir) dan lainnya, sampai taraf tertentu berbagi dengan manusia.

Nah, persamaan inilah yang menyebabkan kita mengerti apa itu tahu, apa itu hidup dan apa itu kuasa, justru karena kita memiliki kesamaan tersbut. Dan kalau ketikamampuan kita mengenal zat Allah adalah karena ketidaksamaan kita denga-Nya, maka kesamaan yang ada antara manusia dan Tuhan menyebabkan pengetahuan kita tentang sifat-sifat-Nya secara positif.

Alam adalah cermin dari sifat-sifat Tuhan, dan kita dimungkinkan untuk mengetahui sifat-sifat tertentu dari-Nya melalui cermin tersebut. Misalnya Tuhan maha besar, dan kebesarannya bisa dilihat dan dimengerti dari besar dan luasnya alam semesta yang Dia ciptakan. Sebab kita akan mengatakan kalau ciptaannya saja sebegitu besarnya, maka pastilah pencipta-Nya akan jauh lebih besar darinya, tidak terbayang bahwa ciptaan akan "lebih besar" daripada Penciptanya, atau bahwa pencpta alam akan "lebih kecil" dari ciptaan-Nya.

Prof Mulaydhi Kartanegara adalah pakar filsafat Islam dan penulis buku-buku filsafat Islam  

Fri, 5 Sep 2014 @09:29

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved