CERAMAH DAN KAJIAN ISLAM

TATA CARA WUDHU

TATA CARA SHALAT

TATA CARA TAYAMUM

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK: Komunitas Misykat

BAHAN BACAAN

Emosi, Inspirasi, dan Kreativitas [Prof Mulyadhi Kartanegara]

image

SIANG ini saya ngobrol-ngobrol dengan mahasiswa saya dari Singapura tentang hubungan emosi, inspirasi dan kreativitas. Emosi biasanya selalu dipandang secara negatif, padahal menurut saya emosi adalah daya hidup yang sebenarnya. Boleh dikata tanpa emosi seorang manusia telah mati, sekali pun ia masih bernafas. Pertanyaannya adalah apa dan bagaimana sebenarnya hubungan antara emosi dan inspirasi?

Sebagai dosen saya sering mendengar mahasiswa mengeluh dan berkata lirih karena sulitnya mencari inspirasi untuk menulis tugas akademiknya. Inspirasi tidak akan datnag kalau emosi kita tidak terketuk. Sekali emosi kita terketuk, misalnya oleh hinaan, kekecewaan, kemarahan atau oleh asmara, maka tiba-tiba kita menemukan jiwa kita penuh dengan inspirasi dan kata-kata. Mereka yang sedang jatuh cinta, sangat merindukan kekasihnya tiba-tiba dirinya dipenuhi dengan kata-kata.

Maka mulailah ia menulis puisi cinta yang indah. Seribu kata pun berhamburan dalam puisinya. Tapi tetap saja ia merasa belum cukup untuk menyakatan kerinduannya yang mendalam. Inspirasi begitu deras mengaalir ke dalam jiwanya.

Pertanyaan berikutnya adalah apa hubungan emosi dan kreativitas? Emosi lagi-lagi menujukkan kekuatannya dalam hidup kita. Hinaan yang kita terima, kekecewaan yang kita alami, kalau kita bisa mengolahnya ternyata ia bisa menjadi sumber motivasi dan kreativitas. Kalau boleh saya akan memberikan contoh dengan apa yang terjadi pada diri saya sendiri.

Sebagai pribadi, saya telah banyak mengalami kekecewaan, penghinaan dan juga dendam dalam hidup saya. Pada 1977 saya masuk IAIN, dan terus terang pada saat itu IAIN sangat dipinggirkan dan dipandang sebelah mata.

Masayarakat pada umumnya memandang IAIN sebagai sekolah sisa karena yang masuk ke IAIN adalah mereka yang tidak diterima di universitas-universitas unggulan seperti UI, ITB, Gajah Mada, IPB dan lainnya. Bahkan, sebagian mahasiwanya merasa malu menyebutkan bahwa mereka adalah mahasiswa IAIN.

Pada saat itu sayapun tidak bisa berbuat apa-apa dan tidak bisa membuktikan apa untuk membela pandnagan negatif tersebut. Tetapi dalam batin hinaan tersebut telah berubah menjadi dendam yang begitu menghunjam telah menciptakan tekad kuat tersembunyi di dalam hati untuk membuktikan bahwa anggapan negatif itu tidak benar.

Saya ingin membuktikan bahwa mahasiswa IAIN tidak selalu menjadi mahasiswa nomor bontot. Saya ingin membuktikan bahwa mahasiswa IAIN pun bisa menjadi sarjana terkemuka yang bisa berdiri sejajar dengan mahasiswa universita-universitas unggulan di atas. Dari sini timbullah tekad yang kuat untuk bersaing dengan mereka, bahkan kalau bisa mengungguli mereka. 

Sejak itu saya selalu bertanya dalam dalam hati, apa sih kekuatan mereka yang belajar di universitas-universitas unggulan. Jawabannya tentu saja pada bidang pengetahuan umum, seperti psikologi, sosiologi, antropologi, politik, ekonomi dan lainnya. Pertanyaannya setelah itu adalah tidak mungkinkah seorang mahasiswa IAIN menguasai bidang-bidang itu?

Jawaban saya saat itu, kenapa tidak? Yang penting di sini adalah kemauan untuk membaca dan terus belajar. Saya merasa yakin bahwa di manapun kita belajar, dan betapapun bagus dan lengkapnya fasilitas yang disediakan oleh universitas, kalau mahasiswanya malas, tak mau baca, tak mau belajar, maka semua fasilitas itu akan sia-sia. Sebaliknya, sekalipun fasilitas yang disediakan universitas kita sangat berkurangan, kalau kita mau membaca, belajar dan terus memburu ilmu maka siapa pun akan bisa meraih sukses seperti yang ia inginkan. 

Dengan perinsip-perinsip seperti ini dan ditambah dengan “dendam” yang mendalam untuk membuktikan kesalahan pandangan orang-orang, maka mulailah saya menyusun rencana dan strategi. Berhubung buku-buku yang bemutu di bidang-bidang yang saya sebutkan belum lagi banyak diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia di awal tahun 80an, maka saya usahakan untuk membacanya dalam bahasa Inggris.

Kebetulan waktu itu saya mendapat beasiswa bulanan dari BAZIS DKI, sebanyak Rp15.000, maka segera setelah saya mendapatkannya saya pergi ke pasar senin untuik membeli buku-buku loakan dalam bidang filsafat, psikoilogi, sosilogi, antropologi, perbandingan agama dan lain-lain. Mulailah saya, misalnya, berkenalan dengan bku-buku Sigmund Freud dalam bahasa Inggris untuk mendalami pengetahuan psikologi saya.

Satu persatu bukunya saya dapatkan, the Foundation of Psychoanalysis, Id, Ego Super Ego, the Interpretation of Dream, Culture and Its Discontent, Moses and Monotheism, the Future of an Illusion dsb. Seiring dengan itu bahasa Inggris saya beranggsur baik dan bertambah kuat, sekalipun saya tidak pernah mengambil kursus.

Dengan cara itulah saya membangun impian saya tanpa seorang pun tahu apa yang berkecamuk dalam diri saya untuk menjadi sarjana yang mampu mengimbangi rakan-rekan mahasiswa dari universitas unggulan seperti UI, UGM, ITB dan IPB. Seiring berjalannya waktu, tentu saja saya tidak akan pernah berhasil menjadi mahasiswa UI atai UGM, tetapi tanpa dibayangkan sebelumnya justru menjadi dosen di universitas-universitas unggulan, khususnya UI dan UGM dan menjadi nara sumber di ITB maupun IPB. 

Ini saya ceriterakan semata-mata sebagai bukti yang nyata dari betapa rasa terhina, kecewa, sakit hati dan macam-macam perasaan negative kalau dikelola dan dikendalikan justeru bisa menjadi daya dorong yang luar biasa bagi pembanguan sebuah cita-cita yang mulia.
Berikut ini saya angin memberikan contoh yang lebih jelas lagi tentang hubungan antara emosi dan kreativitas.

Hingga saat ini saya telah menulis lebih dari 20 buku di bidang filsafat sains dan tasawuf. Meskipun begitu tak begitu banyak yang tahu apa yang telah mendorong saya untuk menulis buku-buku tersebut. Berikut sedikit bocorannya.

Pernah suatu saat di awal tahun 80an, saya begitu tertarik kepada filsafat, bermula dari filsafat Islam dan semakin terseret ke filsafat Barat yang sekuler atau ateistik. Hancurlah semua bangunan rapuh agama yang saya bina dari kampung halaman. Bahkan terus terang sayapun pernah mengalami krisis kepercayaan kepada ketuhanan. Tetapi setelah saya diselamatkan oleh tasawuf, terutama tasawuf Jalaluddin Rumi, dari ambang kehancuran akidah, barulah saya menyadari betapa bahayanya filsafat dan ideologi sekuler yang dipelajari dari filsafat barat pada saat itu, apalagi tanpa bimbingan yang benar.

Ketika kesadaran agama saya pulih dan mulai tumbuh perasaan cinta yang mendalam, maka sayapun merasa tersakiti oleh kritik-kritik yang dilancarkan filsafat Barat sekuler yang sempat menjadi buah hati saya pada masa-masa “jahiliyyah” saya.

Tapi lagi-lagi dari rasa sakit hati yang tumbuh karena kecintaan saya pada Islam, di mana kini Islam dalam keadaan diserang, maka mulailah timbul keinginan yang kuat untuk membela Islam dari serangan-serangan gencar filsafat sekuler barat. Tapi berbeda dengan banyak orang yang membelanya secara emosional, dogmatik dan apologetik, pembelaan saya kepada Islam saya lakukan secara rasional, logik dan filosofis.

Rasa sakit hati saya mampu saya kendalikan secara proporsional dan sistematik. Dimulai dengan kriktik saya kepada kritik yang dilancarkan filsafat dan sains Barat, dalam buku saya Menembus Batas Waktu, terutama bab ke 13, dilanjutkan pada penguatan epistemologis terhadap pilar-pilar agama, dalam buku Menyibak Tirai Kejahilan, dan pembangunan intelektual yang dibangun atas nilai-nilai keagamaa dalam buku Gerbang Kearifan, dan penguatan tradisi ilmiah, dalam buku Reaktualisasi Tradisi Ilmiah Islam serta bangunan kokoh spiritualitas Islam dalam buku Menyelami Lubuk tasawuf.

Di samping itu jawaban terhadap tantangan kontemporer saya juga berikan dalam buku Mengislamkan Nalar dan banyak lagi tulisan lain yang semuanya sebenarnya bermuara pada emosi, berupa kecintaan saya pada agama Islam.

Ini semua sekali lagi membuktikan betapa emosi, seperti kecintaan kita pada agama dan rasa sakit akibat penodaan intelektual oleh filsafat dan ideologi luar yang hendak merusakkan bangunan keagamaan, telah terbukti bisa menjadi sumber inspirasi dan kreativitas seseorang, kalau saja kita bisa mengolah tenaga emosi yang kadang begitu dahsyat itu lalu menyalurkannya ke arah yang benar berdasarkan cinta kita yang tulus pada agama dan Tuhan yang menurunkannya buat manusia. Sekian. Semoga bermanfaat. 

Prof Mulyadhi Kartanegara adalah pakar Filsafat Islam


 

Sat, 28 Oct 2017 @17:38

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved