Minat beli buku klik covernya
image

 

AUDIO KAJIAN ISLAM

KATALOG Kajian Islam
image

.

TATA CARA SHALAT

Pustaka (Buku PDF Gratis)
image

 

Antara Marah dan Setan [by Mulyadhi Kartanegara]

image

AL-GHAZALI pernah berkata bahwa hati manusia itu ibarat benteng yang tangguh, namun setiap benteng ada celah-celah (jendela) di mana setan bisa masuk. Salah satu celah (jendela) besar itu adalah marah dan sejenisnya, termasuk dendam dan benci.

Kalau manusia sudah dihinggapi pengakit marah dan benci, syetan sangat senang, sebab jangankan seorang awam, seorang alimpun akan mudah ia perdaya. Orang yang marahpun akan cepat sekali kehilangan akal sehatnya, lalu akan bertindak zalim kepada banyak orang tanpa ia sadari.

Sarjana atau negarawan yang sangat terhormat dan kita kenal selama ini integritasnya sekalipun akan sangat mudah terjebak pada perbuatan zalim. Setan akan selalu mencarikan dalil sebagai pembenaran terhadap tindakannya. Kapan kita menyadari kesalahannya?

Selama dendam belum terpuaskan selama itu juga kita tidak akan menyadari kesalahan kita, Setelah semua dendam terpuaskan, barulah kita menyadari kesalahan tersebut, tetapi seringkali sudah terlambat bahkan untuk menyesal, nasi sudah menjadi bubur. Anak ingusan yang masih polos sudah terkapar tak bernyawa di hadapan kita akibat pukulan yang didasarkan pada emosi yang tak tertahan dan terkontrol.

Barulah kita menyadari betapa perlakuan kita kepadanya atau siapapaun yang kita zalimi adalah sebuah kesalahan besar, bahkan kesalahan yang fatal terhadap banyak orang.

Sesungguhnya marah adalah penyakit jiwa yang akut, hanya karena kita sudah terbiasa marah dan tidak wujud secara kasat mata maka kita bisa bertahanh terhadapnya. Marah adalah beban mental yang sangat berat untuk ditanggung oleh jiwa kita. Kalau kita ibaratkan dengan barang, maka sesungguhnya marah itu seperti beberapa kintal beras yang kita pikul di pundak kita. Itulah sebabnya mengapa orang marah itu terlihat stres, kan stress artinya tertekan.

Ya, ia stres karena tertekan oleh beban marah tadi. Nafas tersengal, mata merah dan darahpun naik sampai ubun-ubun. Itu hikmahnya hadis yang menganjurkan kita untuk membatasi marah hanya 3 hari saja, karenakalau lebih dari itu ia akan sangat merusak jiwa kita. Bayangkan kita memikul lima kintal beras di pundak kita selama lima hari tanpa jeda, tentu akan meremukkan tubuh kita.

Demikian juga halnya dengan marah sebagai beban mental kita, sekalipun tak terlihat bukan berarti tak berat. Seperti tubuh, mental kitapun punya batas kapasitasnya.. apabila beban mental melebihi daya tampung, maka jiwa atau mental kitapun akan remuk seperti remuknya tubuh kita.

Anjuran agama untuk tidak marah melebihi tiga hari dan supaya kita bersabar atas apa yang terjadi, dan sudi kiranya untuk bersabar dan berbesar hati dan berusaha memberi maaf pada orang yang bersalah yang menyakiti kita, bagi saya adalah sebuah mekanisme yang begitu indah yang ditawarkan agama untuk melepas segala beban mental yang bisa sangat merusak jiwa kita. Semoga bermanfaat. ***

 Mulyadhi Kartanegara, pakar filsafat Islam


Sun, 18 Oct 2020 @15:23

Copyright © 2020 Misykat · All Rights Reserved