Rubrik
Terbaru
Media Kajian

Fanpage Facebook MISYKAT

YouTube Channel Misykat TV 

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Tafsir Surah Al-Kautsar: Islam Pembela Orang Lemah (3) [by Dr KH Jalaluddin Rakhmat]

image

Dalam Al-Quran, yang dimaksud dhuafa bukan saja lemah dalam arti materi, tapi juga ilmu. Tapi, titik beratnya adalah dhu‘afa dari segi materi. Orang yang lemah dari sisi kekayaan, biasanya lemah juga dari sisi ilmu pengetahuan, kehidupan politik, dan kehidupan sosial. Dhuafa adalah kelompok lemah, orang-orang kecil. Al-Quran memiliki istilah lain, mustadh‘afîn, yakni orang-orang yang ditindas, dilemahkan.

Kalau Karl Marx berkenalan dengan Islam yang diajarkan oleh Rasulullah Saw, boleh jadi ia akan masuk Islam. Sebab, sebenarnya yang mendorong Marx untuk merumuskan Marxisme itu adalah rasa keprihatinannya terhadap penderitaan kelompok proletar akibat revolusi industri. Ketika saya membaca Das Kapital, karya Karl Marx, di situ dengan penuh emosi Marx menguraikan betapa menderitanya bangsa-bangsa yang terjajah akibat kapitalisme.

Sayang, waktu itu ia mengenal agama Kristen, yang justru mengajarkan orang-orang tertindas itu bukan untuk melawan melainkan mengajarkan bahwa, “Apabila pipi kirimu ditampar, maka berilah pipi kananmu. Apabila bajumu dirampas, maka berilah jubahmu. Apabila kamu disuruh lari satu mil, larilah dua mil.”

Itu khutbah Yesus kepada para pengikutnya. Kata Marx, itu khutbah orang-orang yang tertindas, sehingga mereka tidak mau melawan. Itulah sebabnya Marx menyebut agama sebagai candu rakyat, karena membekukan pemikiran. Andaikan ia mengenal Islam, mungkin pandangannya tentang agama tidak seperti yang ia tulis. Sebab, ada beberapa kesamaan antara Islam dan Marxisme, yaitu: kedua-duanya amat concern, sangat memperhatikan nasib kelompok dhu‘afa.

Keduanya sama-sama berpikir bahwa kaum dhu‘afa tidak boleh diam, melainkan mereka harus merubah sistem kapitalisme. Tetapi, tentu banyak perbedaan yang jauh antara keduanya, antara lain, bila Marxisme menolak agama sama sekali, menganggapnya sebagai candu rakyat, maka Islam justru menganggap agama sebagai motivator paling utama.

Bila Marxisme meniadakan Allah, maka Islam menempatkan Allah di tempat yang paling tinggi. Bila mereka menolak moralitas, sehingga bagi mereka merebut kekuasaan dengan cara apa pun adalah halal, maka Islam tidak demikian.

Karena persamaan yang begitu dekat di atas, maka orang-orang yang sering membela kaum dhu‘afa sering disebut komunis. Seakan-akan hanya komunis saja yang membela orang-orang lemah. Padahal, Islamlah pembela orang-orang dhu‘afa. Tema-tema inilah yang harus kita sebarkan untuk melenyapkan komunisme. Tentu saja, bukan disebarkan dengan kata-kata semata, tetapi dengan tindakan-tindakan yang real.

Kelahiran memang tidak bisa kita pilih. Tidak mungkin kita menggugat mengapa kita lahir sekarang, di zaman yang kata banyak orang sarat kejahatan, penyeleweng-an, korupsi, manipulasi, retorika-dusta, dan sejumlah kemuakan manusiawi yang lain. Tidak mungkin kita menuntut untuk dilahir-kan pada zaman kemakmuran, keemasan, keadilan, serba mudah, atau zaman dan tempat ketika hak-hak asasi dan kehormatan diri begitu dijunjung tinggi, atau lahir di Negara Ideal --seperti kata Plato-- atau Madinah Fadhi-lah --Kota Utama, seperti kata Al-Farabi. Kelahiran jelas tidak bisa ditawar-tawar, seindah dan seburuk apa pun kelahiran itu. Ia adalah keterpaksaan yang harus dijalani, suka atau tidak.

Namun hidup itu sendiri sebenarnya merupakan pilihan. Bahwa lahir tidak bisa diutak-atik atau diminta, itu betul. Tapi bahwa hidup merupakan sebuah proses yang menawarkan kebebasan, juga sebuah kebenaran yang lain. Bahwa kita adalah makhluk organis --begitu kata A.N. Whitehead-- yang bebas menentukan hidup, juga kemestian yang sukar ditolak. Kita memang terpaksa untuk lahir, tapi kita bebas untuk mengisi hidup. Kita bebas menentukan atau merancang jenis hidup apa yang kita inginkan. Kita bebas untuk menjadi orang baik, atau orang jahat. Kita bebas untuk menjadi pejabat yang bersih dan berpihak kepada keadilan, atau pejabat yang korup dan mudah dibeli untuk menjual kekayaan bangsa dengan kamuflase pembangunan.

Tidak ada paksaan untuk masuk surga, juga tidak ada tekanan untuk masuk neraka. Lâ ikrâha fi al­dîn, kata Al-Quran. Silahkan pilih. Toh, hidup ini disediakan memang untuk memilih. Bahkan mengakhiri hidup itu sendiri adalah juga sebuah pilihan. Bila kita ingin segera mati, bergegaslah melakukan tindakan kausalitatif yang menyebabkan kematian, seumpama memotong leher, menembakkan peluru ke jantung, menjatuhkan diri dari ketinggian tertentu ke bumi bebatuan, atau yang lainnya. Jika syarat-syarat kematian itu telah terpenuhi, kita segera mati. Insya Allah. (bersambung)

KH Jalaluddin Rakhmat adalah Ketua Dewan Syura IJABI

Sat, 2 Feb 2019 @08:40

Copyright © 2019 Misykat · All Rights Reserved