BERBAGI BUKU

TULIS nama, alamat & HP/WhatsApp pada KONTAK

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

Twitter Kata Hikmah 

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Nabi Ibrahim as dan Wafatnya (1) [Miftah F. Rakhmat]

image

Alkisah, pernah suatu saat para sahabat memanggil Rasulullah SAW dengan gelaran, “sayyidul anaam” penghulu manusia. Meskipun benar gelar itu untuk beliau, tapi Nabi SAW mengingatkan para sahabat dengan mengatakan bahwa gelar itu milik Ibrahim. Selain itu, gelaran yang diabadikan Al-Quran pada Ibrahim adalah panggilan penuh kedekatan “khlalilullah”. Khalil bisa berarti sahabat. Khalil juga bisa bermakna kekasih. Lihatlah bagaimana terjemahan bahasa Indonesia memilih padanan yang paling tepat untuk itu: “… dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayanganya” (QS. Al-Nisa:125). 

Ibrahim juga dipanggil “ia yang berkhidmat pada tamunya”. Ia tidak pernah menikmati makan siang atau malamnya kecuali ditemani sedikitnya seorang tamu yang diajaknya makan bersama. Terkadang ia memerlukan diri berjalan dua atau tiga kilometer jauhnya untuk menemukan seorang yang ia bawa ke rumahnya. Inilah kedermawanan dan keramahan Ibrahim. Seorang mufasir merujuk QS. Al-Nuur:35 “syajaratin mubarakatin zayytunattin.” Pohon zaitun yang diberkati” pada kebiasaan yang baik dari Ibrahim ini.

Tuhan memang menyayangi orang yang berbagi rezeki dengan sesamanya. Rasulullah Muhammad pernah berkata kepada para sahabatnya: “sungguh, anugerah tuhan begitu cepat datang bagi orang yang senang berbagi makanan, jauh lebih cepat dari sabetan pedang di punuk unta.” Punuk unta berisi lemak saja. Punuk unta hanya berisi cadangan airnya. Bila pedang menebasnya, dengan cepat ia terbelah dua. Dan rezeki tuhan bagi para penebar rezeki, jauh lebih cepat dari kebatan itu.

Ibrahim adalah orang yang sangat senang berbagi. Ia tak ingin merasakan nikmat tuhan itu seorang diri. Karena itu, ketika tuhan menjadikanya imam bagi manusia (QS. Al-Baqarah:124) Ibrahim berkata, “… dan dari keturunan ku…” Ibrahim bermohon agar keturunannya kelak menjadi imam bagi manusia. Dan ayat Al-Quran itu tidak mengisahkan batasan akhir dari keturunan Ibrahim yang menjadi imam itu. Tuhan hanya menjawab dengan berkata:” …janji ku ini tidak mengenal orang yang zalim.” Tuhan mengiyakan, tetapi hanya keturunan Ibrahim yang sama sekali tidak pernah berbuat kezaliman. Dan dosa adalah bentuk kezaliman pada diri sendiri. Mungkinkah imam dari keturunan Ibrahim adalah dia yang tidak berdosa sama sekali ?

Bolehkah kini kita berasumsi bahwa imam dari keturunan Ibrahim itu akan terus ada hingga akhir zaman? Karena Al-Quran memang tidak mengisahkan pembatasan, meski nabi ditutup dengan risalah Rasulullah SAW, nabi akhir zaman. Apakah imam masih ada sepeninggal Rasulullah ? bukankah nabi SAW sendrii telah menubuwatkan keberlangsungan kepemimpinan hingga akhir zaman?(1) Bila memang demikian, siapakah dia? Siapakah nahkoda yang akan melayarkan bahtera keselamatan itu di dunia?(2)

Jawaban atas doa Ibrahim itu dipenuhi Allah ta’ala dengan menjadikan ishaq dan ismail sebagai nabi. Bahkan dari keturunan ishaq, lahir silsilah para nabi ibrahimmiyyah. Masjid al-aqsa menjadi pusat perputaran seluruh nabi itu: Ya’qub, Yusuf, Zaraiyya, Yahya, hingga Isa. Salam Allah ta’ala bagi mereka seluruhnya. Masijid al-Aqsha kiblat kaum muslimin pada silsilah para nabi ibrahimiyyah ini. Dan seilsilah itu berhenti pada Isa yang tak berputra. Pada sayyidah maryam yang “dikeluarkan” dari masjid Al-Aqsha demi untuk melahirkan Isa. 

Konon, di papua beredar cerita. Mereka menisbatkan pergantian kiblat di zaman Rasulullah SAW pada pewarisan silsialah kenabian ini. Bukankah ada saksi masjid Qiblatain di madinah? Masjid dengan dua arah kiblat: masjid Al-Aqsha di palestina, dan masjid Al-Haram di kota makkah.

Menurut cerita orang papua (dan sungguh saya takjub bagaimana ceritanya kisah seperti ini sampai di tanah papua), mahkota kenabian itu diwariskan dari raja Ibrahim (demikian mereka mengelarinya) pada para pangeran dari keturunanya. Terutama dau panggeran utama: ismail dan ishaq.

Meski ismail anak pertama, tapi mahkota itu diserahkan pada ishaq. Turun temurun hingga sampai pada Isa. Karena Isa tak berputra, maka mahkota itu dikembalikan pada silsilah awalnya, yaitu pangeran ismail. Melalui Ismail lah mahkota itu kemudian sampai pada Muhammad Rasulullah SAW. Karena itulah, kiblat berganti arah.

Garis emas kepemimpinan telah diwariskan dari silsilah ibrahimiyyah pada silsilah muhammadiyyah (berhenti pada sayyidah maryam dan dilanjutkan oleh sayyidah Fatimah), pergantian arah kiblat adalah penyerahan simbolis mahkota itu. WAllahu a’lam. Meski perlu ditelusuri lebih jauh, cukuplah bagi kita untuk menjadikanya renungan, seraya selalu mengatakan: dan hanya tuhanlah yang mengetahui kebenaran. Tentu selalu ada hikmah di balik setiap kisah. 

Catatan

(1)   Hadis, “tidak henti-hentinya islam tegak di muka bumi sampai lewat pada mereka dua belas pemimpin (iama, amri, khalifah). Semuanya dari quraisy.” Lihat shahih bukhari, kitab al-Ahkam 4:165’ shahih muslim, kitab al-Imaara, 3:1453, hadis no.10 rujuk juga Al-dzahabi, tadzkirat al-huffazh, 4:298; ibn hajar al-asqany, al-Durar al-Kaminah 1:167. 

(2)   Kaum muslimin mempercayai konsep dan kehadiran imam mahdi sebagai imam akhir zaman. Tetapi kesimpangsiuran tentang siapa sosok imam mahdi telah membawa pada bebagai kekeliruan dan kesalahpahaman. Untuk lebih mengetahui tentang imam mahdi rujuk harun yahya atau fatwa rabithah al-Alam al-Islam, organisasi ualma islam sedunia di Saudi, tertanggal 11 oktober 1976/23 syawal 1396 H. al-Bayan fi akhbar sahib al-zaman, kanji al-syafi’I, Beirut, mukaddimah halaman 76-79 dan pada bagian lampiran.

MIFTAH F.RAKHMAT adalah anggota dewan syura IJABI

 

 

Mon, 5 Sep 2016 @21:09

Copyright © 2019 Misykat · All Rights Reserved