AUDIO KAJIAN ISLAM

BERBAGI BUKU ISLAM

TULIS nama, alamat lengkap & nomor HP/WhatsApp pada KONTAK

TATA CARA SHALAT

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

BAHAN BACAAN
PENGUNJUNG

Flag Counter

Makna Penting Sebuah Penempatan [Mulyadhi Kartanegara]

image

Ada ungkapan yang cukup menarik, "the right person, in the right place and the right time." Dalam kaitannya dengan ungkapan tersebut, saya cukup terkesan oleh Keri Smith, pengarang buku How to be the Explorer of the World, bahwa sesuatu itu akan punya makna dan fungsi yang baik apabila ditempatkan pada tempatnya.

Saya belum sepenuhnya dapat percaya. Tapi mungkin juga ada benarnya. Ambillah contoh, sebuah batu koral yang punya bentuk dan permukaan yang halus akan dipandang sampah saja, kalau tergeletak begitu saja di lantai. Tapi kalau ia ditempatkan di sisi kolam, atau di dalam sebuah aquarium, maka ia akan tampak indah dan berharga. Jadi,penempatan memang penting.

Contoh lain, koran yang mengandung informasi historis yang penting, kalau ia tergeletak begitu saja di halaman rumah kita, maka ia pun akan dipandang sebagai sampah saja, dan tempat yang tepat untuk sampah ya keranjang sampah. Tetapi kalau ia dikliiping dan ditempatkan di tempat khusus di perpustakaan sebagai bahan referensi, maka koran, yang sama dengan yang kita buang, akan menjadi benda yang berharga, dicari bahkan dijadikan rebutan para mahasiswa atau peneliti. Jad jelas penempatan (positioning) sangat penting untuk menurunkan atau meningkatkan nilai sebuah benda.

Nah, kalau benda mati saja, bisa begitu berarti, maka apa lagi manusia, yang dikaruniai akal oleh Penciptanya, pastilah akan lebih bermakna, berfaidah dan berfungsi lagi. Tapi mengapa banyak di antara manusia yang merasa dirinya tidak berharga dan bermanfaat?

Ini mungkin karena anda belum bertempat pada tempat yang seharusnya atau mungkin juga anda belum bisa menempatkan diri di tempat anda berada. Karena itu seni menempatkan diri menjadi penting untuk diketahui dan dipraktekkan. Namun sangat penting diingat, kalau selama ini anda merasa belum mendapat penghargaan yang selayaknya dari lingkungan anda, jangan juga kecil hati. Kadang itu sama sekali tidak berarti bahwa anda tidak berharga.

Sebuah benda berharga, belum tentu dihargai oleh mereka yang belum tahu benda itu dan bagaimana menghargainya, atau anda mengeluarkannya pada tempat dan waktu yang tidak tepat (not in the right place and time).

Ada dua ceritera yang menggambarkan betapa benda yang sudah jelas kebaikan dan manfaatnya, seperti filsafat dan tasawuf bisa diabaikan dan ditinggalkan oleh mereka yang tidak memahaminya.

Dikatakan bahwa di Yunani pada masa lampau, ada seorang filosof yang pandai bernyanyi. Ia ingin sekali agar masyarakat mengetahui filsafat dan manfaatnya bagi mereka, Untuk memancing minat masyarakat, maka sang filsof bernyanyi di dekat sebuah pasar. Tak ayal, orang pun mulai bekerumun terpesona oleh suaranya yang merdu.

Setelah mereka berkumpul, maka sang filosof berhenti menyanyi dan mulai menyampaikan ajaran filsafat dan hikmah-hikmahnya. Ternyata, orang banyak mulai satu-persatu menunggalkannya, dan setelah itu ia berkomentar: "Saya heran dengan orang-orang ini kenapa mereka lebih mencintai nyanyian dari pada hikmah yang saya sampaikan?”

Anda pasti tahu jawabnya. Satu lagi ini soal tasawuf. Bagi banyak orang tasawuf sama sekali tidak bermakna, karena sulitnya bagi mereka untuk mengerti.

Diceriterakan ada seorang mendatangi Shaikh Dzunnun orang Mesir (al-Misri), seraya bertanya, "Ceriterakan dan jelaskan kepada saya apa manfaat dari tasawuf yang shaikh banggakan?”

Dzunnun al-Misri tidak menjawab, tetapi memberikan cincin permatanya kepada orang itu agar orang itu menjajakan cincin permatanya itu dengan harga 150 dirham (uang logam perak).

Sehari dua hari, orang itu mnejajakan sang cincin. Tapi nampaknya tak seorang pun yang berani membelinya dengan harga itu, karena bahkan para ahli batupun bingung dengan identitas permata itu, yang tak pernah mereka lihat sebelumnya.

Pada hari ketiga ia kembali ke Shaikh Dzunnun, dan mengatakan bahwa cincin tersebut tidak laku. Maka tak lama kemudian, Sang Shaikh mengajaknya pergi ke seorang yang betul-betul pakar di bidang permata, dan bertanya berapa harga cincin permata ini sebenarnya.

Setelah tiba, maka ahli tersebut menyakatan bahwa permata di cincin itu bernilai 150.000 dinar (uang logam emas). Ini berarti berlipat ganda jauh harganya dengan yang ditawarkan. Andai kata orang-orang pada tahu, maka dalam sekejap cincin permata yang ditawarlkan 150 dirham akan segera raib. Tapi di tempat, waktu dan orang yang tidak tepat, maka permata itu, tidak dipandang cukup berharga.

Demikianlah ia menjelaskan bagaimana sebanrnya nilai tasawuf dalam pandangan orang yang ahli dan dalam pandangan orang awam. Jadi anda janganlah berkecil hati kalau merasa belum sepatutnya dihargai sesuai dengan kemampan anda. Mungkin anda belum berada di tempat atau posisi yang tepat, atau anda belum bisa meposisikan diri anda dengan tepat di tempat sekarang anda berada. Yang jelas itu sama sekali tidak berarti bahwa anda, yang sebenarnya, tidak berarti sama sekali. Semoga bermanfaat.[]

Mulyadhi Kartanegara adalah pakar filsafat Islam asal Indonesia dan kini tinggal di negara Brunei Darussalam

 

Sat, 13 May 2017 @06:37

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved