Rubrik
Terbaru
BERBAGI BUKU

Bagi yang ingin buku-buku bacaan ISLAM. Silakan tulis nama, alamat lengkap, dan nomor WhatsApp yang aktif pada KONTAK

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Catatan Hati Seorang Cleaning Service: Cerita dari Negeri Antah Berantah [Miftah F. Rakhmat]

image

Aku belajar diam dari orang yang banyak omong. Aku belajar menghargai dari mereka yang memaksakan diri. Aku belajar menghormati, dari mereka yang mencaci. Tapi aku tidak pernah berterima kasih pada guru-guruku itu… Haruskah?

Aku tuliskan di buku harianku, peristiwa hari ini. Seperti hari-hari sebelumnya, kamar mandi, toilet, dan dapur jadi giliran yang kukunjungi kali ini. Sapu, lap pel, aroma pembersih dan sterilisasi. Semua sudah aku kuasai.

Rumah ini harus tetap bersih. Mengkilap kalau bisa. Ini rumah wakil rakyat. Anggota dewan yang terhormat. Mereka datang dari berbagai negeri, memperjuangkan kebaikan hidup kami.

Lihat, mereka datang berduyun-duyun, dengan keluarga dan sanak famili. Senyum bahagia di sana-sini. Sumringah, seolah tak ada duka. Pakaian terbaik: jas necis, batik berbordir. Mereka bersiap untuk hari ini. Ungkap syukur karena telah terpilih. Kegembiraan karena terhindar dari tersisih. Akankah pakaian itu tetap mereka kenakan kembali? Akankah batik bordir itu, menyertai mereka di tengah-tengah para pemilih?

Aku berkhayal. Pekerjaanku hanya cleaning service. Mungkinkah satu saat, aku jadi satu dari mereka? Pin emas di dada. Dan pintu yang selalu terbuka bagi mereka.

Pernah, dua orang di antara mereka bercakap-cakap di kamar kecil. Sambil menyelesaikan 'urusan' mereka.

''Kau tahu…'' kata yang satu, ''aku dapat tugas baru."

''Apa itu?'' Tanya kawannya menyelidik. Aku tahu tak boleh aku menguping. Salah mereka membicarakan itu di 'kantor'ku.

''Aku dapat tugas memencet speaker dan berkata…interupsi, pimpinan…interupsi."

''Apa yang mau kau interupsi?'' Tanya yang satu.

''Tak ada, hanya membuat ramai saja suasana."

"Ada-ada saja…''

''Itu masih belum seberapa. Ada juga yang tugasnya hanya untuk berdiri dan duduk, berdiri dan duduk, acungkan jari dan mematung…begitu. Kalau kau?''

''Sama. Tugasku hanya untuk bicara. Kau tahu, parle' kata orang Perancis. Artinya bicara. Parlemen, ya tugasnya ngomong doang…hahaha!''

Mereka berdua tertawa, menyelesaikan urusannya, melenggang dan lewat di depanku. Tapi aku tak diliriknya. Aku sudah diberitahu bosku, ''Jangan coba-coba bicara sama mereka. Kau tahu diri…pernah ada sopir yang sok tahu urusan mereka. Apa akibatnya? Dibui!''

Aku ngeri. Aku tak mau Ibu malu karena aku. Anak yang dibanggakannya bekerja di gedung yang ada di tivi, tiba-tiba masuk bui. Lebih baik aku bunuh diri, daripada Ibu sakit hati.

Maka setiap hari, aku bersihkan kamar kecil di kantor besar itu. Setiap hari aku melihat wajah-wajah yang hanya orang lain lihat di tivi. Bonus, aku dekat dengan orang terkenal. Ingin berfoto bersama, kalau tidak karena kata 'bui' yang menyeramkan itu.

Aku lebih banyak diam. Di gedung tempat orang bicara, aku diam sepatah kata ketika bekerja. Kata almarhum ayahku, ''Orang mulai bicara, kalau damai dalam hatinya tiada…belajarlah mendengar apa yang tidak dikatakannya padamu.'' Aku tak tahu pasti apa maksudnya. Aku memang tak bisa bicara. Tugasku ya bekerja…menyapu, mengepel…semua tanpa bicara, dan, seperti hari ini, seperti yang kutuliskan dalam buku harianku ini.

Bos datang kepadaku, ''Hari ini kau bersiap lembur sampai pagi.'' Tanpa sempat kubertanya, ia menyusul dengan instruksi berikutnya, kelihatannya ia punya bakat jadi seperti orang-orang itu, ''Shift malam berakhir jam 23.00. Tapi tuan-tuan kita, mereka masih mau rapat lagi. Mungkin sampai jam tiga, mungkin sampai Subuh. Kau harus bersiap. Ingat, bersih tanpa noda. Kering dan mengkilap. Ayo, ke sana, lakukan segera…''

Aku bergegas. Bayangan honor lembur tampak di kepala. ''Ingat, belum tentu ada jatah lembur, ini di luar biasanya.'' Buyar. Mimpi itu buyar.

Langkahku melambat. Aku sudah delapan kali bolak-balik kamar kecil itu hari ini. Aku sudah mengepel, menyapu, menyediakan tisu. Semuanya. Luar biasa, pikirku. Tuan-tuan wakil rakyat itu bekerja hingga pagi hari. Demi bangsa, demi negara, demi kebaikan orang-orang kecil sepertiku.

''Gawat, gawat…'' tiba-tiba dari arah dapur seseorang berteriak. Ia mencari bosku. ''Pak…Pak…'' nafasnya terengah, ''dapur darurat Pak, air minum habis. Snack dan kue tak tersisa!''

''Hah, apa yang terjadi? Bagaimana bisa?''

''Mungkin karena rapat ditambah lagi waktunya, banyak staf pembantu yang mengambil segalanya. Saya tidak dapat menahan mereka Pak…habis semua. Air, snack… kita harus bagaimana Pak? Ini tengah malam.''

Aku berhenti. Tapi aku tak kuatir. Ini ibukota, semuanya ada di sini. Aku lanjutkan langkah kakiku. Dari kejauhan kudengar bosku berkata, ''Siapkan yang kalian bisa. Kalaupun aku belanja, itu untuk cadangan saja.''

Lalu kulihat kesibukan kecil itu. Kawan-kawanku menyediakan segalanya. Mereka berusaha mencari air minum. Telepon sana-sini. Ada yang berniat memindahkan dispenser minum dan sebagainya. Luar biasa mereka. Berusaha memberikan yang terbaik bagi para pejuang bangsa itu. Siap sedia melayani berbagai keperluan mereka.

Aku lanjutkan langkahku. Aku buka lagi kantor kecilku. Istirahat sebentar para wakil rakyat itu cukup untuk membuatku bekerja dan terjaga hingga kapan pun mereka menyelesaikan tugas mereka malam ini. Tisu yang tak terbuang di tempatnya. Air yang menggenang…dan, ketika kubuka toilet itu. Bau khasnya dengan cepat menyengat. Duh… ada juga yang lupa membilasnya.

Aku tak harus kecewa. Ini tugasku. Kuambil seember air, dan kubilas habis kotoran itu. Kucuci, kubersihkan. Sebentar lagi seorang di antara mereka mungkin memasukinya.

Kuseka dengan kain kering tempat buang hajat itu. Aku mungkin tak banyak bicara. Gedung besar ini mungkin membuat sejarah. Hiruk pikuk hingga pengukuhan pada jam tiga dini hari. Mengapa harus sepagi itu? Dan aku ikut terjaga bersama mereka, membersihkan kotoran yang mereka tinggalkan.

Sejenak aku termangu. Masihkah ada tanya itu? Kalau aku jadi mereka, siapa yang akan membersihkan kotoran nanti?

Dan kulihat lagi kamar kecil kantorku itu. Kini bersih, bersinar, kering, mengkilap. Tiba-tiba kurasakan damai…senang luar biasa. Bahagia tak terkira. Kata ayah, ''Kau mungkin lupa dengan siapa kau tertawa, tapi kau takkan pernah lupa dengan siapa kau menangis bersama.'' Aku mungkin lupa hingar bingar itu, tapi takkan kulupa saat ini.

Ibu, di dalam gedung sana mungkin tuan-tuan itu ramai sedang bicara. Tapi aku bahagia dengan hening di toilet ini.

Salahkah aku, bila tak ingin kutukar tempatku dengan mereka?

Miftah F. Rakhmat, selamat berjuang, Abah...

 

Thu, 9 Oct 2014 @09:15

Copyright © 2017 Misykat · All Rights Reserved