Rubrik
Terbaru
BERBAGI BUKU

Bagi yang ingin buku-buku bacaan ISLAM. Silakan tulis nama, alamat lengkap, dan nomor WhatsApp yang aktif pada KONTAK

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Memahami Al-Ghadir [Akmal Kamil]

image

Hari ini, 18 Dzul-Hijjah kaum Muslimin merayakan sebuah hari raya, bahkan merupakan hari raya terbesar di antara hari-hari raya Islam, seperti Idul Fitri dan Idul Qurban. Hari itu adalah hari imamah, khilafah dan hari kesempurnaan agama dan kemanusiaan. Hari dimana Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib As dinobatkan sebagai imam dan khalifah kaum Muslimin pasca Rasulullah Saw. Hari itu sepanjang perjalanan sejarah kaum Muslimin dikenal sebagai hari Ghadir.

Apabila Ghadir bermakna kembalinya ingatan pada perubahan besar dalam sejarah umat manusia, di tengah budaya kaum Muslimin, hari Ghadir layak untuk diperingati sebagai hari raya akbar umat manusia khususnya bagi kaum Muslimin.

Lantaran perubahan besar dalam sejarah umat manusia berlangsung pada hari ini. Dan sebagaimana kita mendengar dari lisan riwayat, bahwa pada hari ini kesempurnaan agama dan kebahagiaan manusia telah distempel dan dijamin.

Seluruh agama-agama samawi, sebagai pendahulu agama Islam telah sempurna pada hari Ghadir. Dan Tuhan semesta alam (Rabbul ‘Alamin) telah rela dengan agama Islam.

“Pada hari ini Aku telah sempurnakan agamamu untukmu dan telah Kulengkapi nikmatKu atasmu dan Aku ridha Islam sebagai agamamu.” (Qs. al-Maidah [5]:3)[1]

Dan tidak satu pun peristiwa yang lebih signifikan melebihi sempurnanya agama pada kehidupan manusia. Dan oleh sebab itu, tidak ada hari yang lebih layak untuk diperingati dan dimeriahkan melebihi hari Ghadir.

Dan persis dengan alasan yang sama, Rasulullah Saw pada hari ini ia umumkan sebagai hari ied dan meminta kepada kaum Muslimin untuk menyampaikan ucapan selamat kepadanya.

Rasulullah Saw bersabda:

“Berikan ucapan selamat kepadaku, berikan ucapan selamat kepadaku. Sesungguhnya Allah mengkhususkan kepadaku kenabian (nubuwwah) dan kepemimpinan (imamah) kepada keluargaku.”[2]

Dan ia juga bersabda:

“Hari Ghadir merupakan hari ied yang paling afdhal. Pada hari itu, Allah Swt menugaskan kepadaku untuk memperingatinya dengan melantik saudaraku ‘Ali ibn Abi Thalib bagi umatku; sehingga selepasku mereka menemukan hidayah. Allah Swt menyempurnakan agama dan melengkapkan nikmat bagi umatku pada hari itu dan ridha Islam sebagai agama merekanya.”[3]

Oleh karena itu, memperhatikan hari Ghadir sebagai salah satu hari ‘ied dalam Islam memiliki akar pada masa Rasulullah Saw. Dan Rasulullah Saw mengumumkan pada hari itu sebagai hari ‘ied dan ia pada hakikatnya merupakan pencetus hari ‘ied ini.

Selepas Rasulullah Saw, para imam maksum sangat memberikan perhatian khusus terhadap hari Ghadir sebagai hari ‘ied.

Amirul Mukminin ‘Ali As pada hari Ghadir yang bertepatan dengan hari Jum’at menyampaikan khutbah. Dan khutbah tersebut adalah sebagai berikut:

“Semoga Allah Swt merahmati kalian! Hari ini bagikanlah kepada keluarga kalian uang belanja. Dan bersikap santunlah kepada saudara-saudara kalian, dan bersyukurlah kepada Allah Swt yang telah menganugerahkan nikmat ini kepada kalian. Senantiasalah kalian bersama sehingga Allah Swt mengumpulkan orang-orang yang berpisah di antara kalian. Berbuat baiklah kepada sesama kalian, sehingga Allah Swt mendatangkan rahmat dengan keakraban dan perkumpulan ini.

Dan demikianlah Allah Swt menganugerahkan nikmat kepada kalian, ganjaran atas ‘ied hari ini dilipatgandakan atas hari-hari ied yang lain. Dan di antara nikmatnya adalah bahwa sesama kalian hendaknya saling membimibng. Berbuat baik pada hari ini akan memperbanyak rizki dan memanjangkan usia. Bersikap pemurah pada hari ini akan mendatangkan cinta dan kasih Tuhan.”[4]

Sebagaimana kita ketahui bahwa pada masa khilafah Amirul Mukminin ‘Ali As banyak di antara sahabat Rasulullah Saw ikut hadir dalam perayaan Ghadir. Dan mereka mendengar sabda Imam ‘Ali ini; apabila ‘ied tidak pasti bagi mereka, niscaya mereka akan menyampaikan protes.

Selepas Amirul Mukminin As, sejauh yang dapat direkam oleh para perawi, para imam maksum sangat memberikan perhatian terhadap hari ‘Ied ini. Mereka merayakan dan memeriahkan hari tersebut. Pada hari ini mereka menunaikan puasa. Dan mereka meminta kepada para sahabat dan kerabatnya untuk menunaikan puasa juga sebagaimana mereka.

Tsiqâtul Islâm Kulaini dalam al-Kâfi, yang meriwayatkan dari Salim:

Aku berkata kepada Imam Shadiq As: “Apakah kaum Muslimin memiliki hari ‘ied selain hari Jum’at, ‘Idul Fitri dan ‘Idul Adha?”

Ia bersabda: “Iya, ‘Idul akbar (hari raya yang paling besar).”

Aku bertanya lagi: “Hari apa itu wahai Imam?”

Imam bersabda: “Hari tatkala Rasulullah Saw menetapkan wilâyah Amirul Mukminin As dan bersabda: “Man kuntu mawlahu, fa ‘Aliyun mawlahu.”[5]

Dan juga diriwayatkan dari Hasan ibn Rasyid yang mengajukan pertanyaan kepada Imam Shadiq As. Ia berkata: “Semoga diriku menjadi tebusanmu wahai Imam! Apakah kaum Muslimin memiliki ‘ied selain ‘Idul Fitri dan ‘Idul Adha?”

Imam bersabda: “Iya. Lebih besar dan lebih utama dari keduanya.”

Aku berkata: “Hari apakah itu wahai Imam?”

Imam bersabda: “Hari ketika wilâyah Amirul Mukminin ‘Ali As ditetapkan.”

Aku berkata: “Semoga diriku menjadi tebusanmu!” Pada hari ini, apa yang harus kami lakukan?”

Imam As bersabda: “Berpuasa dan bershalawat ke atas Nabi Saw dan keluarganya. Tunjukanlah rasa penyesalan dari orang-orang yang engkau tindas. Para nabi Ilahi memerintahkan kepada para khalifah mereka bahwa pada hari penetapan khalifah dirayakan sebagai hari ‘ied.”

Aku berkata: “Apa ganjaran bagi orangyang mengerjakan puasa pada hari ini?”

Imam As bersabda: “Ganjarannya adalah sebanding dengan enam ratus bulan berpuasa.”[6]

Demikian juga, Furat ibn Ibrahim meriwayatkan dalam kitab tafsirnya bahwa Imam Shadiq As ditanya: “Apakah kaum Muslimin memiliki ‘ied yang lebih utama daripada ‘Idul Fitri, ‘Idul Adha dan hari Jum’at dan hari ‘Arafah?”

Imam As bersabda: “Iya. Lebih utama, lebih mulia dan lebih besar dari seluruh ied di sisi Allah. Dan hari itu adalah hari dimana Allah Swt menyempurnakan agama-Nya, dan menurunkan wahyu kepada Nabi-Nya:

“Pada hari ini Aku telah sempurnakan agamamu untukmu dan telah Kulengkapi nikmatKu atasmu dan Aku ridha Islam sebagai agamamu.” (Qs. al-Maidah [5]:3)

Seorang perawi berkata: “Hari apakah itu?”

Imam bersabda: “Para Nabi Bani Israel tatkala menetapkan khalifah dan pengganti mereka, mereka merayakannya sebagai hari ied. Dan hari ‘ied untuk kaum Muslimin adalah hari dimana Rasulullah Saw menetapkan wilayah Imam ‘Ali As. Dan pelbagai ayat turun berkaitan dengannya, dan menyempurnakan agama dan melengkapkan nikmat-Nya atas kaum Mukminin.”[7]

Demikian juga, ia bersabda: “Hari ini adalah hari ibadah, hari shalat dan hari memanjatkan syukur. Lantaran Allah Swt telah menganugerahkan nikmat wilâyah kami kepada kalian. Aku ingin engkau laksanakan puasa pada hari ini.”[8]

Dalam sebuah riwayat yang bersumber dari Fayyadh ibn Muhammad ibn ‘Umar Thusi, bahwa ia datang menghadap Imam Ridha As.

Aku melihat Imam sedang menjamu para sahabatnya dengan ifthâr (buka puasa) di rumahnya. Dan ia mengirimkan kepada mereka beragam hadiah berupa pakaian dan bahkan sepatu dan cincin. Di kediamannya, terdapat suasana yang berbeda.

Aku melihat para pembantu Imam memperbaharui semua yang mereka punyai dan bahkan temasuk peralatan-peralatan yang mereka gunakan sehari-hari.

Imam As menyampaikan khutbah tentang kemuliaan dan keutamaan hari itu kepada para hadirin.[9]

Terlepas dari itu, yang dapat kita manfaatkan dari catatan sejarah bahwa kaum Muslimin sepanjang perjalanan sejarah yang berbeda memeriahkan dan merayakan hari Ghadir.

Abu Raihan Biruni dalam kitab al-آtsar al-Bâqiyah menulis:

“Hari kedelapan belas merupakan hari raya (‘Ied) Ghadir Khum. Dan nama itu merupakan nama sebuah tempat dimana Rasulullah Saw selepas Hajjatul Wida’ berhenti dan mengumpulkan perlengkapan unta-unta dan mengambil lengan ‘Ali ibn Abi Thalib As. Kemudian ia menaiki mimbar (tumpukan kumpulan perlengkapan unta, AK) dan bersabda: “Barang siapa yang menjadikan aku sebagai mawlanya, maka ‘Ali adalah mawlanya.”[10]

Dan Mas’ud dalam kitabnya at-Tanbih wa al-Asyrâf menulis:

“Putra-putri ‘Ali dan Syi’ah-nya merayakan dan memeriahkan hari ini (Ghadir).[11]

Dan Ibn Talha Syafi’i dalam kitabnya Mathâlib as-Su’ul menulis:

“Dan hari ini, disebut sebagai hari Ghadir Khum dan merupakan hari raya. Lantaran pada hari itu merupakan hari dimana Rasulullah Saw menetapkannya (‘Ali) pada kedudukan yang tinggi. Dan hanya ialah yang dapat mencapai kedudukan ini di antara semua orang.”[12]

Tsa’alabi dalam kitab Tsamâratul Qulûb, menyebut malam hari Ghadir termasuk malam yang paling khusus, menuliskan: “Malam hari Ghadir merupakan malam dimana Rasulullah Saw pada keesokan harinya yaitu pada hari Ghadir Khum menaiki mimbar yang terbuat dari pelana-pelana unta dan bersabda:

Orang-orang Syi’ah merayakan malam itu dan mengerjakan ibadah-ibadah pada malam hari itu.”[13]

Demikian juga, Ibn Khallaqan dalam Syarh Hali al-Musta’li Fathimi ibn al-Mustanshir menulis:

“Pada hari raya (‘Ied) Ghadir yaitu bertepatan dengan tanggal 18 Dzulhijjah 487 H, orang-orang memberikan baiat kepadanya.”[14]

Dan dalam Syarh Hâl al-Mustanshir Fâthimi menulis:

“Ia wafat pada Kamis malam dua belas hari tersisa dari bulan Dzulhijjah 487 H dan malam ini adalah malam ‘Idul Ghadir yaitu malam 18 Dzulhijjah adalah ‘Idul Ghadir Khum.”[15]

Sebagaimana yang kita saksikan dalam berbagai riwayat dan ucapan para sejarawan, hari Ghadir merupakan tahun-tahun terakhir usia Rasulullah Saw yaitu tahun ia menetapkan wilâyah Amirul Mukminin ‘Ali As dikenal sebagai hari raya dan pada tahun itu dan pada sahara itu juga Idul Ghadir, tersebar dari mulut ke mulut di sepanjang sejarah dan negeri-negeri Islam.

Dari persfektif sejarah, pada masa Imam Shadiq As wafat tahun 148, pada masa Imam Ridha As wafat tahun 203, pada masa ghaibah sughrah yaitu masa dimana Furat ibn Ibrahim Kufi dan Kulaini Razi hidup, pada masa Mas’udi wafat tahun 345, Tsa’alabi Naisyaburi wafat tahun 429, Talha Syafi’i wafat tahun 654, dan Abu Raihan Biruni wafat tahun 430 H, hari ini dianggap sebagai hari raya.

Dari sisi menjuntainya letak geografis, pada daerah-daerah Timur dunia Islam yaitu pada sekeliling an-nahr (daerah-daerah seperti Iran, Afghanistan, Tajikistan, Kazakstan, AK) yang merupakan tempat tinggal Abu Raihan dan Naisyabur yang merupakan tempat lahir Tsa’alabi, hingga kota kelahiran dan bermukim Kulaini, dan hingga kota Baghdad kota kelahiran dan besarnya Mas’udi, hingga Halab tempat tinggal dan wafatnya Ibn Thalha Syafi’i dan Mesir yang menjadi tempat tinggal dan wafatnya Ibn Khallaqan, orang-orang di tempat-tempat ini mengetahui tentang hari raya Ghadir dan mereka merayakan hari besar itu.

Hal ini apabila kita berasumsi bahwa masing-masing pembesar ini memberikan berita ini kepada orang-orang di sekitarnya; sementara kita ketahui bahwa pertama sebagian orang-orang seperti Mas’udi dan Biruni mengelilingi hampir seluruh negeri-negeri Islam; yang kedua dalam tulisan-tulisan mereka hari ini disebutkan sebagai hari raya kaum Muslimin.

Catatani:

[1] . Sebagaimana dinukil oleh Ibn Maghazali dalam Manâqib, hal. 19 dan Farâidh Simthain, jilid 1, hal. 73, bab 12, hadits 39 dan 40 bahwa ayat ini turun pada hari Ghadir setelah penetapan Amirul Mukminin ‘Ali As.

[2] . Al-Ghadir, jilid 1, hal .247, yang menukil dari Syaraf al-Musthafa karya Abu Sa’id Khargusi Naisyaburi, wafat tahun 407 H.

[3] . Al-Ghadir, jilid 1, hal .283 dan Iqbâl al-‘Amal hal. 466.

[4] . Idem., jilid 1, hal. 284 dan Iqbâl al-‘Amal hal. 463.

[5] . Furugh Kâfi, jilid 1, hal. 148, bab Shiyâm Targhib, hadits ke-3.

[6] . Idem., hadits pertama.

[7] . Tafsir Furât, hal. 118.

[8] . Idem.,

[9] . Misbâhul Mujtahid, hal. 752.

[10] . Tarjameh آtsar al-Bâqiyah, hal. 460.

[11] . At-Tanbih wa al-Irsyâd, hal. 221.

[12] . Mathâlib as-Su’ul, hal. 16, satr terakhir.

[13]. Tsamâratul Qulûb, hal. 636

[14] . Wafayâtul ‘Ayân, jilid 1, hal. 180.

[15] . Idem, jilid 5, hal. 230.

SUMBER: Tulisan tersebut merupakan potongan bagian awal dari artikel yang berjudul “Merayakan Lebaran di Idul Ghadir ditulis oleh Akmal Kamil.

 

Fri, 16 Sep 2016 @08:15

Copyright © 2017 Misykat · All Rights Reserved