AUDIO KAJIAN ISLAM

BERBAGI BUKU ISLAM

TULIS nama, alamat lengkap & nomor HP/WhatsApp pada KONTAK

TATA CARA SHALAT

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

BAHAN BACAAN
PENGUNJUNG

Flag Counter

Pemburu Aliran Sesat [Miftah Fauzi Rakhmat]

image

(Jika ini kesesatan, Tuhan... inilah kesesatan yang tak kuminta Kau luruskan...)

"Ahhh…" aku melepaskan nafas yang telah kusimpan begitu lama. Meski berulang kali menarik dan menghela, hembusan terakhir tadi terasa berbeda. Hatiku berdebar, jantungku berdetak. Tak berirama, seolah ada gendang dimainkan tak beraturan di batinku. Belum pernah aku merasakan yang seperti ini. Dulu waktu jatuh cinta, deg-deganku bercampur sukacita. Terarah, teratur… Tapi degup kali ini…ia tak sama. Ini ketakutan antara harap keselamatan dan cemas kecelakaan. Mirip orang yang berdiri di tabir jurang. Bayangkan akrobat sirkus tanpa pengaman. Itulah aku, yang kini tengah bersiap untuk meloncat: selamat dan pernah terbang di angkasa walau sesaat atau kembali meniti tangga ke bawah, menjejakkan kaki dengan aman di tanah.

Aku sudah pernah bertemu beragam guru sebelumnya. Aku akrab dengan wanti-wanti menjauhi aliran sesat. Jiwaku jiwa pencari, petualang. Kalau ada tanya di kepala, pasti kucari jawaban penawar tenang.

Aku masih ingat kakekku menepukku lembut di dada, ''Jaga hatimu saja. Tak perlu ilmu yang kauminta itu.'' Kakekku seorang jawara. Ia juga saudagar kaya. Ilmu kebatinan, kanuragan, silat bela diri, sebut apa saja…dia menguasainya. Orang kampung bahkan meminta pertolongan mengusir jin padanya. Aku minta diajarkan ilmu itu. Ilmu ksatria. Tapi kakek tidak mau mengajarkannya. Katanya lagi, ''Kalau kau bisa satu ilmu, kau akan diuji akan ilmumu itu. Kauamalkan hizib kebal senjata tajam, dan puluhan orang akan mencobamu untuk itu. Aku sdh lakukan, dan aku sudah lelah melakukannya. Aku tak mau kau meniti jalan yang sama denganku.'' Lalu terdengar kalimat itu…''Jaga hatimu saja.''

Kemudian Kakek terduduk, wajahnya seperti melihat jauh ke belakang, pada sejarah hidupnya yang sangat panjang. Ia hembuskan nafas berat dan berkata, ''Ilmu kanuragan hanya menyertaimu sesaat, tapi ilmu kebenaran ia menyertaimu kapan saja. Bila kau jago silat, kaupatahkan kaki musuhmu. Bila kau tempuh jalan hakikat, kaupatahkan hawa nafsumu, itulah saat ketika musuh-musuhmu menghujatmu, menghakimimu sesat dan sebagainya. Perjuangan itu jauh lebih berat...'' Lalu ia jabarkan padaku, apa yang kualami kini, ''Carilah guru, ia yang punya banyak seteru. Tempuhlah jalan, ia yang dimaki kesesatan. Kau akan temukan, makin tinggi tingkat kebenaran, makin kencang goncangan dan angin hujatan.''

Sejak itu, aku menjadi seorang pemburu: pemburu aliran sesat. Kapan saja ada orang digugat sesat, aku datangi ia. Kapan saja aku dengar ada korban hujatan dan makian, aku cari ia. Dan tanpa kusadari, sudah begitu banyak kelompok kuikuti, berbagai aliran kupelajari. Mulai dari yang melarang segala berbau keduniawian hingga yang mengizinkan mengambil barang dengan niat perjuangan. Hampir semua sudah kudekati. Tapi kali ini, ada yang lain pada guru yang ada di hadapanku ini.

Tahun lalu, aku belajar kursus singkat, seminggu bermakrifat. Malam ketujuh dijamin melihat Tuhan. Aku tertarik, aku ikuti. Aku diminta sang guru puasa setiap hari dan ibadah setiap malam. Pening, lapar, lelah bergabung jadi satu. Malam terakhir kami memejamkan mata. ''Sudahkah kaulihat Tuhan sekarang?''

''Belum,'' jawabku menahan lapar dan haus yang sangat.

''Pusatkan perhatian…'' dan di kanan-kiri orang ramai berdecak, ''Aku melihatnya! Aku melihatnya! Oh, betapa indahnya…'' dan aku masih juga tak melihat apa-apa.

''Sekarang bagaimana? Sudahkah kaulihat?'' Aku menjadi orang terakhir yang belum mengiyakan. Guru pun mendorong kepalaku, cukup keras hingga membentur dinding di belakangku. ''Sudahkah kaulihat kini?'' Tanyanya setelahnya. Aku pun mengangguk, dan rasa nyeri benturan di belakang itu masih hangat dalam ingatan.

Banyak sudah gerakan berkedok berbagai macam amalan. Ada jaminan rajin memberi, diganjar kekayaan berkali-kali. Ada penyembuhan biaya berjuta, hanya dengan berdua di kamar tanpa cahaya. Ada pula yang rajin muncul di televisi, karena membayar sejumlah uang pengganti. ''Ini dakwah,'' kata sang guru. ''Anggap saja investasi.'' . Ah, aku sudah coba semuanya…kecuali yang satu ini.

Aku berdoa khusus pada Tuhan, agar aku dikuatkan. Kelompok yang kudatangi ini dicap sesat dan menyesatkan. Sang gurunya dikecam dengan berbagai macam cacian. Belum pernah aku melihat kelompok begitu sering dihujat, kecuali kelompok ini. Dan suara kakek kudengar samar ''makin tinggi tingkat kebenaran, makin kencang goncangan dan angin hujatan.'' Apa salah kelompok ini? Ia mencoba menyusuri akar tradisi. Ia mencari sebab hingga ke masa lalu. Pernah kulihat mereka diskusi, mempertanyakan kolom agama yang tak terisi. Kata mereka, ''Mengapa di negeri ini, agama para pendatang saja yang diakui. Sedang warisan leluhur, ajaran nenek moyang dikecam dan dicaci...'' Tak seorang pun yang hadir mampu menjawabnya.

Kini, seminggu sudah aku bergabung bersama mereka, dan nafas berat itu begitu lama aku pendam, menanti saat untuk kulepaskan.

Kawan-kawan baruku itu, mereka penjaga tradisi. Mereka sering berkumpul dan menggumam doa panjang yang indah untuk diselami. Mereka percaya Tuhan, mengakui syariat Nabi, dan membaca kitab suci. Tapi ada yang baru kupelajari. Keyakinan mereka pada sejarah yang mengikat bumi. Kata sang guru, ''Alam punya cara menyimpan rahasia. Budaya adalah jalan para leluhur meneruskan ajaran. Tugas kita adalah memahami tanda zaman dan mengikatnya dalam satu kearifan'' Aku tak mengerti.

Hari ini, kami mempelajari makna sebuah kidung. Bagian dari budaya itu. Lagu lama, tapi dengan pemaknaan yang berbeda. Sebuah lagu dari tanah Sunda, Bubuy Bulan terngiang di kepala. Begini artinya…''Bulan dibakar, bintang dijerang. Dan matahari ditusuk perapian…'' Lalu guru mengisahkan makna dari lagu itu. Bahwa ia tengah berkisah tentang kedukaan. Tentang keluarga kerajaan yang disakiti para pengikutnya. Bulan adalah ratu. Bintang adalah para pangeran, dan matahari adalah sang raja. Semua dibakar amuk massa.

Sejarah mengikat bumi ini dan alam menyimpannya sebagai rahasia.

Bait berikutnya berkisah tentang kerinduan akan tempat penantian. Jawaban apa pun, bagi para perindu, punya makna yang begitu besarnya, bahkan desir angin atau air yang memercik di kejauhan. Semua pertanda, yang sedang dinanti mengirimkan pesan demi pesan. Kemudian berkisahlah guru tentang seseorang yang datang menyapa setiap pagi, tetapi selalu kita lupakan, ''Dan siapakah dia, yang berlalu setiap pagi. Sungguh, bergetar hati ini melihat sorot matanya…''

Aku terhempas, nafas yang berat kutahan itu akhirnya keluar juga. Aku masih juga belum menemukan jawaban. Kelompok ini ternyata bukan akhir perjalananku. Tugas berburuku belum usai. Semoga masih ada orang sesat lainnya. Semoga masih ada sosok yang dinanti kedatangannya.

Karena bila saat itu tiba, ''Hatimu akan tenang. Kau takkan dapat dipalingkan. Bahkan bila lehermu diserahkan di atas tajam pedang pengorbanan. Kau akan tersenyum. Itulah kekuatan yang sesungguhnya. Itu hizib yang harus kautemukan dalam hidupmu…'' suara Kakek terkenang, dan sayup-sayup menghilang.

Tuhan, aku memilih melompat dari tebing nan tinggi ini. Aku tak mau menyimpan nafas yang tertahan. Aku tak mampu lagi. Tunjuki aku jalan yang sesat itu.

Atau haruskah aku mengambil jalan yang berbeda, bergabung dengan para penyesat sesama itu?

Aku mungkin tersesat, tapi aku tak ingin menyesatkan. Karena mereka yang menyesatkan telah mengambil tugasMu wahai Tuhan. Dan aku tidak rela Kau diduakan. Jika ini kesesatan, Tuhan…inilah kesesatan yang tak kuminta Kauluruskan. ''Ahhh…'' nafas itu kini kembali, tapi beban berat itu tak lagi menyertai.

Miftah Fauzi Rakhmat adalah anggota Dewan Syura IJABI


Mon, 20 Oct 2014 @15:46

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved