Rubrik
Terbaru
BERBAGI BUKU

Bagi yang ingin buku-buku bacaan ISLAM. Silakan tulis nama, alamat lengkap, dan nomor WhatsApp yang aktif pada KONTAK

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Tahun ini, Asyura Menyapa Istimewa [Miftah Fauzi Rakhmat]

image

Tahun ini, Asyura menyapa istimewa. Kehangatan yang ditinggalkan nyala api itu takkan pernah padam dalam hatiku. “Sungguh, bagi terbunuhnya Al-Husain ada kehangatan dalam diri setiap mukmin yang tidak akan pernah padam selamanya.” Hadis Baginda Nabi Muhammad Saw itu selalu menyentak kesadaranku. Tanpa perlu dipaksa, ia merambat lembut. Hangat, jauh ke dalam sanubari. Jauh menghunjam dasar hati. Ah, Husain...bukan kali ini saja aku menangis karenamu. Bukan saat ini saja aku menangis untukmu.

Aku kenal kisahmu di akhir tahun delapanpuluhan itu. Di Masjid Al-Munawwarah yang bersejarah. Siapa yang tak tersentuh dengan kisah pilumu, ia tak punya hati. Siapa yang tak menangis karena deritamu, lalu derita yang mana lagi?

Usiaku baru beranjak remaja. Dan sejak itu, aku tumbuh bersamamu. Di antara kenikmatan yang takkan kutukar dengan apa pun juga. Belakangan aku ketahui, ternyata tak mudah mengenangmu. Banyak tantangan sekadar untuk menangis bagimu. Tahun lalu, sekelompok orang hendak menutup acara kami. Membubarkannya bila perlu. Entah apa yang mereka takuti dari kami. Adakah ketenangan mereka kami ganggu? Adakah kenyamanan mereka kami usik? Adakah badan mereka kami sakiti, kehormatan mereka kami nodai, majelis mereka kami cemarkan, nama mereka kami gunjingkan...? Hayhaat min al-dzillah, padahal itu seruanmu wahai Imam kami. Jauhlah kami dari kehinaan. Bukan pecintamu yang sejati, bila kami jatuh pada tindak laku keji. Ah, Husain...salam dan shalawat rindu kami bagimu.

Tahun ini, Asyura kembali menyapa. Sepuluh hari pertama bulan baru Islam ditandai dengan warna dukacita. Baju hitam kukeluarkan. Tanda berkabung siap dimulai. Segala hal yang mengingatkanku pada Al-Husain aku kenakan. Ini cincin yang pernah menyentuh pusaramu. Ini dahi yang pernah sujud pada Tuhan di halaman keabadianmu. Ini bendera yang pernah berkibar di hadapanmu. Dan ini keluargaku, wahai Imam, yang kuharap beroleh syafaatmu. Ini aku dan sahabat-sahabatku, yang merindukanmu dari serpihan kisahmu yang telah mengoyak hati kami. Dan ia tak pernah berhenti berdarah. Inilah luka yang tak mau kusembuhkan.

Majelis Husainiyyah yang pertama, istriku membersihkan rumah. Sudah sering pengajian sebelumnya di rumahku. Tapi majelis untuk Al-Husain terasa berbeda. Aku terharu. Setiap kali satu demi satu tamu datang ke rumahku, mataku sembab dengan airmata. Aku bayangkan, aku dan mereka, berada di Karbala. Aku bayangkan, aku dan mereka, berziarah bersama.

Usai majelis, anakku bertanya kepadaku, “Bi, mengapa tangan yang terangkat menjadi simbol Asyura?” Aku bahagia, ia bertanya. Aku tak malu airmataku menetes di hadapannya. Ia harus tahu aku menangis untuk siapa, dan karena apa. Aku menjawab, “Karena dua hal, anakku. Pertama, tangan terangkat itu adalah tangan Imam Husain as ketika ia bertanya, “Adakah yang mau menolongku?” Imam menyampaikan itu ketika seluruh sahabatnya telah gugur. Setelah keluarganya dan Abul Fadhl Abbas syahid. Baru Imam berkata “Hal min naashir yanshurni...?” Pertanyaan Imam itu ditujukan untuk kita. Untuk aku dan kamu...

...Kedua, tangan yang terangkat itu adalah tangan setiap kerabat dan sahabat Imam Husain sesaat sebelum menghembuskan nafas akhir mereka. Mereka memandang ke arah kemah, melihat ke arah Imam berdiri dan berkata, “Salam bagimu wahai Aba ‘Abdillah...” dan mereka angkat tangan itu.”

Demikian kujelaskan pada anakku. Dan muncul awan gelap baru di batinku. Adakah aku menyambut seruan Al-Husain itu? Apakah aku punya kesempatan, setelah seluruh ujian dan tantangan, kemudian tanganku terangkat di akhir nafas yang lepas bersama teriakan, “Salam bagimu wahai Aba ‘Abdillah...”

Lalu kulihat diriku. Rendah, banyak dosa, hina, tak tahu diri, tak tahu malu. Tak berharga. Siapalah aku, berharap kesetiaan para pecinta setia Al-Husain. Mungkinkah aku seperti dua orang sahabat Al-Husain yang berdiri di siang Asyura. Ketika Imam meminta tunda waktu, untuk menunaikan shalat terlebih dulu. Ketika ia berkata, “Sungguh, kalian tahu betapa aku sangat mencintai shalat. Sampaikan pada musuh. Tunda waktu. Izinkan aku bertemu Tuhanku dulu...” Lalu sekelompok manusia terkasih itu berbaris shalat. Duhai, alangkah indahnya shalat itu. Shalat perpisahan, tapi juga shalat pertemuan. Dua orang sahabat menjaga Imam yang sedang shalat. Dari jauh, musuh masih juga melepaskan tembakan. Anak panah yang melesat itu mereka tangkap. Tombak yang meluncur itu mereka tahan. Dua orang sahabat menjadi tameng bagi sekelompok kekasih Tuhan yang sedang shalat.

Usai shalat, Al-Husain menoleh pada dua sahabatnya itu. Yang satu terjatuh, karena begitu banyaknya anak panah di tubuhnya. Melihat Imam datang, ia berusaha berdiri. Imam menyambutnya, memeluknya, membaringkannya. Airmata Imam tergenang melihatnya. Sahabat sejati ini, tampak bahagia. Dengan sisa suaranya ia berkata, “Sudahkah aku setia...?”

Ya Allah, setelah seluruh perjalanan itu. Membelah sahara, berjalan kaki berbulan-bulan lamanya, kelaparan, kehausan...di akhir hayat ia masih bertanya, “Sudahkah aku setia...” Adakah mereka tulus dalam cinta, teguh dalam janji, kukuh dalam kesetiaan? Masih adakah pengorbanan yang tersisa untuk diberikan?

Tahun ini, Asyura kembali menyapa. Kehangatannya takkan pernah hilang dari hati. Apa pun yang terjadi, sinar itu takkan pernah pergi. Setiap tahun kami akan berziarah. Setiap tahun kami akan hadir menyatakan cinta: berbelasungkawa dengan dukacita keluarga Rasulullah Saw. Asyura adalah bendera Al-Husain mempertahankan panji Nabi.

Meski awan gelap itu menaungi, seberkas sinar menerangi hati kami, menyampaikan semburat harap, dan terdengar bisik batin lembut menguat, ''Kami para pengikut Ali, takkan kami biarkan bendera Al-Husain jatuh ke bumi!''

MIFTAH FAUZI RAKHMAT adalah Anggota Dewan Syura IJABI

 

Thu, 30 Oct 2014 @18:02

Copyright © 2017 Misykat · All Rights Reserved