Rubrik
Terbaru
Kirim Artikel & Pertanyaan

ke email: abumisykat@gmail.com

Pustaka (Buku PDF Gratis)
image

 

RSS Feed
Minat beli buku klik covernya
image

Minat BUKU hubungi WA Misykat

AUDIO KAJIAN ISLAM

Instagram MisykatNet
image

.

Follow Twitter Misykat
image

Silahkan ikuti Twitter Misykat

YouTube Misykat TV
image

Subscribe Channel Misykat TV

TATA CARA SHALAT

PENGUNJUNG

Flag Counter

KH Jalaluddin Rakhmat: Zainab Jabal Al-Shabr, Gunung Ketegaran (4)

image

Peristiwa demi peristiwa berlalu dengan cepat. Matahari mulai tergelincir mendekati waktu Zhuhur. Lihat, perhatikan baik-baik. Kamu lihat di kemah itu, Zainab sedang mengenakan baju perang kepada kedua putranya –Muhammad dan ‘Awn. Ia membersihkan debu-debu yang menutup rambut dan muka mereka. Ia berikan pedang kepada keduanya.

Ditariknya tangan kedua orang remaja itu dan dihadapkannya ke hadapan Imam Husain: “Kakekku Ibrahim as menerima qurban dari hadirat Allah swt, seekor domba. (untuk menebus Ismail as).Terimalah kedua anakku untuk menebusmu dengan pengorbanan mereka. Ah, sendainya kewajiban jihad tidak dibebaskan dari perempuan, aku akan menebusmu dengan diriku seribu kali. Setiap kali aku syahid aku akan meminta seribu kali syahid lagi.”

Mula-mula Imam menolaknya. Muhammad bin Abdullah bin Ja’far al-Thayyar maju mendekati Imam, “Sayyidi, izinkan aku untuk terbang bersama kakekku ke surga untuk membunuh para penjahat itu.”

Imam pun mengizinkannya. Zainab mengantar mereka ke luar kemah. Ketika Umar bin Sa’ad melihat Muhammad dan ‘Awn dipersembahkan Zainab ke medan perang, ia berkata, “Kecintaan Zainab kepada al-Husain sangat mengagumkan. Ia peresembahkan kedua cahaya matanya untuk menebus saudaranya al-Husain.” 

Keduanya berperang seperti kakeknya di Mu’tah. Mereka gugur. Imam Husayn membawa jenazah mereka dengan kaki-kaki yang bergelantungan menyapu tanah di bawahnya. Semua perempuan Bani Hasyim menjemputnya...Kecuali Sayyidah Zainab, Aqilah Bani Hasyim! Ia tidak ingin kakaknya melihat air muka duka sedikit pun. Ia tetap tegak, tegar, dan sabar menjulang seperti bukit. Kematian kedua anaknya tidak berarti dibandingkan dengan musibah yang jauh lebih besar, musibah yang sebentar lagi akan menimpanya.

Saudara, akhirnya sampailah kita pada ujung perjalanan kita, pada peristiwa targis dlam seluruh sejarah kemanusiaan. Saudara adalah saksi sejarah itu. Sekarang perhatikan baik-baik, arahkan pandanganmu pada silhuet cahaya yang sedang menengok kemah-kemah itu satu per satu. Ia mematung di depan kemahnya. Ia memandang ke medan peperangan.

Ia melihat .... berenang dengan tubuh-tubuh yang kaku dalam banjir darah. Kini ia menyendiri. Ia menengok kemah saudara-saudaranya, para putra Amirul Mukminin. Kemah itu kosong dan sepi. Ia menengok kemah Bani Aqil, saudara-saudara sepupunya. Ia menengok kemah para sahabatnya yang setia. Kemah itu juga kosong dan sepi.

Dari bibirnya yang suci itu kita mendengar ia mengulang zikir yang suci: La hawla wa la quwwata illa billah. Dari kemang, kita mendengar jeritan dan tangisan. Sesosok tubuh lemah keluar dari kemah. Ia bertelekan pada tongkat dan menarik pedangnya.

Terseok-seok ia menyambut kedatangan ayahnya. Kita mendengar al-Husain berteriak: Ya ukhtaah, tahanlah dia. Supaya bumi ini tidak kosong dari keturunan Aali Muhammad! Zainab menariknya lagi ke tempat tidurnya.

Disandarkannya tubuh Zainal Abidin ke dadanya. Dengan suara parau dan ternengah-engah ia bertanya: Ke manakah sahabat-sahabat kita dan sanak saudara kita. Al-Husain tersentak. Kata-katanya terselak di tenggorokannya yang mulia: “Di seluruh kemah itu tidak ada laki-laki kecuali aku dan kamu. Semua sudah gugur tersungkur ke bumi.”

Tiba-tiba Ali yang sakit berkata. Kali ini dengan suara yang dikeras-keraskan: Bibi, berikan padaku pedang dan tongkat? Ayahnya berkata: “Untuk apa keduanya itu” “Tongkatku untuk aku bertelekan pada ya. Dan pedangku untuk melindungi putra Rasulullah saw” Al-Husain melarangnya.

Ia peluk putranya untuk terakhir kalinya: “Aku tidak akan melepaskanmu untuk berperang. Engkau hujjahku untuk ahlibaitku dan syiahku. Engkau harus mengembalikan perempuan-perempuan ini ke Madinah!

Kemudian, sambil memegang tangan Ali Zainal Abidin, Imam berkata dengan suara keras: Ya Zainab, Ya Umma Kultsum, ya Sukaynah, ya Ruqayyah, ya Fathimah, dengarkan pebicaraanku. Ketahuilah bahwa anakku ini adalah penerusku dan Imam yang diwajibkan atas kalian mentaatinya.

Ya Zainab, Ya Umma Kultsum, ya Sukaynah, ya Ruqayyah, ya Fathimah, ‘alaikunna minni salaam, fa hadza akhirul ijtimaa’ wa qad qaruba minkunnal iftijaa’. Salam terakhir darfiku bagi kalian. Inilah akhir pertemuan. Sebentar lagi kalian akan dihempas gelombang derita.” Kita mendengar tangisan, jeritan, raungan duka memenuhi kemah. Ketika al-Husain mau meningglkan kemah, Zainab bergelantung pada tangannya yang mulia:

Berhentilah sebentar, ya akhi, biar aku puaskan memandangmu. Biar kita Ia menciumi tangannya dan kakinya. Semua perempuan mengikutinya, menciumi tangan dan kakinya. Imam al-Husain menyuruh mereka menghentikan tangisannya. Ia menyentuhkan jemarinya yang suci ke dada Zainab dan melantunkan doa-doa yang pilu. Sentuhan jemarinya memasukkan ketenangan dan kesabaran ke dalam hati sanubari Zainab. “Tenanglah saudaraku, putra ibuku. Engkau pasti akan melihatku melakukan apa yang kausukai dan kauridoi”

Baru saja perempuan-perempuan itu masuk kemah, Zainab menyusul lagi kakaknya. Zainab teringat wasiat ibunya, az-Zahra: Jika nanti datang suatu hari, permata hatiku al-Husain mau maju ke medan perang, dan aku tidak bersama dia, sebagai penggantiku, ciumlah dia pada lehernya.

“Akhi tawaqqaf qaliilan hatta a’mala biwashiyyati ummi.”

“Kakak, berhentilah sebentar sampai aku laksanakan wasiat ibuku” Saksikan, al-Husain menyerahkan lehernya untuk dicium ibunya, yang diwakili saudaranya. Leher itu pernah diciumi Rasulullah saw. Leher itu pernah diciumi Fathimah az-Zahra. Leher itu pernah diciumi Amirul Mukminin. Sebentar lagi kita akan menyaksikan leher yang sama ...leher yang sama...leher yang agung dan suci itu.. ditebas pedang. La hawla wa la quwwata illa billahil azhim. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. 

Menangislah saudara untuk dia yang menyerahkan lehernya pada ciuman Rasulillah dan al-Zahra. Menangislah saudara untuk dia yang mempersembahkan kepalanya untuk menegakkan agama Rasulullah saw. Menangislah untuk dia yang meneriakkan suara umat tertindas sepnjang zaman: Jika agama Muhammad ini tidak tegak kecuali dengan membunuh aku, hai pedang-pedang tebaslah aku!

Biarkan air mata kita mengalir. Biarkan darah kita mengalir. Biarkan air mata dan darah kita bergabung dengan darah al-Husain, dengan air mata dan darah para putra al-Husain, dengan air mata dan darah sahabat-sahabat al-Husain, dengan air mata dan darah para syuhada yang melepaskan arwahnya di halaman al-Husain. Ya Aba Abdillah, ‘alaiki minna salaamullah ma baqiina wa baqiyal layli wan nahaar! 

Makassar, 10 Muharram 1433 H / 5 Desember 2011.

KH Jalaluddin Rakhmat adalah Ketua Dewan Syura IJABI


Fri, 13 Aug 2021 @14:13

Copyright © 2021 Misykat · All Rights Reserved