Rubrik
Terbaru
Media Kajian

Fanpage Facebook MISYKAT

YouTube Channel Misykat TV 

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Di Bandung, Asyura bersama Kang Jalal

image

Senin malam selasa kemarin, di Bandung ada peringatan Asyura, 10 Muharram 1436 H. Ribuan orang hadir dalam acara yang berlokasi di lantai lima sebuah mall di jalan Jakarta Bandung. Saya hadir karena dapat informasi dari facebook. Saya hadir jam lima sore. Saya naik ke lantai lima.

Di sana, petugas mall mengarahkan saya naik lift lagi. Saya pun menurutinya. Akhirnya tiba di lokasi. Ramai dan banyak orang berpakaian pangsi (khas Sunda) hitam-hitam dan mengunnakan iket kepala. Kaum wanita yang hampir semua berjilbab hitam. Bahkan saya lihat ada yang mengenakan jubah-jubab hitam. Pada bagian pintu depan disediakan makanan ringan gratis, buku kecil tentang doa dan kata-kata mutiara Imam Husain, cucu Nabi Muhammad saw, dan buletin Al-Tanwir.

Saya masuk bagian pintu laki-laki. Masuk ruangan yang luas dan banyak jamaah sedang baca shalawat. Kaum muslimah sebelah kanan duduk dengan batas karpet dengan barisan laki-laki yang berada di barisan kiri. Seseorang terus melantunkan shalawat yang diikuti jamaah.

Di sana, saya bertemu teman-teman dari UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Mereka heran kepada saya yang menghadiri asyura. Saya hanya senyum dan bilang bahwa acara itu milik umat Islam yang cinta kepada Rasulullah saw dan keluarganya. Kawan saya yang tanya tersenyum.

Saat shalat maghrib tiba, panitia meminta jamaah untuk shalat berjamaah. Saya ambil air wudu. Ketika masuk lagi ternyata pojok kiri ada tenda hitam. Saya lihat banyak orang yang sedang donor darah. Di sana ada petugas yang pakai baju yang bertuliskan PMI.

Saya langsung gabung dengan jamaah shalat maghrib. Saya lihat jamaah di samping saya shalat dengan tangan tidak sedekap (tangannya ke bawah). Saya ikut menyesusaikan dan ikut shalat maghrib.

Selesai shalat, saya lihat beberapa orang dari sebelah kiri ternyata shalat dengan tangan sedekap. Dalam hati saya bergumam: ternyata bukan hanya Muslim Syiah yang hadir, orang Sunni juga ada.

Terdengar alunan zikir, doa, dan bacaan Quran surah Yaasin. Saya hanya mendengar saja karena tak bawa Quran.

Selesai baca surah Yaasin dilanjut dengan bacaan tahlilan yang biasa dibaca kalau ada yang wafat.

Saya cukup hafal sehingga mengikutinya. Kemudian panitia menyeru untuk shalat Isya. Jamaah pun mengikutinya. Selesai shalat, panitia meminta jamaah untuk mendekat pada panggung. Ternyata dari arah belakang orang-orang terus berdatangan dan jumlahnya ribuan.

Dimulailah acara. Diawali pembacaan ayat Al-Quran dengan lantunan merdu khas Nahdlatul Ulama (NU). Dilanjutkan dengan shalawat, lagu Indonesia raya, mars dan hymne IJABI (Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia, karena yang selenggarakan adalah IJABI). Kemudian ada yang membaca teks pancasila dan diucap ulang oleh jamaah. Sangat nasionalis. Gumam saya dalam hati.

Lalu, seseorang naik panggung melakukan monolog dari teks yang terdapat dalam buletin Al-Tanwir. Isinya cukup membuat saya terenyuh dan melelehkan air mata saya. Kemudian Ketua Umum IJABI berpidato yang menyeru untuk saling menjaga persatuan di antara sesama umat Islam.

Muncul tayangan documenter peringatan asyura di berbagai negara seperti Amerika, Australia, Inggris, Iran, Lebanon, Bahrain, Afrika, Belanda, dan Indonesia (Yogyakarta dan Bengkulu).

Kemudian Kang Jalal (Jalaluddin Rakhmat) naik panggung. Mulai membacakan narasi kisah perjuangan keluarga Nabi Muhammad saw dari peristiwa ghadir khum: pengangkatan Imam Ali sebagai pemimpin Islam oleh Rasulullah saw. Dilanjutkan dengan kisah saat menjelang wafat Nabi Muhammad saw dan kejadian menjelang wafat Imam Ali yang ditebas dengan pedang ketika sujud shalat subuh.

Lalu, berceritalah Kang Jalal tentang Imam Husain. Sangat runut mulai dari saat berada di Karbala sampai pemenggalan kepala Imam Husain oleh penjahat-penjahat suruhan Yazid bin Muawiyah, penguasa Dinasti Umayyah.

Saya sedih mendengarnya. Sebab kelompok kecil keluarga Nabi Muhammad saw yang berjumlah kurang dari seratus orang diperangi oleh puluhan ribu dengan senjata lengkap.

Kaum Muslim keturunan Nabi digiring, dipecut, dan putra Imam Husain yang laki-laki bernama Imam Ali bin Husain pun digiring. Diperlakukan seperti tawanan perang. Sungguh biadab mereka terhadap keluarga Nabi. Sungguh tidak mencerminkan perilaku Islami. Begitu gumam saya sambil terus melelehkan air mata.

Kang Jalal memandu baca doa ziarah untuk keluarga Nabi. Disambung dengan tawasul kepada Rasulullah saw.

Di akhir acara, Kang Jalal meminta perwakilan dari Katolik (seorang romo yang berpakaian khas pastor), perwakilan Ahmadiyah, perwakilan NU yang bernama Kiai Alawi Bantani, seorang pengurus Muhammadiyah Jawa Barat, dan komandan satgas PDIP yang menjaga berlangsungnya acara asyura bersama polisi. Mereka memberikan apresiasi yang positif dan menyambut seruan IJABI yang ingin menyebarkan dan menjalin persatuan kaum beragama di Indonesia.

Sebelum berakhir, panitia menyampaikan terima kasih. Tidak lupa menginformasikan agar tidak tersulut emosi dengan teriakan orang-orang di luar yang melakukan demo menolak acara asyura. Saya turun bersama ribuan jamaah ke bawah. Saya bawa motor ke depan mall. Saya lihat hanya belasan orang dan sebagian besar masih remaja yang berdemo. Aksi mereka diawasi terus oleh polisi dan satgas PDIP. Saya percaya bahwa polisi dan satgas PDIP bisa menyelesaikan pendemo acara Islam.

Karena itu, saya langsung pulang. Memacu motor di malam hari. Terngiang terus di kuping, sedih nan pilu Keluarga Nabi.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa aali Muhammad

(Ahsa Al-Banduni)

Thu, 6 Nov 2014 @20:12

Copyright © 2019 Misykat · All Rights Reserved