Rubrik
Terbaru
Media Kajian

Fanpage Facebook MISYKAT

YouTube Channel Misykat TV 

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Miftah F. Rakhmat: (Mencoba) Menerapkan Ilmu dan Iman dalam Pendidikan (1)

image

Pengetahuan dan Iman, dua kata singkat yang diberikan kepadaku untuk judul tulisan ini. Keduanya bisa dijelaskan terpisah, tetapi pada saat yang sama juga bisa dibahas menjadi satu. Pengetahuan adalah awal Iman dan Iman adalah buah pengetahuan.

Tentu, definisi itu pun bergantung pada “pengetahuan” saya tentang kedua kata itu. Lantas apakah sejatinya pengetahuan? Dan Iman? Bagaimana menjelaskan Iman, yang sering diartikan pada “keyakinan” dalam bahasa kita?

Biarlah saya mengawalinya dengan sebuah cerita. Alkisah, Baba Thahir Hamadani, seorang mistikus Persia menceritakan awal perjalanannya menjadi seorang mistik. Pada usia belia, ia dikirim untuk menimba ilmu di sebuah pesantren tradisional. Nama sebenarnya hanya Thahir saja. Baba adalah panggilan kehormatan untuk seorang yang “berpengetahuan.”

Mirip kata Abuya di Padang atau Kyai di Jawa. Hamadani adalah nama yang dilekatkan karena beliau berasal dari Hamadan, sebuah kota di sebelah selatan Teheran sekarang ini. Di Hamadan, dan di Iran pada umumnya, pesantren-pesantren tradisional biasanya berbentuk segi empat dengan sebuah lapangan sebagai ruang kosong di tengah-tengahnya. Persis di tengah bangunan itu selalu ada sebuah telaga yang menjadi “penyegar” suasana, sekaligus tempat berwudhu sebelum ke Mushalla.

Waktu itu, malam hari musim dingin. Salju baru saja mulai turun. Ketika Thahir menjejakkan kakinya di pesantren, puluhan senior menantinya. Layaknya perpeloncoan di beberapa institusi di negeri kita, Thahir diminta untuk berendam di dalam telaga yang dingin itu. Para senior mengira, Thahir tidak akan kuat lama-lama. Kata mereka, kamu tidak layak masuk dan belajar di pesantren ini. Mungkin mereka bercanda, atau benar-benar mengiyakannya. Sesuatu yang tidak pernah bisa kita “ketahui” atau kita “yakini”.

Toh, menurut shahibul hikayat, mereka sudah menjerang air hangat untuk memulihkannya. Sejam, dua jam berlalu, dan Thahir tak bergeming. Ia tetap berada di dalam telaga itu. Para senior mengintip dari balik tirai, dan Thahir tetap bertahan. Hingga datanglah waktu Subuh. Bergegas para senior bergerak ke arah Thahir seraya berkata: Cukuplah, kamu sudah layak menjadi murid di tempat ini. Thahir berpaling dan berkata: Ya, cukuplah. Apa yang kalian pelajari puluhan tahun di tempat ini, sudah aku peroleh hanya dalam satu malam saja!

Kisah itu biasa saya sampaikan untuk membedakan antara Pengetahuan dengan Iman. Tergantung definisinya, maka ilmu yang diperoleh para senior Thahir adalah pengetahuan, dan makrifat yang dialami Thahir adalah buah keimanan. Dalam satu bentangan yang panjang, baik Pengetahuan maupun Iman mempunyai berbagai tingkatan. Saya akan mengatakan pengetahuan dasar berpangkal pada indra. Plato menyebutnya sebagai persepsi.

Sementara Aristoteles bergerak lebih jauh dan menyebut intelek sebagai sumber pengetahuan dasar. Saya juga akan mengatakan pengetahuan yang sejati adalah dasar dari sebuah Iman. Tetapi, tingkatan yang tertinggi dalam Iman pun adalah Pengetahuan itu sendiri, adalah Ilmu, adalah tahu.

Bagaimana kita membedakannya? Ambillah cerita tentang surga dan neraka. Apakah kita sekarang ini sebatas “tahu” tentang surga atau sudah mengimaninya? Bila pengetahuan berawal dari indra, maka indra kita tak pernah melihat neraka. Tapi, bila kita mengimaninya, mungkinkah kita masih berbuat maksiat karenanya?

Allamah Thabaththaba’i, penulis Tafsir Mizan, menafsirkan hadis awwallu al-diin agak berbeda dengan penafsir lain. Awal hadis itu berbunyi: awwalu al-diin makrifatullah. Awal agama adalah mengenal (makrifat) Allah. Banyak orang menafsirkan kata makrifat sebagai sebuah tingkatan final setelah syari’at, thariqat, dan haqiqat. Tapi bagi Allamah, makrifat justru sebagai dasar dari perjalanan. Makrifat adalah pengenalan: akan benda-benda, akan keberadaan, akan penciptaan, akan Sang Pencipta. Baru setelah itu, perjalanan pengetahuan (dan keimanan) berlanjut pada fase berikutnya.

Tahapan perbedaan itu didasarkan pada rintangan yang menyelimutinya. Orang-orang tasawuf menyebutnya hijab. Berdasarkan “tirainya”, pengetahuan yang kita peroleh pun bertingkat-tingkat. Sebagian ulama lain lebih senang dengan kata “kesadaran” merujuk pada jenis pengetahuan yang mengantarkan pada keimanan yang lebih tinggi. Ambillah teori tentang atom. Katanya, makin tinggi kesadaran seseorang, ia akan melihat kehampaan dari seluruh benda yang ada di sekitarnya. Alam semesta dipecah menjadi partikel-partikel kecil, yang pada gilirannya sirna dalam keesaan dan ketauhidan wujud.

Tingkatan keimanan itu pun disiratkan Al-Quran ketika membedakan jenis-jenis pengetahuan: mulai dari ‘ayn al-yaqin, ‘ilm al-yaqin, hingga haqq al-yaqin. Pengetahuan berdasarkan persepsi (‘ayn al-yaqin) sangat tergantung pada kesehatan alat pengindra, dan situasi yang ada di dalamnya. Cerita Gua dari Plato secara jelas menggambarkan permasalahan ini. Pengetahuan berdasarkan nalar (‘ilm al-yaqin) juga bergantung pada jalan-jalan pemaknaan dalam menggunakan fakulti nalarnya.

Menurut Jalaluddin Rumi, orang yang sampai pada Kebenaran dengan menggunakan nalarnya sama seperti orang buta yang dituntun oleh tongkatnya. Ia sampai pada Kebenaran tapi tidak bisa melihatnya. Pengetahuan berdasarkan keimanan (haqq al-yaqin) adalah pengetahuan yang tak lagi dibatasi oleh tirai-tirai. Diriwayatkan Sayyidina ‘Ali berkata: law kasyafat ‘anni hijab, mazdadat imani. Sekiranya tirai-tirai (yang membatasi alam ini) disingkap, tidak sedikit pun keimananku akan bertambah.

Bila pengetahuan masih harus dimanifestasikan. Iman adalah manifestasi keyakinan itu seluruhnya. Toh, keimanan yang sejati akhirnya adalah hakikat pengetahuan. Bukankah Al-Quran sendiri mengatakan: Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Allah adalah orang-orang yang berpengetahuan (QS. Fathir [35]:28). 

Sumber: Miftah Rakhmat

Wed, 26 Jun 2019 @14:23

Copyright © 2019 Misykat · All Rights Reserved