Rubrik
Terbaru
BERBAGI BUKU

TULIS nama, alamat & HP/WhatsApp pada KONTAK

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

Twitter Kata Hikmah 

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Miftah F. Rakhmat: (Mencoba) Menerapkan Ilmu dan Iman dalam Pendidikan (2)

image

Pendidikan bagi Kesempurnaan Manusia
Alkisah, Ibnu Sina berjalan di tengah pasar. Waktu itu, ia menyandang jabatan terhormat di tengah masyakarat. Sebagai seorang cendekia, ia menjadi penasihat bagi penguasa. Kemana pun ia pergi, sekian hulubalang menemaninya.

Di tengah pasar itu, iring-iringan Ibnu Sina melewati seorang pemulung di pinggir jalan. Melihat rombongan para pembesar itu, pemulung ini mengucapkan kalimat singkat, “What a way to show honor and greatness” (Saya ambil cerita ini dari buku Perfect Man , Murtadha Muthahhari, terjemahan bahasa Inggris. Saya kesulitan menemukan padanan “suasana” yang pas dalam bahasa Indonesia. Bila diterjemahkan, nada sinisnya hilang. Mungkin karena karakteristik budaya yang membentuk bahasa).

Mendengar itu, Ibnu Sina berhenti sejenak. Ia turun dari kudanya, menghampiri pemulung itu dan bertanya: “Apa maksud ucapanmu tadi?” Pemulung itu menjawab, “Engkau menampakkan kebesaran, karena jabatan yang diberikan orang kepadamu. Aku pandang hidupku mudah karena tidak terikat pada siapapun. Aku merdeka karena tidak menjadi budak seorang pun, tidak sepertimu.”

Kisah di atas ditulis oleh Murtadha Muthahhari, guru besar yang ikut membantu keberhasilan Revolusi Islam di Iran. Saya ambil Muthahhari karena beberapa hal. Pertama , ia menulis buku khusus tentang Manusia Sempurna. Kedua , ia persembahkan hidupnya untuk masyarakat, terutama dunia pendidikan. Hari syahadahnya ditahbiskan sebagai hari Guru di Iran.

Alasan yang terakhir, Muthahhari jadi model lembaga pendidikan kami untuk mengembangkan potensi manusia menuju kesempurnaan. Menurut ayah saya, “…salah satu tujuan pendidikan adalah untuk memaksimalkan potensi manusia, membantu manusia untuk berkembang mencapai tingkat kesempurnaan setinggi-tingginya” (Jalaluddin Rakhmat).

Sempurna, Selesai, atau Lengkap?
Kutipan ayah saya di atas kami jadikan motto di seluruh lembaga pendidikan kami. Ada makna yang tersirat dalam kalimat itu, yaitu definisi kesempurnaan. Sempurna berbeda dengan selesai, atau lengkap. Jika seseorang telah sampai pada tahap akhir dari satu tujuan, ia boleh dikatakan selesai. Apakah yang selesai kita sebut sempurna dan yang tidak selesai kita sebut tidak sempurna? Bila seorang bayi terlahir dengan anggota tubuh yang lengkap, apakah yang terlahir tuna netra atau tak berlengan bisa dikatakan tidak sempurna?

Definisi “selesai” dan “lengkap” adalah definisi yang dibatasi oleh sekat budaya dan lingkungan demografis tertentu. Pendidikan formal mungkin selesai sampai tahap guru besar, dan penganugerahan gelar itu pun bergantung pada kondisi-kondisi tertentu. Rumah dikatakan lengkap bila memiliki seluruh peralatan dan tempat yang sesuai dengan fungsinya.

Karenanya, selesai dan lengkap adalah sebuah istilah yang memberikan makna secara horizontal. Ia punya awal, dan selesai ketika mencapai tujuan. Apapun itu. Sedangkan sempurna adalah sebuah perjalanan vertikal yang tak mengenal akhir. Bahkan, dalam beberapa pendapat, ia tak mengenal awal juga.

Dalam terminologi Islam (Arab) digunakan kata “kamil” untuk menunjukkan kesempurnaan dan “tamma” untuk merujuk pada ketercapaian sesuatu.

Istilah manusia sempurna yang digunakan oleh Muthahhari adalah Insan Kamil . Tetapi, menurut Muthahhari sendiri, konsep manusia sempurna sebetulnya tidak ditemukan dalam sejarah Islam, paling tidak sejak zaman para sahabat Rasulullah Saw hingga masa pertengahan Islam, orang tidak membicarakan manusia sempurna.

Konsep ini baru dimunculkan dalam putaran sejarah oleh seorang sufi besar, Syaikhul Akbar Muhyiddin Ibn ‘Arabi. Ibn Arabi, keturunan langsung dari Hatim at-Ta’i, mengilhami banyak orang besar sepeninggalnya. Shadruddin Qunawi murid beliau juga memberikan pengaruh besar dalam dunia filsafat dan mistisisme Islam.

Jalaluddin Rumi, yang lebih banyak dikenal di dunia modern sekarang ini, sangat terpengaruh oleh pendapat dan pemikiran Shadruddin Qunawi. Meski demikian, menurut Muthahhari, Jalaluddin Rumi—dengan seluruh penghormatannya—adalah kecil dibandingkan dengan Ibn Arabi.

Cukuplah untuk menerangkan Ibn ‘Arabi, pendapat Nashr Hamid Abu Zayd berkenaan dengannya: Li Ibn ‘Arabi qadamun fii kulli madzhabin wa mu’askarin fil Islaam. (Pasca Ibn Arabi)…ada setiap jejak Ibn Arabi di setiap langkah pemikiran Islam. Termasuk konsep tentang manusia sempurna yang kita bicarakan sekarang ini. Menariknya, Ibn Arabi tidak menggunakan “Insan Kamil” untuk manusia sempurna. Ibn Arabi menyebutnya sebagai “Kaun al-Jâmi’ ”.

Sumber:  Miftah Rakhmat

Fri, 28 Nov 2014 @11:48

Copyright © 2019 Misykat · All Rights Reserved