Rubrik
Terbaru
Media Kajian

Fanpage Facebook MISYKAT

YouTube Channel Misykat TV 

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Miftah F. Rakhmat: (Mencoba) Menerapkan Ilmu dan Iman dalam Pendidikan (3)

image

Definisi Manusia Sempurna

Dalam bukunya Insan Kamil, Muthahhari memperinci berbagai definisi modern tentang kesempurnaan manusia. Semua definisi itu dianggapnya keliru. Muthahhari menawarkan konsep kesempurnaan dengan menyajikan model manusia par excellance untuk itu, yaitu Rasulullah Saw dan Imam Ali as.

Karenanya, kesimpulan saya dari bacaan tentang Muthahhari, pendidikan yang paling cocok untuk tujuan ini adalah pendidikan dengan konsep modeling, meniru dan meneladani segala sesuatu yang berkenaan dengan Sang Manusia Sempurna: mengenal pribadinya, mempelajari realitas dan tantangan sosial di zamannya. Bahkan melakukan apa yang disebut dengan proses imitasi atau copycat

Jika kita sependapat dengan Muthahhari, perbanyak kajian tentang Sang Nabi dan Khalifahnya dalam dunia pendidikan kita. Bersihkan riwayat-riwayat dalam sejarah yang mencederai citra kesempurnaan Sang Nabi. Bila setelah Rasulullah Saw, manusia sempurna pilihan Muthahhari adalah Imam Ali as, bandingkan khazanah ilmu yang diwarisi dari beliau. 

Semestinya kita prihatin, Kitab semisal Shahih Bukhari saja hanya memuat sekitar 80-an hadits yang diriwayatkan Sang Khalifah dari 33 tahun masa hidup beliau bersama Rasulullah Saw.  Khazanah ilmu dari Sang Khalifah banyak yang belum sampai di tengah-tengah kita.

Adapun konsep Kaun al-Jami’ dari Ibn Arabi agak sedikit berbeda. Beliau mengambil konsep manusia sebagai citra Sang Pencipta. Karena itu, manusia yang paling sempurna adalah manusia yang sanggup menghimpun (jami’) seluruh sifat dan asma Tuhan dalam dirinya (kaun). Secara sederhana, ambillah hadits: Sesungguhnya Tuhan memiliki sembilanpuluh sembilan nama, barangsiapa yang ahshaha, ia termasuk penghuni surga. Saya tidak menerjemahkan secara khusus kata ahshaha karena kekayaan makna yang terkandung di dalamnya. Salah satu dari makna itu adalah menghayati dan mengamalkannya.
 

Menurut Ibn Arabi, pengetahuan yang paling baik adalah pengetahuan tentang sifat dan nama Tuhan, dengan seluruh dimensinya. Bila diimplementasikan dalam dunia pendidikan, makna ini lebih dari sekadar “menghafal” seluruh nama itu. 99 adalah jumlah nama yang paling banyak disebut. Ada kitab yang menulis 200an nama Tuhan, 364, bahkan seribu nama indah Allah Swt.

Mempelajari nama Tuhan dalam perspektif Ibn Arabi menyangkut pembahasan tentang keyakinan, kehidupan, takdir dan bentuknya (bagaimana membedakan qadha dan qadar), serta beragam sisi dan sudut pandang dari satu permasalahan. Sekadar contoh ada perbedaan makna antara ‘Aafa, Shafaha, dan Ghafara. Atau antara al-badi’ dan al-mubtadi’. Pemahaman terhadap ragam asma Tuhan dalam dimensinya yang variatif ini akan membawa kita pada pendidikan yang memberikan pencarian makna yang mendalam. Inilah yang sebetulnya bisa kita ajarkan pada anak-anak didik kita.

Sumber:  Miftah Rakhmat


Wed, 26 Jun 2019 @14:25

Copyright © 2019 Misykat · All Rights Reserved