Rubrik
Terbaru
Media Kajian

Fanpage Facebook MISYKAT

YouTube Channel Misykat TV 

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Miftah F. Rakhmat: (Mencoba) Menerapkan Ilmu dan Iman dalam Pendidikan (4)

image

Penerapan praktis dalam dunia pendidikan

Dengan definisi sempurna yang seperti lingkaran pada tawaf, bahwa awal adalah akhir, dan akhir adalah awal yang baru, maka pendidikan yang ditujukan untuk membentuk karakter manusia dalam perjalanannya menuju kesempurnaan adalah pendidikan yang mempunyai ciri-ciri berikut ini.

1. Menanamkan kebanggaan (harga diri)

Menurut seorang pakar pendidikan (ayah saya sering menyebutkannya tetapi saya melupakannya) modal untuk belajar itu hanya tiga: motivasi, motivasi, dan motivasi. Motivasi adalah semangat belajar yang sangat tinggi, dipenuhi antusiasme dan percaya diri. Motivasi juga sebetulnya tumbuh karena harga diri, kebanggaan terhadap yang dipelajari, kebanggaan terhadap almamater, dan kecintaan pada ilmu pengetahuan. Menanamkan kebanggaan ini berbeda dengan sikap ‘ujub dan takabur. Menanamkan kebanggaan bersifat membangun kepribadian. Bukankah Al-Qur’an sering mengangkat harga diri kita ketika mengatakan: Kuntum khaira ummatin ukhrijat linnaas…Kalian adalah sebaik-baiknya umat yang diutus di tengah-tengah manusia. Al-Islam ya’luu wa laa yu’laa ‘alaih…dan seterusnya.

2. Bersifat sangat personal.

Memahami bahwa setiap orang dibekali Tuhan potensi yang berbeda. Di sinilah letak kekayaan makna. Al-Qur’an menyiratkannya dalam beberapa ayat: wa li kulli wijhatin hiya muwalliha atau kullun ya’malu ‘alaa syaakilatih. Semuanya ditujukan agar terjadi implementasi pada kehidupan yang berlandaskan fastabiquu al-khairaat. Bila kita menyimak hadis tentang amalan yang utama, atau diskusi Rasulullah Saw dengan para sahabat, kita akan melihat bagaimana Nabi memberikan pemahaman yang berbeda, dengan cara yang berbeda, tergantung kadar penerimanya. Sementara kita sekarang ini, berusaha untuk menggeneralisasikan dan menyeragamkan semuanya: sejak kurikulum bahkan hingga ujian nasional.

3. Dilandasi perubahan paradigma

Karena sifatnya yang sangat personal, maka pendidik selayaknya memahami bahwa kesempurnaan setiap anak didiknya tidaklah berada di tangannya. Keberhasilan tidak bisa diukur dengan sederet angka dan sebaris ijazah. Pendidikan harus diupayakan dengan perubahan paradigma yang mendasar, bahkan sejak dari pikiran. Ketika berhadapan dengan anak yang dipandang “nakal”, kita mengubah paradigma menjadi “gaya belajar yang berbeda.” Bila ada anak yang memiliki motivasi yang terlihat kurang, kita berusaha untuk menyelami jiwa intrapersonalnya. Ini bukan hambatan, ini peluang yang teramat besar. Ini bukan kewajiban, ini kesempatan untuk bersyukur pada Tuhan.

4. Mengajarkan wawasan paradoksal

Salah satu karakteristik pendidikan modern adalah konsep either or dari Kierkegaard. Pembagian dualisme antara benar dan salah, baik dan buruk. Tanpa masuk lebih jauh pada filsafat etika, pendidikan seharusnya memberikan wawasan paradoksal pada anak didiknya. Bahwa baik tidak selamanya baik, dan buruk tidak selalu demikian. Manusia yang sempurna adalah manusia yang menjaga keseimbangan. Yang berperilaku dan bertindak sesuai dengan tuntutan yang seharusnya. Manusia kebanyakan mungkin melihatnya sebagai inkonsistensi. Ambillah contoh Imam Ali as. Menurut Syafruddin Hilli Imam Ali adalah contoh par excellanceseluruh kontradiksi ini. Beliau selembut rahib di malam hari tetapi setegar singa di siang hari. Setangguh karang di medan perang, tetapi setenang sunyi di mihrab peribadatan. Wawasan paradoksal adalah pemahaman bahwa ini semua bukan inkonsistensi dan kontradiksi, melainkan keharusan dan saling melengkapi. Bukankah sifat Tuhan penuh dengan paradoks ini: Dia awal dan juga akhir. Dia lahir dan juga batin. Mahaluas rahmatNya dan juga Mahakeras siksaanNya.

5. Mengajarkan pemberian makna

Ada kisah Cina yang sering saya ulang pada murid-murid dan mahasiswa saya. Alkisah, seorang pemuda patah tulang kakinya. Apakah anak muda ini mengalami kemalangan, atau keberuntungan? Bad luck or good luck? Kita mungkin segera menjawab dengan yang pertama: ini kemalangan. Cerita berlanjut. Kemudian datang titah raja bahwa setiap anak muda yang sehat harus bertempur di garis depan. Apakah patah kakinya kemalangan atau keberuntungan? Maka berangkatlah anak-anak muda yang sehat, kecuali yang patah kakinya. Jiwa-jiwa belia itu siap dikorbankan di medan laga. Ternyata, sampai di tujuan, perang sudah berakhir. Dan mereka dikembalikan ke kampung halaman, dengan predikat pahlawan dan segudang penghargaan. Anak muda yang patah kakinya merenung: apakah patah kakinya bad luck or good luck for him. Waktu berlalu setelah itu, para pemuda menggunakan penghargaan dari raja dengan membuka usaha. Tetapi kemudian raja membebani mereka pajak yang berat. Penghargaan yang diberikan diperlakukan sebagai pinjaman, dengan bunga yang berlipat ganda. Semua pemuda merugi, kecuali anak muda yang patah kakinya. Apakah patah kakinya itu kemalangan atau keberuntungan?

Contoh kisah singkat di atas memberikan pada kita gambaran bahwa anugerah terbesar Tuhan bagi manusia adalah kebebasannya dalam memberikan makna. Setiap hal yang terjadi dalam kehidupan, begitu juga proses pembelajaran, selayaknya dimaknai dalam dimensinya secara personal.

6. Berorientasi Pembebasan

Pendidikan yang diarahkan untuk kesempurnaan manusia adalah pendidikan yang berorientasi pada pembebasan. Seperti kisah pemulung dan Ibnu Sina. Setinggi apa pun derajat dan pendidikan yang ditempuh Ibnu Sina, dia tetaplah terikat pada syarat penguasa. Kebesaran yang diperolehnya adalah kebesaran semu semata. Pendidikan harus mengarah pada penghambaan manusia pada Sang Pencipta. Inilah bentuk paradoks berikutnya: selama manusia terikat pada selain Tuhan, dia tidak pernah meraih kemerdekaan. Ketika ia diperbudak dalam penghambaan Tuhan, itulah sejatinya ketika ia beroleh kemerdekaan. ‘Abd (budak, hamba) adalah gelar tertinggi yang diberikan pada manusia sempurna. Jauh melebihi para nabi dan rasul. Ketika Rasulullah Saw diberangkatkan pada malam ruhani Mi’raj yang suci, Tuhan tidak menggelarinya nabi atau rasul, sebagaimana kebiasaan Allah Ta’ala dalam Al-Qur’an. Tuhan memanggilnya dengan panggilan kehormatan: Subhaanalladzi asra bi’abdihi.

Pendidikan untuk kesempurnaan manusia adalah pendidikan yang memberdayakan dan memerdekakan.

7. Pendidikan yang Menyetarakan

Terakhir, karakteristik pendidikan yang ditujukan untuk kesempurnaan manusia adalah pendidikan yang menyetarakan. Guru dan murid, ustadz dan santri, pendidik dan yang dididik adalah sahabat dalam kafilah ruhani yang sama menuju Tuhan. Cerita Bahlul dari Muthahhari amatlah tepat menggambarkan kondisi ini. Sebagai contohnya—lagi-lagi dari Imam Ali as—dalam ucapan yang saya kutip di awal tulisan. Diambil dari surat bagi panglima perangnya, Imam Ali menyampaikan prinsip pendidikan yang menghasilkan kesetaraan: yaitu ketika yang lemah berdiri di hadapan yang kuat, meminta haknya tanpa terpatah dan terbata dalam pembicaraannya.

Tujuh poin tentang kesempurnaan manusia dalam tinjauan pendidikan di atas sebetulnya saya ambil dari makna syair Perguruan Muthahhari. Simaklah butir-butir pemahaman itu sambil merenungkan Mars Muthahhari di bawah ini:

Di Sekolah Muthahhari
Kami berjanji suci
Demi Allah
Rabbul ‘Izzah
Kami kafilah mulia.

Berjalan menuju Dia
Sahara tak terhingga
Maju terus, maju terus
Meraih cinta Dia

Sucikanlah jiwa, serapkan asma Allah
Cerdaskanlah akal, serapkan asma Allah (2X)

Mengakhiri tulisan ini, tiada teladan yang paling baik dalam proses penyempurnaan, kecuali merujuk pada insan-insan yang telah disucikan: Rasulullah dan keluarganya yang suci. Berbahagialah para guru yang menenggelamkan diri mereka dalam amanat mulia ini, andai saja mereka dapat memberikan makna pada proses yang mereka lakukan, dan bagaimana mereka berada dalam satu jalur yang sama, dengan para pengemban tugas itu sepanjang sejarah: para nabi dan rasul. Pendidikan menuju kesempurnaan karenanya adalah tugas kerasulan.

Sumber:  Miftah Rakhmat


 

 

 

Wed, 26 Jun 2019 @14:25

Copyright © 2019 Misykat · All Rights Reserved