Rubrik
Terbaru
Telegram Misykat
image

.

YouTube Misykat TV
image

.

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed
AUDIO KAJIAN ISLAM

TATA CARA SHALAT

Minat beli buku klik covernya
image

 

Flash Disk OTG Kajian Islam
image

.

Facebook Misykat
image

.

BAHAN BACAAN (Buku PDF)
image

 

Pentingnya Bahasa Arab [by Miftah Rakhmat]

image

"Kalau ingin menulis, tulislah..." pesan ayah saya, "jangan pusing dengan ide." Maka saya pun menuliskan apa yang muncul di pikiran.

Saya selalu teringat pesan Ust. Jalal, “Kalau ingin menulis, tuliskan saja. Jangan pusing dengan ide. Jangan terhambat dengan pikiran. Tuliskan saja (mainkan keyboardnya!). Nanti ide akan datang dengan sendirinya.”

Alkisah, dalam satu pertemuan, seorang kawan sebut saja Bung E, punya seorang kawan lagi, namanya Dr. Y. Dr. Y mengisahkan pengalaman pribadinya yang memiliki keinginan kuat untuk bisa belajar bahasa Arab. Karena menurutnya, itulah bahasa Islam dan Al-Qur’an. Tetapi—masih kata Dr. Y—ia merasa bahwa Islam bisa disesuaikan dengan seluruh kultur dan bahasa. Tidak perlulah kita kemudian belajar Bahasa Arab untuk memahami Islam dengan benar. Al-Qur’an membuka peluang penafsiran yang luas, bahkan dalam bahasa Indonesia sekalipun.

Menurut sumber berita saya, kabarnya Dr. Y di-”semprot” almarhum Gus Dur yang menjelaskan tentang penelitian Hasan Hanafi mengenai pentingnya Bahasa Arab. Terlepas dari pro dan kontra itu, saya ingin sedikit berbagi tentang pengalaman saya belajar Bahasa Arab.

Alhamdulillah, saya diberi kesempatan untuk belajar di beberapa pesantren tradisional di Iran. Di sana, saya belajar dasar-dasar Bahasa Arab. Meski mirip dengan Bahasa Persia, tidak semua orang Iran bisa dengan cepat belajar Bahasa Arab. Bahkan, menurut saya, metodologi pengajaran Bahasa Arab di sebagian pesantren di Indonesia masihlah yang terbaik. Orang Iran—karena bahasa Persia aslinya sudah tercampur hampir 60 persen dengan Bahasa Arab—terkadang mencampuradukkan kedua bahasa itu. Tapi, untungnya bagi saya, khazanah pemaknaan terhadap kosakata dalam Bahasa Arab menjadi sangat beragam.

Dan saya percaya betul bahwa Al-Qur’an turun dalam Bahasa Arab bukan karena unsur “kebetulan”. Ada orang berpendapat mengandaikan sekiranya Nabi turun di pulau Jawa, mungkin bahasa Al-Qur’an adalah Bahasa Jawa. Bagi saya, keunikan Al-Qur’an justru terletak pada sejarah bahasanya. Bagi saya—selain mukjizat lainnya—kelebihan Al-Qur’an juga terdapat pada fashahah dan balaghah---nya. Pemilihan kata-kata dalam Al-Qur’an begitu pas, tidak berat di pengucapan, dan mengandung makna yang sangat dalam. Tidak akan ada kitab setelah Al-Qur’an, dari zaman pasca Nabi hingga modern sekarang ini, yang mampu menuliskan bahasa Arab seindah Al-Qur’an. Sekiranya tidak turun Al-Qur’an, Bahasa Arab akan hilang ditelan perubahan zaman. Yang mungkin kita kenal sekarang adalah Bahasa Mesir, Saudi, Suria, Libanon, Tunisia, dan sebagainya.

Saya ingin berbagi sedikit saja mengenai beberapa contoh penafsiran dan kekayaan makna kata Bahasa Arab dalam Al-Qur’an. 

Pertama, kata hubb, yang artinya cinta. Kata para sufi, kata hubb dipilih untuk cinta karena ia berasal dari dua huruf, (ha) dan (ba). Apa kaitannya huruf dengan definisi cinta? Ha dalam pengucapan makhraj huruf kita berasal pangkal tenggorokan kita yang paling dalam, dan ba berasal dari ujung bibir yang paling luar (coba saja). Semua pelafalan huruf dalam Bahasa Arab punya tempatnya dalam rongga mulut dan tenggorokan kita.

Begitu juga ha dan ba. Ia berasal di awal dan akhir. Sehingga, melalui penempatan posisi huruf ini saja, menurut para sufi, cinta yang hakiki kepada Allah Swt haruslah ibarat kata hubb itu sendiri: berasal dari yang paling awal, dan berhenti pada yang paling akhir. Cinta Ilahi adalah awal dan akhir, lahir dan batin, kepasrahan yang sempurna.

Kedua, kata fitnah. Fitnah sudah menjadi kata serapan dalam Bahasa Indonesia. Sebagai istilah fitnah artinya sesuatu hal tidak benar yang kita nisbatkan kepada seseorang. Tetapi, kita akan sedikit kesulitan ketika kita menempatkan kata itu pada ayat yang bunyinya, “Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah fitnah(bagimu): di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (QS. Al-Taghabun: 15).

Dalam penafsiran Departeman Agama, kata fitnah diterjemahkan dengan cobaan. Mungkin menarik bagi kita untuk menyimak arti lain dari kata fitnah.Fitnah juga bisa berarti yang menyilaukan mata, yang menarik penglihatan, yang membuat pandangan kita terpusat kepada sesuatu. Alangkah indahnya bila ayat yang sama kita maknakan dengan: bahwa anak-anak dan harta kita bisa memalingkan perhatian kita dari Allah Swt. Artinya, nikmat yang datang dari Tuhan, kadang-kadang membuat kita melupakan Tuhan itu sendiri. Makna ayatnya menjadi lebih “kaya”.

Ketiga, kata ijabah. Secara umum kita mengartikan doa yang di-ijabah sebagai doa yang pasti dikabulkan. Kendalanya adalah Tuhan ternyata tidak selalu dirasakan mewujudkan apa yang kita kehendaki. Jadi polemik bila tukang es minta siang hari terang benderang sementara tukang bakso berdoa agar diturunkan hujan. Sering kita dihibur dengan hadis yang mengatakan bahwa doa itu pasti dikabulkan, tetapi dalam bentuk yang menurut Tuhan lebih baik bagi kita.

Pemaknaan yang lebih memudahkan pengertian hadis-hadis itu bisa kita dapatkan dengan memberikan pengayaan terhadap kata ijabah. Dalam Bahasa Arab, ijabah juga berarti sesuatu yang positif. Ijabi berarti segala sesuatu yang dinisbatkan dengan hal yang positif. Lawan dari Ijabiadalah Silbi. Bila makna itu kita perdalam, maka mungkinkah kita menafsirkan bahwa yang dimaksud denganijabah doa Tuhan adalah bahwa Dia memberikan kepada kita jawaban dari doa-doa kita dengan hal-hal yang positif bagi kita menurut Dia. Bukankah, “Sering kita menghendaki yang baik padahal itu buruk buat kita, dan sering kita membenci yang buruk padahal itu baik buat kita.”

Keempat, kata sakinah. Ayat “resmi” acara pernikahan adalah Surat Ar-Ruum:22 Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. Kalimat yang saya tulis tebal adalah terjemahan dari kata litaskunû ilayha (supaya kalian memperoleh “sakinah” kepadanya). Kata sakinah berakar pada kata sakina. Ia memiliki derivasi kata seperti maskan yang artinya tempat tinggal. Sesuatu yang tidak bergerak, dalam ilmu tajwid misalnya, disebut dengan sukun, juga termasuk di antara pecahan katanya.

Karena itu, saya memaknai sakina sebagai sesuatu yang diam, sesuatu yang tinggal. Izinkanlah saya menerjemahkan pengertian keluarga yang sakinah sebagai keluarga yang setiap anggota di dalamnya merasabetah tinggal bersamanya. Ayah sakinah adalah family man, orang rumahan.

Bukanlah keluarga sakinah suami yang sering menghabiskan waktu di luar rumahnya ketika peluang untuk itu tersedia. Baru saja sejam pulang kantor, suaminya sudah keluar lagi untuk berkumpul bersama kawan-kawannya. Suami yang seperti itu menemukan sakinah bersama kawannya dan tidak bersama keluarganya. Keluarga sakinah ditandai dengan diskusi yang hangat di antara anggota keluarga; bahan pembicaraan yang tak terbatas di antara satu sama lain. Jika kita ingin mengukur apakah kita termasuk pasangan suami istri yang sakinah, ukurlah bahan pembicaraan kita.

Dulu, sewaktu pacaran, segala sesuatu bisa menjadi bahan pembicaraan. Bahkan lalat yang hinggap di gelas minuman kita asosiasikan dengan hadis Nabi (itu kalau yang pacarannya Ustad!). Setahun dua tahun menikah, materi pembicaraan menjadi menyempit. 15 tahun pernikahan mungkin yang dibicarakan tinggal lauk pauk makan siang saja. Keluarga yang sakinah justru sebaliknya. Karena ia tinggal di dalamnya. Ia diam di dalamnya. Ia betah bersamanya. Semua itu kita ambil dari pengertian yang sangat kaya dari kata sakinah.

Sungguh, setelah itu, saya heran bila masih ada orang yang mengatakan bahwa Bahasa Arab tak diperlukan dalam memperkaya pemahaman ajaran Islam. Kepada Dr. Y saya ingin mengatakan, “Bukankah itu juga wasiat terakhir Cak Nur kepada anak-anaknya?”
 

MIFTAH RAKHMAT adalah penulis buku The Prophetic Wisdom


Mon, 6 Jan 2020 @13:11

Copyright © 2020 Misykat · All Rights Reserved