Rubrik
Terbaru
MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

BERBAGI BUKU ISLAM

TULIS nama, alamat lengkap & nomor HP/WhatsApp pada KONTAK

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Miftah F.Rakhmat: Kemuliaan Shalawat (1)

image

Dalam Bihar al-Anwar, seseorang bertanya pada Imam Ali as tentang empat hal, ''Apa itu wajib?''
Imam menjawab, ''Taat kepada (perintah) Allah.''
''Apa yang lebih wajib?''
''Meninggalkan dosa dan yang dilarang Allah.''
''Apa yang dekat?''
''Hari kiamat.''
''Dan apa yang lebih dekat?''
''Kematian.''
''Apa yang aneh?''
''Dunia.''
''Apa yang lebih aneh dari itu?''
''Para pecintanya.''
''Apa yang sulit?''
''Kuburan.''
''Apa yang lebih sulit dari itu?''
''Memasukinya tanpa persiapan.''

Dalam riwayat lain, pertanyaan keempat itu dijawab dengan ''Perjalanan, dan menempuhnya tanpa perbekalan.'' Ada juga riwayat, ''Alam kubur, dan memasukinya dengan tangan kosong.''

Yang menarik adalah riwayat ketika jawaban itu diberikan Imam Ali as dalam syair yang indah:

Taubur rabbil warab waajibun 'alaihim/
Wa tarkuhum lidz dzunuubi awjab(un)//

Wad dahru fii sharfihi 'ajabun/
Wa ghiflatun naasi fiihi a'jab(un)//

Was shabru fin naa'ibaati sha'bun/
Laakin faututs tsawaabi as'ab(un)//

Wa kullama yurtajaa qariibun/
Wal mawtu min kulli dzaaka aqrab(un)//

Kalimat Imam, indah, singkat, namun dalam maknanya dan saling memperkaya satu dengan yang lainnya. Berikut terjemahan untuk syair Imam Ali as.

Bertaubat pada Tuhan wajib bagi mereka dalam ketaatan/ Dan menjauhkan diri dari dosa di atas kewajiban//

Dan waktu dalam menjalaninya sangat mengherankan/ Terlebih lagi mereka yang lupa dan terlenakan//

Dan sulit bersabar dalam penderitaan/ tapi kehilangan pahala karena kesabaran jauh lebih merugikan//

Dan dekatlah setiap yang diharapkan/ tapi yang lebih dekat dari semuanya adalah kematian//

Menurut Imam Ali as, taubat wajib. Tapi lebih wajib lagi berusaha meninggalkan dan menjauhkan diri dari dosa. Dunia ini aneh, ajaib, mengherankan. Lebih aneh lagi orang yang lalai dan terlena di dalamnya. Lalu, yang disebut kesulitan adalah ketika kita menghadapi musibah. Tapi akan lebih menyulitkan lagi, akan lebih menyakitkan lagi tatkala kita kehilangan pahala karena tidak bersabar menghadapinya. Dan yang terakhir, manusia merasa dekat dengan harapan-harapan dan keinginannya. Padahal yang lebih dekat dari segala sesuatu adalah kematian.

Hadis dalam Bihar al-Anwar 75:89 itu menunjukkan pada kita keutamaan Imam Ali as sebagai pintu kota ilmu Rasulullah Saw.

Menurut Imam Ali, Baginda Nabi mengajari seribu pintu. Dan untuk seribu pintu, terbuka seribu pintu berikutnya. Mungkin metaforis, tetapi ia mengajak kita untuk merenung tentang perjalanan singkat di dunia ini. Perjalanan yang memerlukan ilmu agar mengetahui prioritas memanfaatkannya.

Ada hadis qudsi, dialog antara Allah Ta'ala dan Rasulullah Saw. Sebuah kitab ''Kalimatullah'' bahkan mengumpulkan percakapan wahyu antara para nabi dan Allah Ta'ala. Antara lain ada yang berbunyi seperti ini.

Tuhan bertanya, ''Untuk dan kepunyaan siapakah langit dan bumi?''

Nabi Saw, ''UntukMu dan milikMu Ya Rabb.''

''Perahu dan lautan, untuk siapakah?''
''UntukMu jua Ya Rabb.''

''Surga dan neraka?''
''UntukMu dan milikMu ya Rabb…''

''Lalu, Aku…untuk siapakah?''

Bersujudlah Nabi Saw mendengar ini. Baginda menjawab, ''Engkau jauh lebih mengetahuinya Ya Rabb…''

Suara kudus pun bergema, ''Aku…bagi dia yang bershalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad.''

Sumber: Majulah Ijabi

 

Fri, 12 Dec 2014 @14:43

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved