Rubrik
Terbaru
Telegram Misykat
image

.

YouTube Misykat TV
image

.

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed
AUDIO KAJIAN ISLAM

TATA CARA SHALAT

Minat beli buku klik covernya
image

 

Flash Disk OTG Kajian Islam
image

.

Facebook Misykat
image

.

BAHAN BACAAN (Buku PDF)
image

 

Dr. Fuad Jabali: Akal dan Tradisi Lokal Banyak Dipakai Sahabat Nabi (2)

image

Kita mengenal Bukhari, Muslim dan lain-lain sebagai ulama pengumpul hadis dan pembuat buku hadis. Bukankah sebelum mereka sudah ada yang melakukan?

Ya, sejak masa Nabi hidup, sudah ada beberapa orang yang menulis hadis.
Hanya saja, yang berjasa memilah dan membukukannya adalah Bukhari dan Muslim, di samping yang lainnya. Dua orang inilah yang paling dipercaya dan tinggi tingkat kesahihan hadis yang dikumpulkannya. Perlu dicermati, Bukhari hidup sekitar tahun 870 H, sementara Muslim hidup sekitar tahun 875 H. Jadi, mereka yang mengumpulkan hadis ini, hidup sekitar dua puluh tahun setelah Imam Hambali wafat.

Artinya, mazhab-mazhab fikih sudah dibangun sebelum kitab hadis
dibukukan. Kira-kira, ketika pendiri mazhab itu berijtihad, apa yang mereka gunakan sebagai dasarnya?

Mereka tetap menggunakan hadis, selain Alquran. Tapi hadis yang masih
bercampur antara yang shahih (valid, Red) dan dla'if (kurang valid atau tidak valid, Red), bahkan maudhu' (palsu, Red). Ketika itu orang diberi kepercayaan untuk memilih mana hadis yang sahih, mana yang dla'if. Sekarang 'kan tidak. Kita sudah disodorkan hadis-hadis yang dikatakan
sahih. Tapi siapa yang mengatakan hadits itu sahih? Yang mengatakan itu
Imam Bukhari.

Nah, dengan begitu, kita lalu percaya bahwa Bukhari itu pasti benar. Yang perlu diingat, Imam Bukhari itu mengumpulkan hadisnya pada abad ketiga Hijriah atau kesembilan Masehi.

Bayangkan kondisi abad kesembilan; belum ada komputer, tidak ada indeks dalam buku, listrik belum ada, peperangan terjadi di mana-mana. Jadi pengumpulan itu dilakukan dalam keadaan yang sangat minimal; transportasi belum seperti sekarang, telepon pun belum ada. Jadi kalau dia mau mengumpulkan hadis, dia harus pergi melacaknya jauh-jauh. Tentu itu repot sekali, dan dalam kondisi yang sangat terbatas, dia juga tentu akan menghasilkan produk yang juga terbatas.

Bisakah Anda mengelaborasi kemunculan mazhab-mazhab dalam Islam lebih
jauh?


Ketika orang Islam dibiarkan menggunakan kearifan lokal dan akalnya
sendiri untuk menyelesaikan urusan, maka yang muncul adalah keragaman. Pada masa Nabi, dan ketika masyarakat kuat, keragaman itu tidak jadi masalah. Tapi ketika Nabi wafat, kemudian figur yang dijadikan teladan sudah tidak ada yang sekuat Nabi, maka yang ada hanyalah para sahabat yang relatif sejajar, karena mereka tidak menerima wahyu. Karena tidak ada orang yang bisa dijadikan rujukan yang paling absah, maka terjadilah perbedaan yang nantinya potensial membuahkan konflik.

Nah, untuk menghindarkan konflik, lalu ada beberapa ulama yang berinisiatif untuk membuat aturan-aturan, seperti Imam Abu Hanifah, Imam Syafii, ataupun lainnya. Mereka membuat rambu-rambu agar penafsiran agama tidak jauh menyimpang atau supaya tidak terjadi penafsiran yang begitu liar. Tapi yang sering dilupakan orang, kaidah-kaidah itu kan dibikin berdasar realitas yang dihadapi para imam masa itu. Belum lagi efek penyeragaman yang ditimbulkan dan sakralisme seolah-olah rambu-rambu itu tak bisa dikritik dan dikoreksi.

Artinya, aturan main untuk memahami sumber-sumber Islam itu juga dibuat
oleh manusia?


Memang manusia yang membuatnya sebagai respon atas realitas pada masa
itu. Yang jadi masalah jika ada pertanyaan; apakah kompleksitas masalah yang kita hadapi sama dengan yang mereka hadapi? Kalau seandainya tidak sama, mengapa kita mesti terpaku seratus persen dengan aturan itu? Mengapa kita tidak membuat aturan lain yang lebih responsif pada relitas kita?

Ada yang menegaskan pentingnya membedakan tradisi lokal dan ajaran
universal agama. Bagaimana tanggapan Anda?

Pada hakikatnya saya setuju dengan ajakan perlunya membedakan antara
tradisi lokal dengan nilai-nilai universal Islam secara konseptual. Dengan begitu, kita bisa faham bahwa kondisi lokal abad ketujuh, sulit sekali untuk diterapkan pada abad-abad kita sekarang ini. Itu disebabkan terlalu jauhnya jarak masa dan masalah yang dihadapi. Tapi persoalannya, bagaimana metodologi untuk memisahkan dua hal itu? Saya kira, ulama fikih tidak begitu berani meninggalkan tradisi lokal sepenuhnya, tapi berusaha mengakalinya dengan konsep qiyas (analogi hukum oleh kemiripan-kemiripan tertentu, Red). Jadi, perlu dicari kemiripan antara tradisi-tradisi lokal itu. Yang lokal tetap dilirik, tapi ditarik kemiripannya.

Bagaimana dengan fenomena maraknya kritik Hadis, baik dari segi matan,
sanad maupun historisnya?

Yang harus diingat, hadis Nabi yang dikumpulkan Imam Bukhari sebelum
dipilah-pilah, ada sekitar 600.000-an hadis. Setelah proses seleksi, tersisa sekitar 7000-an hadis. Itu termasuk hadis yang berulang-ulang.Yang tidak berulang-ulang secara redaksional, hanya sekitar 3000 hadis saja. Nah, ada 3000-an perkataan, perbuatan, dan persetujuan Nabi yang dianggap benar.

Apakah kita yakin kalau selama 25 tahun masa kenabian, Nabi hanya berbuat atau mengatakan 3000-an potong hadis saja? Tentu itu terlalu sedikit. Sekarang saja, perkataan kita selama setengah jam saja sudah bisa menghasilkan berapa ribu kata. Poinnya itu, masih banyak sekali hadis yang belum kita temukan dan memerlukan kajian ulang. Tadi saya berbicara tentang keterbatasan para pendahulu kita dalam mengkaji hadits.

Sekarang saya mengatakan bahwa kita sebetulnya berada dalam posisi yang lebih baik untuk mengulas hadis-hadis itu secara kritis. Sebab, bersama kita sekarang, ada buku-buku yang tidak sempat dibaca oleh Imam Bukhari, misalnya. Kitab Fathul Bari karya Ibnu Hajar Al-Asqalani (hidup pada abad 12 H/15 M) itu: buku itu lengkap sekali. Jadi, kita bisa memakai buku ulama- ulama yang belakangan yang tidak bisa dibaca Imam Bukhari untuk melakukan studi kritis.

Sekali lagi, kita berada dalam posisi lebih baik apalagi dibantu oleh teknologi, mesin, telepon dan seterusnya, untuk mengkaji ulang tradisi Islam. Sekian banyak hadis bisa dimasukkan dalam satu-dua VCD.

Di sebagian kalangan, muncul "mistifikasi' terhadap sahabat Nabi sebagai orang yang 'udul (jujur, adil dan tak pernah salah). Tanggapan Anda?

Ya. Padahal kita tahu, ketika membaca biografi para sahabat karya Ibn
Abdil Bar, misalnya, kita juga menemukan cerita-cerita tentang mereka yang sangat manusiawi. Ada cerita tentang sahabat yang mencuri kantong kulit kepunyaan Nabi, ada sahabat yang berzina dan lain-lain. Ayat tentang zina menjadi ada karena ada sahabat yang melakukan perbuatan itu. Intinya, mereka juga hidup normal seperti kita; dengan banyak kemauan dan juga membuat kesalahan. Nah, sekarang mengapa tiba-tiba ada generalisasi yang mengatakan kalau semua mereka itu 'udul. Ada mistifikasi berlebihan. Dengan klaim itu, artinya kita tidak bisa lagi mempertanyakan integritas mereka. 

Secara historis, doktrin ini muncul pada abad ke sembilan, ketika kelompok Mu'tazilah sebagai gerakan rasional dalam Islam mengritik ahli hadis dalam polemik antarmereka. Kita tahu, jumlah hadis itu juga bergantung pada jumlah sahabat yang diakui integritasnya. Kalau jumlah sahabat yang bisa dipercaya cuma dua orang, hadis yang sempat diriwayatkan, tentu juga akan sedikit. 

Nah, supaya hadis yang diakui kesahihannya banyak, maka jumlah sahabat yang diakui integritasnya juga harus diperbanyak. Untuk itu, sahabat yang banyak itu juga harus dibentengi dan ditamengi dengan doktirn bahwa kulluhum 'udul (setiap mereka itu jujur, adil dan tidak bercacat, red). Sebab apa? Karena kalau semua 'udul, kata-kata sahabat akan banyak yang bisa dipercaya sebagai hadis. Implikasinya, kalau hadis banyak, peran akal akan berkurang dengan sendirinya. Jadi, ini semacam amunisi ahli hadis ketika itu untuk mengurangi kegiatan rasional kelompok Mu'tazilah.

Sumber: Islam Liberal

 

 

Thu, 6 Feb 2020 @07:48

Copyright © 2020 Misykat · All Rights Reserved