AUDIO KAJIAN ISLAM

BERBAGI BUKU ISLAM

TULIS nama, alamat lengkap & nomor HP/WhatsApp pada KONTAK

TATA CARA SHALAT

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

BAHAN BACAAN
PENGUNJUNG

Flag Counter

Mengenang Imam Hasan Al-Mujtaba, Cucu Rasulullah saw

image

Tahukah kau siapa Al-Hasan? Dia cucu pertama Nabi. Begitu lahir, ayahnya, Imam Ali tidak berani memberi nama. Dia tunggu Nabi. Nabi tidak berani, dia tunggu Jibril menyampaikan pesan Tuhan. Jibril datang, “Beri dia nama sebagaimana nama putera Harun, karena Ali ayahnya disisimu, seperti Harun di sisi Musa.”

Bersama adiknya Husain, dia menjadi buah hati Nabi, cucu kesayangan yang banyak menghabiskan masa kecilnya bersama sang kakek. Dia berlarian diantara kaki Nabi yang sedang shalat, menunggagi punggungnya kala sujud, dan duduk dipangkuannya saat Nabi membaca tasyahud. Tidak henti-hentinya Nabi mencium dan mengecupnya. Dia berkali-kali menyampaikan kesahabat-sahabatnya, cucunya itu akan menjadi penghulu pemuda di surga. Cucunya itu akan mendamaikan ummatnya yang bertikai.

Al Hasan, tidak bisa menahan tangis kala kakeknya menutup mata untuk selama-lamanya. Dan sejak hari itu pula, kedukaan bermula dan berdatangan tanpa henti. Rumah ibunya diserang dan diancam bakar. Hadiah dari Nabi untuk ibunya, dirampas. Hak ayahnya direbut. Sahabat-sahabat dekat kakeknya dibunuh satu demi satu. Dirumah khalifah Utsman ia mempertaruhkan nyawa untuk menjaga keselamatan sang khalifah. Jumlah pemberontak jauh lebih banyak.

Sang Khalifah gugur bersimbah darah. Itu bukan pemandangan tragis yang terakhir. Ia bersama pasukan ayahnya berperang melawan ribuan pemberontak di perang Shiffin. Perang itu bukan hanya melukai tubuhnya, tapi juga menyakiti hatinya. Betapa ia melihat, sahabat-sahabat kakeknya yang dulu ikut tersenyum lebar ketika Nabi membanggakannya dihadapannya, hari itu bermusuhan dan saling serang.

Sampai akhirnya, dishaf depan ketika menjadi makmum ayahnya, dia melihat kepala sang ayah ditebas. Ayahnya gugur sebagai syuhada. Umat membaiatnya menjadi khalifah. Kembali ia diteror kelompok yang gila kekuasan. Tidak mau lagi melihat darah umat banyak tertumpah, ia menerima perdamaian. Ia memilih untuk menyepi. Dalam keheningan ia tak berhenti mendo’akan umat kakeknya. Meski terasing, ia tetap dianggap berbahaya. Didalam rumahnya sendiri, jauh dari hiruk pikuk, ia terkulai tak berdaya sehabis meminum suguhan istrinya yang dibubuhi racun.

Kerandanya dibawa menuju masjid Nabawi, sebagaimana pesannya ia ingin dimakamkan di sisi kakeknya. Hujan panah menghujam kerandanya. Kelompok pendengki mencegahnya. Iapun dimakamkan di pemakaman Baqi, disisi makam neneknya, Fatimah binti Asad.

Kecintaan umat tidak bisa dibungkam. Makamnya dihormati, diziarahi dan dibuatkan kubah yang megah. Semua mengenalnya sebagai pejuang Islam. Tidak ada yang paling didambakannya kecuali kejayaan dan keselamatan ummat. Nama-namanya dielukan, sampai kembali lahir kekuasaan pendengki jilid II. Kubah di kuburannya dirobohkan. Makamnya diratakan dengan tanah.

Dan… Tak lagi banyak kau dengar cerita tentangnya. Kecuali kau sendiri yang mau gigih mencarinya. Assalamu alaika ya Sayyid… Ya Aba Muhammad… dukamu duka Rasulullah… duka kami…

Sumber: Facebook Ismail Amin

Mon, 22 Dec 2014 @09:25

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved