Rubrik
Terbaru
BERBAGI BUKU

Bagi yang ingin buku-buku bacaan ISLAM. Silakan tulis nama, alamat lengkap, dan nomor WhatsApp yang aktif pada KONTAK

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Menghadiri Haul Rasulullah saw

image

28 Shafar adalah hari wafat Rasulullah saw. Tidak semua orang mengetahui. Mungkin karena tidak belajar sejarah atau karena memang tidak peduli. Jika ini kebenaran maka alangkan abainya terhadap Rasulullah saw. Mengabaikan Nabi berarti tak menunjukkan kecintaan. Kalau sudah abai yang berujung tidak cinta maka alangkah ruginya. Orang yang tak cinta maka tak akan dicintai. Orang yang tak memberikan rasa kasih dan sayang, atau hanya menerima saja dari orang lain, termasuk yang pelit dan mungkin sombong. Ini harusnya dihindari.

Melawan lupa, mengingatkan momentum besar, dan duka cita atas Rasulullah saw merupakan sebuah bentuk kecintaan. Ini pula yang biasanya dilakukan warga Nahdlatul Ulama (NU) setiap kali mereka sampai pada hari wafat KH Hasyim Asyari dan KH Abdurrahman Wahid. Mereka berkumpul dalam satu majelis: baca yaasin, tahlilan, shalawat, doa, dan ceramah. Selanjutnya ada hidangan makanan ala kadarnya untuk disantap bersama seperti acara tahlilan di kampung-kampung. Inilah bentuk haul: peringatan hari kematian seseorang yang diselenggarakan setahun sekali. Hanya saja di NU bahwa haul berlaku untuk para pendiri organisasi dan ulama. Sedangkan di IJABI bahwa haul adalah memperingati hari wafat Kangjeng Nabi Muhammad saw beserta keluarga Nabi dan ulama-ulama yang menjadi tokoh dalam mazhab Ahlulbait. 

Ahlusunnah

Mengapa di Ahlusunnah tidak memperingati hari wafat Nabi Muhammad saw? Mengapa hanya Maulid, Isra Miraj, dan Nuzulul Quran?

Bagaimana mungkin diperingati karena hari lahir dan wafat Nabi Muhammad saw diyakini sama pada tanggal 12 Rabiul Awwal? Ini yang umumnya diyakini kalangan Islam dari mazhab Ahlussunnah. Juga kalangan NU. Sangat tidak mungkin dalam satu hari ada dua acara yang berkaitan dengan Rasulullah saw: maulid dan haul. Pagi hari gembira kemudian nanti sore tahlilan. Karena itu, mungkin cukup memilih momentum gembira ketimbang duka: mendahulukan maulid di atas haul.

Berbeda dengan organisasi Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI). Karena IJABI meyakini hari wafat dan kelahiran Nabi berbeda sehingga tidak terjadi bentrok acara. Tanggal 17 Rabiul Awwal adalah maulid Nabi dan 28 Shafar adalah wafat Nabi. IJABI punya dalil dan merujuk pada sejumlah hadis atau riwayat yang memberitakan hari kelahiran dan wafat Rasulullah saw.

Karena itu, Minggu pagi tanggal 21 Desember 2014 yang bertepatan dengan 28 Shafar 1436, IJABI menggelar acara Haul Rasulullah saw di Aula Muthahhari jalan Kampus Kiaracondong Bandung. Bentuk acaranya tidak berbeda dengan tradisi NU: dibuka dengan lantunan shalawat, baca surah Yaasin, tahlilan, doa, dan ceramah.

Saya termasuk yang hadir dalam Haul Rasulullah saw. Saya merasakan rasa haru sekaligus menitikan air mata ketika Kang Jalal (KH Jalaluddin Rakhmat) membacakan kitab yang mengisahkan fakta sejarah sebelum wafat Rasulullah saw.

Riwayat dari Ibnu Abbas menyebutkan pada hari Kamis (lima hari sebelum Nabi wafat) bahwa Nabi dalam keadaan sakit di atas tempat tidurnya meminta alat tulis (tinta dan sesuatu yang biasa ditulisi) untuk menuliskan wasiat. Nabi mengatakan: tidak akan tersesat orang jika mengikuti yang akan aku wasiatkan. Sayang beribu sayang, sahabat Nabi yang berada di rumah Nabi itu tidak memenuhinya. Bahkan, ada yang menyatakan: Nabi sedang meracau, mengigau.

Terjadilah keributan di antara orang-orang yang hadir sehingga Nabi mengusirnya dari rumah. Kejadian ini oleh Ibnu Abbas disebut tragedi hari Kamis, yang berarti musibah yang terjadi kepada Nabi berupa ketidaktaatan.

Saya tidak tahu apakah mereka melanggar ayat Al-Quran yang menyatakan harus menerima yang diperintah Nabi? Jika ini benar, sungguh terlalu cepat mereka mengabaikan Rasulullah saw. Di penghujung hidupnya saja Nabi tidak dituruti, apalagi setelah wafatnya.  Inilah tragedi yang tak berujung.

Sejarah banyak mengisahkan bagaimana keluarga Nabi mengalami derita dengan berbagai perilaku kejam dari penguasa. Tragedi Karbala adalah fakta sejarah yang tidak bisa dilupakan. Cucu Nabi Muhammad saw, Al-Husain beserta keluarganya, menjadi korban tragis. Padahal, orang-orang yang terlibat dalam pembantaian terhadap keluarga Nabi adalah mereka yang disebut umat Islam generasi awal. Mereka terdiri dari para putra sahabat Nabi, bahkan ada sahabat Nabi. Mengerikan, betapa abai dan sudah hilang kecintaan mereka kepada Rasulullah saw.

Kembali pada Haul Rasulullah saw. Kang Jalal memaparkan dalil haul Rasulullah saw, dalil tahlilan, dan membacakan teks tarikh wafat Nabi dari teks Arab (gundul) yang terpampang. Lengkap mulai dari saat sakit yang diracun oleh wanita Yahudi pada hidangan daging kambing saat di Haibar, saat-saat sakit di rumah dan di masjid, memberikan peluang qishas dan permohonan maaf, ziarah ke kuburan Baqi, pemberangkatan pasukan Usamah menuju Mu’tah, tragedi hari Kamis, dan saat-saat menjelang wafat Nabi.

Yang terakhir ini disebutkan Huzaifah Al-Yamani datang ke rumah Nabi. Ketika tiba dipintu dari celah terlihat Nabi bersandar pada dada seorang lelaki muda yang tampan. Karena merasa ada tamu, Huzaifah pergi dan di tengah jalan bertemu dengan Imam Ali. Dikabarkan bahwa di rumah Nabi ada seorang tamu lelaki tampan yang tidak dikenalinya. Imam Ali dan Huzaifah kembali ke rumah Nabi. Setiba di depan rumah, dari dalam Rasulullah saw memanggil Imam Ali agar masuk. Kemudian lelaki muda itu menyerahkan badan Nabi kepada Imam Ali dan pamit meninggalkan Nabi. Rasulullah saw yang berada dalam sandaran Imam Ali memberi tahu bahwa lelaki itu malaikat Jibril. Nabi meminta Imam Ali mendekatkan telinganya dan mulut Nabi bergerak menyampaikan pesan-pesan yang tidak terdengarnya.

Tepat tanggal 28 Shafar, Nabi Muhammad saw wafat. Dalam riwayat disebutkan Imam Ali yang mengurusi jenazah Nabi hingga penguburan. Sayidah Fathimah dan keluarga Nabi hampir setiap hari berada di dekat makam Nabi: membacakan doa-doa. Bilal bin Rabah, muadzin Nabi, suatu hari ditemukan mengucapkan salam agak jauh dari makam Nabi. Kemudian pergi meninggalkan Madinah untuk menetap di Syiria. Suatu hari Bilal bermimpi: Nabi memintanya untuk datang. Pagi selepas shalat subuh, Bilal langsung ke Madinah menuju makam Nabi. Di sana sudah ada Sayidah Fathimah dan keluarga Nabi.

Selesai ziarah di makam Rasulullah saw, Bilal oleh keluarga Nabi diminta untuk adzan. Bilal melantukan adzan hanya bisa sampai pada kalimat: asyhandu anna … tidak dilanjutkan karena derai air mata membasahi pipinya. Bilal menyatakan tidak sanggup untuk melanjutkan adzan.

Kisah tersebut membuat saya terharu hingga menitikan air mata. Langsung saja mengalir tanpa diminta. Lantunan shalawat Nabi pun meluncur.

Di akhir acara, Ustadz Miftah putra Kang Jalal, membacakan doa ziarah Rasulullah saw. Kembali saya hanyut dalam lantunan doa dan kembali mengalir begitu saja air mata. Biasanya teramat sulit untuk menitikan air mata. Namun, untuk Rasulullah saw mengalir begitu saja.

Assalamu’alaika ya Rasulullah

Assalamu’alaika ya Habiballah

Assalamu’alaika ya Imamurrahmah

Ya Sayyidina wa maulaanaa

Inna tawajjahnaa was tasy fa’naa  

Watawassalnaa bika ilallaah

Waqaddamnaaka baina yadai haajaatinaa

Ya wajiihan ‘indallaah; isyfa’lanaa ‘indallaah

Ya Rasulullah… isyfa’lana…

Ya Rasulullah… isyfa’lana…


Bandung, 22 Desember 2014

(Ikhwan Mustafa, kontributor Misykat)


Wed, 30 Nov 2016 @08:27

Copyright © 2017 Misykat · All Rights Reserved