Rubrik
Terbaru
Media Kajian

Fanpage Facebook MISYKAT

YouTube Channel Misykat TV 

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Maka, Naiklah dalam Bahtera Ahlulbait (Fikri Disyacitta)

image

Peringatan duka Arbain 1436 H. memang sudah berlalu, 14 Desember 2014 silam. Namun secara pribadi, pengalamannya tidak akan terlupa karena itulah kali pertama saya mampu menghadiri acara penting dalam kalender Islam bersama saudara kaum muslim lainnya di Husainiyah pondok pesantren Al-Hujjah Jember.

Selain itu, topik materi yang disampaikan juga nampaknya relevan dengan suasana menjelang Natal akhir tahun ini. Hujan gerimis sejak zuhur semakin menambah kesan alam ikut berduka atas syahidnya Imam Husain di bumi Karbala 40 hari sebelumnya, serta kehinaan yang ditimpakan oleh Yazid atas putra-putri Ali. Bagi sebagian kalangan, mengadakan acara seperti ini adalah bid’ah yang tidak pernah diajarkan di masa Nabi Saw.

Baiklah jika kalangan keras tersebut berargumen demikian. Namun jika mereka hendak merujuk pada sejarah Islam, menangis untuk Husain sudah dilakukan oleh Nabi Muhammad sendiri. Dalam referensi andalan Ahlussunnah, yakni Mustadrak Shahih Bukhari dan Muslim misalnya, diriwayatkan bahwa Nabi menangis di hadapan para sahabat setelah Jibril datang mewartakan pada diri beliau bahwa kelak cucu kesayangannya itu akan gugur di sahara Karbala.

Mendengar hal itu para sahabat turut menangis bersedih bersama Nabi. Jika junjungan kita saja bersedih hingga mengucurkan air mata, mengapa kita begitu pelit berempati pada kedukaan beliau sampai hati berani membid’ahkannya?

Toh jika pun dalil itu lemah, apakah nurani ini tidak terketuk mendengar kisah pilu putra-putri Husain yang diarak dengan unta tanpa pelana untuk dihinakan warga Damaskus hingga akhirnya merintih dalam penjara bawah tanah penguasa lalim? Jika logika para penolak keras Arbain ini masih berjalan, mestinya rasio yang sehat turut mengafirmasi bahwa peristiwa besar semacam ini memang pantas diperingati.

Kembali ke bahasan semula, acara memang agak sedikit terlambat. Namun tidak mengurangi antusiasme jemaah yang hadir dari wilayah Jember dan sekitarnya. Lantunan doa tawasul oleh santri, disambung tadarus ayat suci Al-Quran menambah khidmatnya suasana. Susu jahe hangat dibagikan. Seketika teringat bagaimana Ali Ashghar as, bayi mulia itu mengiba untuk segelas susu hingga panah menembus kerongkongannya dalam keadaan haus.

Pembacaan maqtal dibawakan oleh seorang ustad dari Nusa Tenggara yang sayangnya saya lupa nama beliau. Tapi syukurlah hikmah ucapan beliau masih teringat. Beliau memulai tausiah dengan menyampaikan keutamaan Ahlulbait layaknya bahtera penyelamat Nabi Nuh (safinah al najah) di kala musibah banjir bandang melanda umatnya yang durhaka.

Dalam konteks umat Rasulullah saat ini, banjir di zaman Nuh dianalogikan sebagai derasnya gelombang fitnah dan malapetaka yang menimpa dunia Islam. Fenomena kebengisan ISIS adalah salah satu contoh bentuk fitnah besar atau ujian tersebut, kata sang ustad. Demikian pula masih seringnya bencana alam seperti di Banjernegara serta kekisruhan politik dalam negeri seolah hendak menguji keimanan kaum muslim. Lantas bagaimana cara kita untuk tetap selamat menghadapi arus fitnah yang lebih dahsyat daripada gelombang pasang air bah pada masa Nabi Nuh? Tidak lain adalah dengan naik ke dalam bahtera 14 manusia suci.

Selepas mangkatnya Rasulullah, Allah SWT menghadirkan seorang imam untuk umat di setiap zaman. Imam itulah yang menjadi bahtera penyelamat bagi umat pada masa tertentu. Katakan sebagai contoh, kita saat ini hidup menanti kehadiran Imam Zaman (afsy), maka nantinya beliaulah yang berperan sebagai bahtera kita semua. Namun ada keistimewaan tersendiri bagi Imam Husain.

Tanpa bermaksud mengecilkan syafaat maksumin lainnya, sebagai bahtera, kapasitas beliau jauh lebih luas, umat setiap zaman bisa berpegang teguh pada panji Husain selaku perantara keselamatan! Bahkan berkat perantaraan Husain, hidayah dan rahmat Allah dapat turun pada orang yang seumur hidupnya belum mengenal jalan Ahlulbait. Bagaimana bisa ini terjadi?

Kisah Setelah Karbala

Sebagai bukti akan hal ini sang ustadz mengisahkan bahwa jauh beberapa tahun setelah tragedi Karbala berlangsung, ada seorang Nasrani yang ikut dalam kafilah peziarah Imam Husain di hari Arbain. Nasrani tersebut memutuskan bergabung karena dirinya kehabisan bekal di tengah jalan setelah ditipu oleh seseorang dan tidak mampu meneruskan perjalanan seorang diri ke kota berikutnya. Sebagai gantinya, Nasrani yang baik ini bersedia mengurus semua kuda-kuda peziarah. Ia melakoni tugasnya secara sungguh-sungguh. Hingga sampailah mereka di Karbala, si Nasrani memutuskan menjaga tenda berikut kuda seluruh rombongan sementara yang lain berziarah ke pusara Imam. Namun karena lelah tanpa disadari, ia pun tertidur pulas.

Dalam mimpi, dirinya serasa berada di suasana Yaumul Mahsyar. Semua orang dikumpulkan berkelompok-kelompok. “Kumpulkan para peziarah Husain dalam barisan ini!”, perintah sebuah suara. Nasrani itu dikelompokkan di barisan tamu makam suci Imam. Muncul sosok sahabat Habib ibnu Mazhahir membawa buku catatan, lalu suara ghaib kembali terdengar, “Catat semua nama-nama orang yang menziarahiku hari ini!”

Mulailah Habib mendatangi satu persatu barisan peziarah. Ketika selesai, suara misterius itu berkata apakah semua nama sudah dicatat. Habib mengiyakan jika semua nama sudah tercantum. Tetapi suara ghaib itu tidak yakin dan menyuruhnya mencatat ulang sembari memerhatikan satu persatu wajah tiap orang dalam barisan.

Hingga akhirnya sampailah pada si Nasrani, datanglah sosok suara ghaib yang sedari tadi memerintahkan pencatatan. “Apa yang terjadi? Sudahkah kau catat semua?”, tanya sosok bersih, tampan, nan suci itu.

“Ya junjunganku, tetapi ia adalah seorang Nasrani yang hanya kebetulan ikut dan bertugas merawat kuda peziarah saja”, mendengar jawaban Habib, sosok itu lalu berseru, “Duhai Habib, catatlah semuanya tanpa terkecuali! Hendak ditaruh di mana mukaku ini jika nanti aku bertemu datukku Rasulullah, lantas aku, Husain putra Ali, tidak memberikan syafaat pada sesiapa yang menziarahiku? Meskipun dia seorang Nasrani”. Bagai petir di siang bolong, ucapan Imam Husain dalam mimpi yang nampak sungguhan itu seketika membangunkannya dari tidur. Keringat dingin membasahi badannya.

Hatinya bergejolak tidak karuan dan bersegeralah ia menanyakan pada rombongan yang telah selesai berziarah, makam siapakah ini yang mereka kunjungi. Ketika dijawab ini adalah makam Imam Husain, ditanyakan lagi adakah sahabat bernama Habib ibnu Mazhahir kemudian dijawab lagi, “Benar, dia adalah salah satu sahabat Imam kami yang saat ini bertugas merawat kubur suci Karbala”.

Tangis haru seketika pecah, ia ceritakan mimpi luar biasa yang baru dialami. Para peziarah tak kuasa menahan luapan air mata, mereka mengatakan bahwa sungguh beruntung diri pria Nasrani tersebut karena sudah mendapatkan syafaat Imam sedangkan kaum muslim yang lebih dulu mengenal Ahlulbait justru belum diperkenankan mendapatkan pengalaman penuh berkah semacam itu. Pada akhirnya Nasrani tersebut bersaksi masuk Islam mengikuti jalan kebenaran.

Sungguh, ini adalah bukti nyata bahwa bahtera keselamatan Ahlulbait, wa bil khusus Imam Husain, tidak terbatas oleh sekat eksklusivitas religi, etnisitas, atau identitas primordial apapun. Mereka adalah simbol universal, maka janganlah ragu untuk menaikinya.   

Fikri Disyacitta adalah Mahasiswa FISIP Universitas Airlangga, Surabaya

[redaksi@misykat.net, mengucapkan terima kasih atas kiriman artikel/tulisan dari Fikri, semoga bermanfaat dan menjadi pencerahan]


Sat, 27 Dec 2014 @13:29

Copyright © 2019 Misykat · All Rights Reserved