Rubrik
Terbaru
BERBAGI BUKU

TULIS nama, alamat & HP/WhatsApp pada KONTAK

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

Twitter Kata Hikmah 

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Pengalaman Menghadiri Seminar Anti Syiah

image

Menghadiri seminar termasuk hal yang menarik dan akan mendapatkan pengetahuan. Biasanya seminar bertema Islam yang saya hadiri. Termasuk seminar dan pengajian yang berkaitan dengan Islam mazhab Syiah.

Di kampun UIN Bandung pernah ada diskusi buku Kesesatan Sunni Syiah. Dibedah oleh Prof Rosihon Anwar, Dr Engkos Kosasih, dan Muhammad Babul Ulum. Rosihon mewakili akademisi dan Engkos mewakili kaum Sunni dari Persatuan Umat Islam (PUI) Jawa Barat. Sedangkan Babul Ulum dari Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI) yang dikenal organisasi Islam Syiah.

Diskusinya menarik. Apalagi narasumber dari IJABI tampak tenang dan menyampaikan jawaban atas sejumlah fitnah. Kemudian Rosihon menjelaskan perbedaan mazhab dan pentingnya ukhuwah Islamiyyah. Hanya saja Engkos masih belum bisa menerima keberadaan Islam Syiah sebagai mazhab yang benar. Mungkin karena belum banyak belajar untuk memahami perbedaan dalam Islam.   

Berbeda dengan di kampus UNISBA. Saya menghadiri seminar tentang Syiah di UNISBA (Universitas Islam Bandung). Dalam seminar itu tidak ada yang baru yang dibahas tentang Syiah. Hanya perulangan dari isu lama yang sebetulnya sudah terjawab dalam sejumlah buku seperti Buku Putih Mazhab Syiah dan Syiah Menurut Syiah (diterbitkan ABI) kemudian Kesesatan Sunni Syiah dan Polemik Sunni Syiah karya Muhammad Babul Ulum.  

Ada tiga pembicara, yaitu Prof Maman Abdurrahman, Dr Wildan Yahya, dan Asep Saeful Millah. Dari ketiga pembicara ini tidak ada perwakilan dari Islam mazhab Syiah. Tidak ada perwakilan dari IJABI atau Ahlulbait Indonesia (ABI) yang merupakan ormas Islam Syiah di Indonesia.

Sudah diketahui masyarakat Bandung bahwa Prof Maman Abdurahman adalah ketua umum Pengurus Pusat Persatuan Islam (Persis). Diketahui pula bahwa ormas Persis adalah organisasi yang melarang tahlilan, melarang shalawatan, larang marhabaan, larang maulid Nabi, dan lainnya. Hampir seluruh kebiasaan masyarakat Nahdlatul Ulama (NU) dalam beragama dilarang oleh Persis. Bahkan dianggap tidak bersumber dari Allah dan Rasul-Nya.

Disebutkan Wildan Yahya, seorang doktor sejarah dari Jakarta. Narasumber yang masih muda adalah Acep Saeful Millah, aktivis KAMMI. Ketiga narasumber ini tidak mewakili Syiah. Ketiganya mewakili kaum yang anti Syiah.

Dari pembicaraan ketiganya tampak saling dukung dan mengulang isu yang terus dituduhkan kepada Syiah. Kalau saja ada yang mewakili dari Syiah mungkin akan benar-benar layak disebut seminar.

Saya terus memerhatikan pembicaraan mereka. Dari Wildan dan Asep tidak ada pengetahuan baru. Masih mengulang dan menyebarkan fitnah yang tidak terbukti. Hanya dari Prof Maman ada informasi baru, tetapi bukan berkaitan dengan mazhab Syiah.

Prof Maman mengatakan bahwa orang-orang Syiah itu sama seperti orang-orang NU yang menghormati ulamanya. Setiap kali bertemu pasti akan cium tangan dan air minum bekas gurunya pun tidak jarang ada yang memperebutkannya supayadapat berkah. Orang-orang Syiah di Sampang Madura terlihat begitu hormat dan langsung cium tangan saat ketemu kiai.

Berbeda dengan di Persis. “Bertemu saya saja seperti kepada teman. Kadang kalau saya sedang lewat hanya disapa sambil jalan. Kalau orang NU dan Syiah akan berhenti dan segera mencium tangan sambil menunduk saking hormatnya kepada kiai atau guru,” kata Prof Maman.

Dari Prof Maman itu diketahui orang-orang Persis kurang memperhatikan akhlak. Padahal, dalam agama Islam yang diajarkan Nabi Muhammad saw lebih banyak mengenai akhlak dan persaudaraan. Sudah jelas dari hadis bahwa Nabi Muhammad saw diturunkan untuk menyempurkan perilaku manusia menjadi akhlak yang sempurna.  

Mengapa Persis mengabaikan akhlak? Karena bagi mereka yang penting ibadah sesuai petunjuk Allah dan Rasul-Nya. Mereka tidak belajar dari sejarah dan perilaku Nabi Muhammad saw. Bahkan tidak mengambil ajaran dan pemahaman Islam dari Keluarga Nabi (Ahlulbait) dan ulama-ulama yang mengikuti Nabi.

Kaum Persis (saya kira termasuk Wahabisme) mengaku merujuk Quran dan Hadis. Ternyata kalau ditelusuri dari rujukan berasal dari ajaran Muhammad bin Abdul Wahab yang dikenal tokoh Wahabisme. Bahkan merujuk Ibnu Taimiyah, ulama terdahulu yang banyak dikritik karena ajarannya yang dianggap bahaya bagi ukhuwah Islamiyyah.

Mereka bilang mengikuti Sunnah, malah menyalahi Sunnah Nabi dalam dakwah seperti menyesatkan orang yang beda mazhab dan melarang tawasul, melarang shalawatan, melarang ziarah kubur, melarang tahlilan, dan maulid Nabi pun dilarang. Mereka kecam itu semua karena tidak diteladankan Nabi. Tidak pernah ada dalil yang tegas untuk larangan tradis beragama yang dilakukan NU dan Syiah yang disebutkan di atas. Mereka yang menyalahkan atas nama Allah dan Rasul-Nya.  

Cara beragama model Persis dan Wahabi kini mulai ditinggalkan warganya karena tidak bisa melebur dengan budaya lokal. Banyak warga Persis sekarang ini yang ikut serta dalam tahlilan, maulid Nabi, dan shalawatan bersama. Tinggal orang-orang yang menjadi pengurus ormas Persis yang belum menyadari kebenaran dari mazhab selainnya.

Mengapa mereka bertahan dengan mazhab dan aliran agamanya? Mereka terikat dengan program besar dari ulama-ulama Wahabisame sehingga berani melakukan Arabisasi dan tidak menjungjung NKRI. Malah terus menebarkan anti persaudaraan dengan menyebut Muslimin Syiah sebagai golongan Islam sesat. Bahkan, sejumlah tradisi para Imam dan Wali Allah dianggapnya tidak berguna. Saya kira paham Persis dan Wahabisme sangat membahayakan masyarakat Islam Indonesia kalau terus berkembang. Harus ada upaya untuk meluruskan mereka dengan cara yang baik. Siapa tahu, mereka mau dengar. Semoga Allah membuka hati dan mencerahkan akal. 

(Ikhwan Mustafa)

 

 

Mon, 29 Dec 2014 @19:26

Copyright © 2019 Misykat · All Rights Reserved