AUDIO KAJIAN ISLAM

TATA CARA SHALAT

Buku Baru
image

 

Flash Disk OTG Kajian Islam
image

.

Facebook Misykat
image

.

BAHAN BACAAN (Buku PDF)
image

 

Dr Muhammad Tijani Samawi: Tragedi Hari Khamis

image

Aku lebih condong kepada pendapat Syi'ah dalam menafsirkan kejadian tragedi hari kamis, karena tafsirannya rasional dan mempunyai bukti yang kuat. Aku masih teringat jawaban Sayed Muhammad Baqir Sadr ketika kutanya bagaimana Sayyidina Umar—dari segenap sahabat—dapat mengerti maksud Nabi yang ingin menjadikan Ali sebagai khalifahnya seperti yang kalian duga. Bukankah ini adalah bukti kepandaiannya?

Sayed Sadr menjawab: "Bukan Umar sendiri yang tahu maksud Rasul. Semua yang hadir juga tahu. Karena sebelum itu beliau juga pernah berkata kepada mereka, "Kutinggalan kepada kalian dua peninggalan yang besar (tsaqalain): Kitab Allah dan itrah Ahlul Baitku. Jika kalian berpegang teguh pada keduanya maka kalian tidak akan tersesat selama-lamanya".

Pada saat sakitnya Nabi berkata kepada mereka, "Biar kutuliskan kepada kalian suatu pesan di mana kalian tidak akan tersesat selama-lamanya".

Semua yang hadir termasuk Umar tahu maksud Nabi yang ingin menegaskan secara tertulis apa yang diucapkannya di Ghadir Khum sebelum itu: yakni berpegang teguh pada Kitab Allah dan Itroh Ahlu Baitnya. Dan penghulu itroh adalah Ali. Jadi seakan-akan Nabi ingin berkata, "Berpeganglah kalian kepada AlQuran dan Ali."

Ucapan-ucapan seperti ini pernah dikatakannya juga di berbagai tempat yang lain seperti yang diungkapkan oleh sejumlah ahli hadis.

Mayoritas Quraisy tidak suka dengan Ali, karena beliau adalah yang paling muda, yang pernah menghancurkan pembesar-pembesar mereka dan membunuh pahlawan-pahlawannya. Tetapi mereka tidak berani menentang Nabi ke tahap yang pernah terjadi pada Perdamaian Hudaibiyah; atau ketika Nabi menyembahyangkan jenazah Abdullah bin Ubai, seorang munafik; dan dalam berbagai kejadian yang telah dicatat oleh sejarah. Sikap seperti ini, seperti yang Anda lihat dalam penentangan mereka atas penulisan wasiat di saat-saat akhir hayatnya, menimbulkan keberanian kepada yang lain untuk menentang dan bertengkar di hadapan baginda Nabi.

Kata-kata "AlQuran sudah ada disisi kalian" atau "cukuplah bagi kita Kitab Allah", adalah bantahan yang nyata kepada maksud Hadis yang menyuruh mereka berpegang kepada Kitab Allah dan Itrah Ahlul Bait Nabi. Seakan maksud bantahan itu begini: "Cukuplah bagi kami Kitab Allah dan tidak perlu kepada Itrah".

Selain ini tidak ada penafsiran lain yang dapat diterima, melainkan kalau kita katakan bahwa maksudnya adalah taat pada Allah tanpa perlu taat kepada Rasul. Hal demikian sudah pasti salah dan tak dapat diterima.

Apabila kubuang jauh-jauh rasa fanatisme buta dan sikap emosi yang negatif serta dapat berpikir secara rasional dan objektif maka aku harus terima penafsiran seperti ini bahwa Umarlah orang pertama yang menolak Sunnah Nabi dengan kata-katanya, "Cukuplah bagi kita Kitab Allah".

Jika sebagian penguasa menolak Sunnah Nabi karena alasan "kontradiktif", sebenarnya ia hanya ikut pengalaman sejarah kehidupan kaum muslimin sebelumnya.

Aku juga tidak mengatakan bahwa Umar adalah satu-satunya orang yang bertanggungjawab atas tragedi ini sehingga ummat kehilangan bimbingan yang sepatutnya diterimanya. Untuk lebih adil harus kukatakan bahwa ada sahabat lain yang bersamanya dan mempunyai pendapat seperti pendapatnya Umar. Mereka menyebelahi Umar di dalam sikapnya yang menentang perintah Nabi Muhammad SAW.

Aku merasa agak aneh pada mereka yang membaca peristiwa ini kemudian menganggapnya ringan yang seakan tidak menyirat sebuah implikasi yang besar. Padahal ia adalah tragedi yang paling besar seperti yang diungkapkan oleh Ibnu Abbas. Lebih aneh lagi adalah usaha mereka yang coba menjaga kemuliaan seorang sahabat dan membenarkan perbuatan salahnya dengan mengorbankan kemuliaan Rasulullah dan prinsip-prinsip Islam.

Kenapa kita harus lari dari suatu fakta dan berusaha menguburkannya ketika ia tidak sejalan dengan kehendak kita? Kenapa kita tidak menerima kenyataan bahwa para sahabat sebenarnya adalah manusia biasa seperti kita juga. Mereka punya hawa nafsu, kehendak dan keinginan serta bisa benar dan salah. Bagaimana pun rasa aneh ini akhirnya hilang ketika kubaca Kitab Allah yang mengisahkan kepada kita kisah-kisah para Nabi as dan penderitaan yang mereka alami karena sikap ummatnya yang menentang, kendatipun telah mereka saksikan berbagai mukjizat.

Ya Allah, jangan Kau palingkan hati kami setelah Kau berikan kepada kami hidayah-Mu. Karuniakan kepada kami dari sisi-Mu rahmat-Mu. Sesungguhnya Kau Maha Pemberi.

Aku mulai mengerti latar belakang sikap Syi'ah terhadap Khalifah Kedua yang dikatakan sebagai penanggungjawab terbesar atas segala tragedi yang terjadi dalam kehidupan kaum muslimin sejak Tragedi Hari Khamis di mana penulisan wasiat yang kelak akan menyelamatkan ummat manusia dari kesesatan itu dihalangi. Harus kita akui bahwa seorang yang berpikir rasional, dimana sebuah kebenaran diketahuinya bukan lantaran seseorang tokoh, akan mudah memahami sikap Syi'ah seperti ini. Namun bagi mereka yang tidak tahu kebenaran melainkan karena tokoh tertentu, maka pembicaraan ini tidak akan bermanfaat pada mereka.

Sumber buku: Akhirnya Kutemukan Kebenaran (Penerbit Zahra, Jakarta)

 

 

Wed, 31 Dec 2014 @20:57

Copyright © 2020 Misykat · All Rights Reserved