Rubrik
Terbaru
RSS Feed
AUDIO KAJIAN ISLAM

BERBAGI BUKU ISLAM

TULIS nama, alamat lengkap & nomor HP/WhatsApp pada KONTAK

TATA CARA SHALAT

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

BAHAN BACAAN
PENGUNJUNG

Flag Counter

Miftah Fauzi Rakhmat: Duabelas Empatbelas (1)

image

Satu saat, saya menemani ayah saya menerima dua orang tamu. Mereka sudah sering datang ke rumah kami. Bukan kali itu juga kami berbincang. Tapi baru kali ini, pembicaraan mereka menyita perhatian kami, menarik kami--saya khususnya--dan membawa pada palung yang dalam dan tak berkesudahan.

Apa pasal? Kedua tamu kami adalah dua orang jawara Sunda. Mereka tokoh dan ahli memainkan Benjang, seni tradisional gulat Sunda. Meski usia mereka sudah sepuh, yang satu bahkan di atas delapanpuluh, keduanya masih berdiri tegak, dan tangan lincah berkelebat, memainkan jurus-jurus silat. Tapi bukan itu yang menarikku dalam pusaran.

Keduanya tengah berkisah, dan siapa lagi yang paling menarik bercerita kecuali para tetua, orang-orang berpengalaman yang telah menimbang pahit getir dan manis madunya usia. Terkadang, dalam tatap mereka ada keteduhan.

Dalam bahasa mereka ada kearifan. Berbahagialah, karena kehadiran mereka siksa dijauhkan. Di kampung saya, Pak Haji Tartam, juga di atas delapanpuluh tahun usianya, mengisi hari-hari sepuhnya dengan menulis tangan kitab suci. Ia ingin mewariskan mushaf untuk anak cucunya. Sejak mulai menulis tiga tahun lalu, ia sudah menyelesaikan dua dan sedang mengerjakan yang ketiga. Bila bertemu dengannya, saya berusaha mengambil berkah dari tangan yang menuliskan firman Tuhan itu.

Lalu apa kisah dua jawara yang memikat saya? Asal-usul Kian Santang dan masuknya Islam ke tanah Sunda. Tentu, tak ada dalil.historis. Ia disampaikan turun temurun dalam sebuah seni bertutur yang disebut 'sindir sampir'. Pendek kata, berbalas pantun. Konon, ini murni warisan leluhur.

Begini kisahnya. Kian Santang adalah putra Prabu Siliwangi. Ia sakti mandraguna. Ilmu kanuragannya menaklukkan semua jawara. Seluruh Jawa telah ditempuhnya. Tapi tak ada seorang pun yang mampu mengalahkannya. Bahkan sebaris luka pun tak ia derita. Tubuhnya kebal beragam senjata. Ia tak pernah melihat darahnya sendiri. Muncullah dalam batin gurat bisik terdengar, ''Darahmu itu putih, Raden. Kau tak sama dengan yang lainnya.'' Maka ia gemar menantang, siapa yang akan datang menentang, menunggu lawan duel berikutnya. Siapa tahu darah mengalir karenanya.

Menarik untuk melihat bagaimana darah putih dianggap darah ningrat, darah raja. Darah biru sepertinya serapan dari budaya (dan bahasa) asing. Menarik pula bagaimana sebuah dinasti memegang tampuk kekuasaan dalam sejarah dan menjadikan putih sebagai warna benderanya: dinasti Umayyah.

Kembali ke Kian Santang, ia masih digdaya. Setiap yang datang berhasil dikalahkannya. Akhirnya, ia meminta izin bertanding melawan ayahanda. Kerajaan bergemuruh. Seorang anak menantang ayahnya. Ungkap durhaka yang dapat menurunkan bencana. Ayahanda Prabu akhirnya menyepi, bertapa seratus hari lamanya. Dan turunlah wangsit, suara tanpa wujud merasukinya, ''Raden, jangan kausiksa tubuhmu lebih lama. Berhentilah bertapa. Sampaikan pada ananda, ini jawaban pencariannya: lawan yang dia cari, ada di Pulau Arab tempatnya. Makkah nama negerinya. Dialah Macan Allah.''

Prabu Siliwangi menyampaikannya pada putranya. Ia berpesan agar menemui bibinya terlebih dahulu di Ujungkulon, Dewi Tambaklaras. Begitu sampai di istana Tambaklaras, sang Dewi menganjurkan agar Kian Santang mengurungkan niatnya. '

'Macan Allah bukan tandinganmu.'' Tapi itu tak menyurutkan niatnya. ''Baiklah, kau berangkat,'' ujar Dewi, ''tapi mandilah terlebih dahulu. Bersihkan dirimu di Danau Bagendra. Dan ubah namamu menjadi Raden Grentang Setra.'' Grentang artinya berani. Setra itu bersih. Seolah-olah Dewi hendak menyampaikan hanya jiwa yang bersih dan berani yang akan sampai kepadanya. Dan hanya para pemberani dan berhati tuluslah yang dapat jadi pengikutnya.

Singkatnya cerita, dengan ilmu kesaktiannya, Kian Santang--kini Grentang Sutra--menempuh perjalanan panjang tanpa kendala. Lalu, siapakah macan Allah, ksatria dari Pulau Arab, Negeri Makkah itu? Di sini, sang dalang beralih kisah. Ia tempatkan dirinya sedang bertutur tentang seorang kekasih sejati, kekasih Tuhan Yang Mahasuci, Sang Pencipta marcapada, Allah Ta'ala yang Esa. Dialah Kanjeng Rasul Muhammad Saw. Ia punya seorang menantu, manusia pilihannya. Dialah sang macan Allah itu. Namanya Ali bin Abi Thalib. Dalam literatur Islam.ia disebut Asadullah al-Ghalib.

Konon, Kanjeng Rasul tengah mendirikan sebuah bangunan dengan empat tiang. Tapi satu tiang belum lengkap, dan ia memerintahkan menantunya itu untuk mengambil tiang emas dari tangan sebangsa jin, Jin Burhan namanya. Ia tinggal di ujung pulau. Maka Sayyidina Ali, begitu ia biasa disebut di tatar Sunda, menempuh perjalanan menujunya. Di tengah jalan, ia menyadari kehadiran Grentang Setra. Ia pun mengubah wujudnya menjadi seorang tua renta. Dan bertemulah mereka berdua. Terjadi berbalas kata. Entah bahasa yang mana. Mungkin sang Sayyidina menguasai bahasa seluruhnya. Disampaikanlah maksud dan niat yang ada. Kakek tua, ksatria Pulau Arab itu menyetujui akan mengantarkan Kian Santang menemui macan Allah.

Mereka pun berbalik ke belakang. Tetapi Sayyidina Ali menancapkan tongkat yang ia pakai ke tanah. Begitu beranjak beberapa lama, ia sampaikan pada Kian Santang tentang tongkatnya yang tertinggal. ''Tetaplah di sini, Kek,'' kata Kian Santang, ''biar aku yang mengambilnya.'' Ia pun berlari secepat kilat. Berusaha menyambar tongkat kecil itu. Tapi ternyata ia mencengkeram.bumi begitu kuatnya. Berulangkali ia berusaha angkat, tak juga tongkat itu bergerak. Ia keluarkan seluruh kesaktiannya. Urat dan ototnya mengeras. Ia paksakan. Akhirnya pecah juga urat syaraf itu, dan darah berderai, mengaliri seluruh tubuhnya, membilas habis keringat yang dicurahkannya. Merah warnanya, Raden. Begitu barangkali pungkas penutur kisahnya.

Ceritanya sebenarnya masih panjang tapi saya cukupkan di sini. Kedua orang yang mengisahkannya begitu ekspresif, bukan saja menyampaikan jalan ceritanya tapi juga moral yang terkandung di dalamnya. Jangan sombong, jangan durhaka, mulailah (kerja) dengan nama Tuhan, mencari ridhonya, patuh tanpa syarat pada Sang Pemimpin itu…dan lain sebagainya.

Kian Santang akhirnya berguru pada Sayyidina Ali yang kemudian memberinya empat nama: Sunan Rahmat, Sunan Bidayah, Gagak Lumayung dan Gagak Lumiring. Kedua 'gagak' itu diabadikan menjadi jurus-jurus persilatan dan Sunan Rahmat dan Sunan Bidayah menjadi ciri ajaran Sayyidina Ali. Yaitu bahwa ia harus disampaikan dengan kasih. Rahmat artinya kasih. Itulah awal mula (bidayah) dari perjalanan kembali kepadaNya. Yang menarik, ia juga menuturkan bahwa musuh terbesar Kian Santang, Raden Grentang Setra adalah ilmu Kakaoman. Sebuah paham merasa 'kaum'nya-lah yang paling benar, paling selamat, paling menang. Menarik, bukan?

Kisah dan cerita memang sarana terindah untuk menyampaikan maksud. Hampir semua kitab suci bertutur tentang kisah. ''Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al Quran ini kepadamu, dan sesungguhnya kamu sebelum (Kami mewahyukan)nya adalah termasuk orang-orang yang belum mengetahui.'' (QS. Yusuf [12]:3)

Kisah juga bisa menjadi sarana menyampaikan pesan moral yang metaforis, bahkan isyarat yang tak mengenal zaman. Simak bagaimana Alkitab mengisahkan Yesaya dan Wahyu 12.

29:11 Maka bagimu penglihatan dari semuanya itu seperti isi sebuah kitab yang termeterai, apabila itu diberikan kepada orang yang tahu membaca dengan mengatakan: “Baiklah baca ini,” maka ia akan menjawab: “Aku tidak dapat, sebab kitab itu termeterai”;

29:12 dan apabila kitab itu diberikan kepada seorang yang tidak dapat membaca dengan mengatakan: “Baiklah baca ini,” maka ia akan menjawab: “Aku tidak dapat membaca.”

Alegoris, metaforis, dan menarik untuk terus dikaji. Siapakah yang.tak dapat membaca kitab 'bermaterai'? Bukan karena buta huruf, tapi karena ia masih tertutup, terkunci sebelum diizinkan Sang Pemilik Kitab.

Wahyu 12, berkisah lebih dramatis, heroik dan menarik kita pada pusaran kisah yang lebih dalam lagi.

12:1 Maka tampaklah suatu tanda besar di langit: Seorang perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya dan sebuah mahkota dari dua belas bintang di atas kepalanya.

12:2 Ia sedang mengandung dan dalam keluhan dan penderitaannya hendak melahirkan ia berteriak kesakitan.

12:3 Maka tampaklah suatu tanda yang lain di langit; dan lihatlah, seekor naga merah padam yang besar, berkepala tujuh dan bertanduk sepuluh, dan di atas kepalanya ada tujuh mahkota.

12:4 Dan ekornya menyeret sepertiga dari bintang-bintang di langit dan melemparkannya ke atas bumi. Dan naga itu berdiri di hadapan perempuan yang hendak melahirkan itu, untuk menelan Anaknya, segera sesudah perempuan itu melahirkan-Nya.

12:5 Maka ia melahirkan seorang Anak laki-laki, yang akan menggembalakan semua bangsa dengan gada besi; tiba-tiba Anaknya itu dirampas dan dibawa lari kepada Allah dan ke takhta-Nya.

12:6 Perempuan itu lari ke padang gurun, di mana telah disediakan suatu tempat baginya oleh Allah, supaya ia dipelihara di situ seribu dua ratus enam puluh hari lamanya.

12:7 Maka timbullah peperangan di sorga. Mikhael dan malaikat-malaikatnya berperang melawan naga itu, dan naga itu dibantu oleh malaikat-malaikatnya,

12:8 tetapi mereka tidak dapat bertahan; mereka tidak mendapat tempat lagi di sorga.

12:9 Dan naga besar itu, si ular tua, yang disebut Iblis atau Satan, yang menyesatkan seluruh dunia, dilemparkan ke bawah; ia dilemparkan ke bumi, bersama-sama dengan malaikat-malaikatnya.

Siapakah 'Perempuan bermahkotakan duabelas bintang?' Ia yang berputra dia yang akan 'menggembalakan semua bangsa?' Yang anaknya dilarikan kepada Allah, dibawa ke Tahta-Nya? Ini kisah abadi yang senantiasa memukau siapa saja yang hendak mencari.

 

Menarik melihat tiga contoh di atas. Surat Yusuf itu surat ke-12 dalam Al-Quran. Yesaya pada ayat 12 dan Wahyu juga pada nomor yang sama. Maka pada kisah kita temukan ungkap yang tak menggurui, nasihat yang menghunjam dasar hati. Seperti kisah berikut ini.

(bersambung)

Thu, 1 Jan 2015 @08:06

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved