CERAMAH DAN KAJIAN ISLAM

TATA CARA WUDHU

TATA CARA SHALAT

TATA CARA TAYAMUM

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK: Komunitas Misykat

BAHAN BACAAN

Miftah Fauzi Rakhmat: Duabelas Empatbelas (2)

image

Di Beirut, sudah jamak orang menyalakan kembang api dan meluncurkannya ke angkasa pada Pekan Mawlid Nabi. Langit Beirut akan bergemuruh dihiasi beraneka rona warna. Bagi warga Beirut, ini sudah biasa. Gempuran Israel terkadang membuat siang langit malam dan meneriakkan ledakan yang memekakan telinga. Tapi tidak waktu Mawlid Nabi. Mereka luncurkan kembang api ke angkasa.

Di Libanon, tak semua umat Islam. Nasrani, Druze dan umat lainnya sudah lama hidup berdampingan. Maka mereka sama-sama bergembira kapan saja ada umat yang merayakan hari besar keagamaannya.

Seperti malam Mawlid Nabi beberapa tahun berselang. Kilatan kembang api beterbangan bergantian. Warga bersukacita. Dari berbagai agama, mereka tumpah ke jalan merayakannya. Termasuk seorang bocah kecil umat Kristiani. Ia bergembira melihat pijar bunga berpendar dan memudar di angkasa.

Jalan kisah tak dapat dikira. Satu dari kembang api besar yang dinyalakan tak meledak di langit sana. Dan gravitasi menariknya kencang ke bumi. Menghunjam dengan derasnya. Di bawah sana si putri kecil itu berlarian dengan ceria. Tersenyum, tertawa bahagia. Dan…''dhuarr!'' sebuah kembang api besar memecahkan kepala anak kecil itu. Suara jeritannya hilang dalam letupan.

Kedua orangtuanya dengan segera melarikannya ke rumah sakit terdekat, The American University of Beirut Medical Center. Bayangkan kepanikan, bayangkan airmata dan tangisan.

Ia segera dirawat. Kepalanya pecah. Darah membasahi seluruh tubuhnya. Dokter berusaha menanganinya. Apa daya, benda yang jatuh itu menghantam begitu kerasnya. Ia tak terselamatkan. Dokter mengizinkan sang ibu menjenguknya. Sambil berlari, Ibu itu berkata, setengah berteriak menengadah ke langit, ''Ya Muhammad…ya Muhammad…di manakah engkau? Lihat, acara kelahiranmu mendatangkan luka. Kebahagiaanmu berganti duka…aduhai, putriku ya Muhammad, putriku Ya Muhammad…'' ia berlari berlinang airmata. Hingga sampailah di depan pintu kamar putrinya.

Dokter sudah mengabarkan, putrinya hanya punya beberapa jam saja. Gunakan waktu perpisahan sebaik-baiknya. Perlahan, ia membuka pintu. Ia kuatkan batinnya. Ia langkahkan kakinya. Aduhai! Apa yang terjadi? Matanya membelalak begitu melihat putrinya duduk di kasurnya. ''Ibu…ibu…'' teriaknya, ''segera tutup pintunya Ibu. Kemari Ibu, cepatlah. Jangan kau biarkan ia keluar. Jangan kau lepaskan ia meninggalkanku.''

Ibu itu tak menyadari sekelilingnya. Ia diam tak bersuara. Bermimpikah ia? Bagaimana mungkin putrinya sehat dan berbicara. Kemudian ia melangkah mendekat, memegang tangan putrinya erat dan berkata, ''Wahai putriku, siapa yang harus kujaga? Siapa yang tentangnya kau sedang bicara?''

''Ialah Muhammad wahai Ibu…ia masuk ke kamarku. Meletakkan tangannya di atas kepalaku. Dan meredalah luka, mengeringlah darah. Ia Muhammad, duhai Ibu. Dan ketika datang membuka pintu…ia pun keluar tersenyum padaku.''

Ada akhir dari kisah itu, tapi saya tak hendak menceritakannya. Itulah tujuan dari sebuah kisah, agar kita tak berhenti dan melanjutkan pencarian setelahnya. Kisah Mawlid di Beirut itu, kisah nyata. Dan ia dapat memberikan begitu banyak makna.

Lalu apa hubungannya para tetua, Kian Santang, petikan firman suci dan kisah Mawlid Nabi? Di atas dasar itulah buku ini ditulis. Ia berkisah. Sebagian terinspirasi kisah nyata, ada juga yang direka dari keseharian bersama. Ada tulisan diberi kerangka sejarah. Ada juga sejarah dibingkai kacamata kekinian. Semua terhubung. Semua mematung. Dan pemaknaan yang kita beri meniupkan ruh yang melambungkannya, menuju angkasa makna yang tak bertepi.

Saya beri judul buku ini ''Duabelas Empatbelas''. Ada duabelas tulisan lepas. Dan ada empatbelas cerita pendek (insya Allah) penuh daras. Ditulis melalui telepon pintar, diabadikan dalam sebuah grup pendengar ''The Prophetic Wisdom'' lazim disingkat ''TPW".

Maka terima kasih saya sampaikan pada all members, secara khusus Ibu Admin TPW Group, yang merangkap tugas juga sebagai istri saya. Terima kasih pada Bapak yang telah membuka jendela dunia yang luas pada saya, dan terima kasih pada Mamah yang memberi saya bekal untuk mengarunginya. Terima kasih pada Muhammad dan Ali, pada seluruh keluarga besar di Bandung, Lampung dan Jakarta (plus Bekasi); pada orangtua murid di sekolah-sekolah Muthahhari; pada sahabat dan handai taulan.

Terima kasih telah berkenan menjadi kawan seiring. Tulisan dan kisah dalam buku ini tak sepanjang pengantarnya. Bukankah, begitu pula hidup kita? Ia fragmen-fragmen yang dengan cepat berkelebat. Dilupakan atau dikekalkan? Pemaknaanlah yang membuatnya abadi.

Dan di tangan sebuah pena pemaknaan itu dituliskan. Amanah itu diberikan. Ialah 'tongkat' yang tak dapat ditaklukkan itu. Ialah buah dan hadiah cinta, jawaban mereka yang putus asa. Ialah yang dapat membuka kunci kitab itu, yang dapat mengalahkan ular naga dan mengantarkan kita pada mahkota berselubungkan matahari. Selamat memaknai.

Bandung, Mawlidur Rasul Saw 1436 H
@miftahrakhmat
www.miftahrakhmat.com
#UsMif@TPW

 

Thu, 1 Jan 2015 @08:09

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved