Rubrik
Terbaru
PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed
AUDIO MISYKAT

TATA CARA WUDHU

TATA CARA SHALAT

TATA CARA TAYAMUM

FACEBOOK & WHATSAPP

Fanpage Komunitas Misykat

WhatsApp Group: Kajian Islam

BERBAGI BUKU

Bagi yang ingin buku bacaan ISLAM silakan tulis nama, alamat, dan nomor WhatsApp pada KONTAK

BAHAN BACAAN

Kitab Syiiran (Refleksi Maulid Nabi SAW)

image

Menyambung status tentang tradisi mauled Nabi, berikut catatan kecil tentang Kitab Syi’iran yang masih mudah didapatkan di toko-toko kitab di seputar Jawa Barat. Nama resmi kitab ini adalah Syi’rul Hisan fi Tafadhil Maulid Sayyidil Insi wal Jan (Syair Mulia: Menyambut Kelahiran Pemimpin Manusia dan Jin) karya Muhammad Juwaini bin Abdurrahman dari Parakan Salak, Parungkuda, Cicurug, Sukabumi.

Sementara hak penerbitannya dipegang oleh Sayyid Ali Al Idrus yang saat pertama kali terbit beralamat di Kramat 38, Batavia Centrum. Tidak disebutkan kapan kitab ini mulai dicetak. Hanya ada catatan bahwa kitab ini sudah mulai dicetak sebelum Juli 1937 (1356 H). 

Saat menemani istri saya, Neneng Yanti KH, riset di Cirangkong, Cikeusal, Tanjungjaya, Tasikmalaya, saya bersua beberapa orang yang masih menerima panggilan untuk membacakan kitab tersebut. Biasanya untuk acara khitanan, pernikahan, dan syukuran rumah.

Ada yang membacanya berdua, seperti yang dilakukan oleh Mang Naim dan Mang Asep, ada pula yang membacanya sendirian seperti Bi Omah. Kitab yang terdiri dari 20 jilid ini jika dibaca bersambung membutuhkan waktu dua malam atau 14 jam jika dibaca tanpa berhenti. Jika jilid pertama dimulai pada jam 14.00 siang maka jilid pamungkas akan selesai pada sekira jam 4 pagi keesokan harinya.

Kitab ini ditulis dalam huruf Arab pegon Sunda. Awalnya terdiri dari 20 jilid secara terpisah, tetapi di toko kitab yang saat ini beredar hanya dijumpai kitab yang sudah disatukan dalam satu jilid sehingga agak lumayan sulit membacanya. Maklum, dalam tradisi pegon hampir tidak ada hak cipta. Kitab-kitab itu dikloning oleh banyak percetakan tanpa berganti master sehingga makin lama kualitas cetaknya kian memburuk.

Semua orang yang mengerti huruf pegon, memang bisa membaca kitab ini, tetapi untuk menyenandungkannya seperti Mang Naim atau Bi Omah, perlu skill khusus dan tentu saja jam terbang. Beruntung saya sempat mendengarkan sekilas bagaimana kitab itu dibacakan kedua maestro syi’iran itu selama tinggal di Cikeusal. 

Apa yang berbeda? Ya, isi kitab ini sama saja dengan catatan sejarah tentang Nabi Muhammad SAW. Bedanya, kitab ini ditulis dalam bentuk syair dalam Bahasa Sunda dan sangat komprehensif merangkum perjalanan Sang Nabi, sejak penciptaan Nur Muhammad hingga wafatnya.

Ada bagian-bagian yang selama ini jarang diketahui, misalnya konspirasi rencana pembunuhan terhadap Siti Aminah sebelum Nabi dilahirkan. Kitab ini menjelaskan secara hidup bagaimana kehebohan masyarakat Makkah.

Tertera dalam sub judul: Aya hiji kahinah wasta Nini Zarqo rek ngarah pati Siti Aminah. Dibacakan oleh maestro sekelas Bi Omah, kisah konspiratif itu serasa hidup dan tergambar jelas. Serta merta tumbuh kebencian di antara pendengar pada keculasan Nini Zarqo ini. Anda belum pernah mendengar nama tokoh Nini Zarqo ini kan?

“Ada kisah yang menggembirakan dan nada yang menyedihkan,”ujar Bi Omah. “Saat cerita gembira, para pendengar biasanya ikut bergembira dan saat cerita sedih mereka pun ikut bersedih.”

Ingin mengundang Bi Omah atau Mang Naim? Silakan hubungi Pak Ipin Sairipin di Cirangkong, Cikeusal, Tanjungjaya, Tasikmalaya. Atau bisa juga melalui Komunitas Cermin pimpinan Ashmansyah Timutiah (Acong). Shollu ‘ala sayyidina Muhammad (wa aali sayyidina Muhammad). 

[Sumber dari facebook: Iip Dzulkipli Yahya]


Thu, 30 Nov 2017 @14:16

Copyright © 2017 Misykat · All Rights Reserved