Minat beli buku klik covernya
image

 

AUDIO KAJIAN ISLAM

KATALOG Kajian Islam
image

.

TATA CARA SHALAT

Pustaka (Buku PDF Gratis)
image

 

Miftah F.Rakhmat: Bersukacitalah, Wahai Tercinta (1)

image

Bismillahirrahmanirrahim

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Ali Muhammad

Lebih dari duapuluh tahun yang lalu, dalam satu perjalanan kereta saya berbincang dengan ayahku. Saya memanggilnya Bapak. Dulu, jalur Jakarta – Bandung masih sering ditempuh dengan Kereta Parahyangan. Begitu padatnya penumpang, sehingga tiket tanpa kursi diberikan. Kami duduk di selasar, tak jauh dari mulut gerbang, dekat kamar kecil tempat orang bergantian datang.

Saya masih ingat saat itu, diskusi itu. Ada dua hal—di antara ragam hal lainnya—yang menarik dibicarakan. Pertama, mengapa silsilah Rasulullah Saw yang dihubungkan oleh Sayyidah Fathimah sa tidak berlaku bagi putri-putri keturunan mereka lainnya. Para sayyid, keturunan Nabi Saw dilihat dari jalur ayah. Bila ibu mereka Syarifah dan ayah mereka bukan Sayyid, mereka tidak disebut Sayyid. Di Pakistan atau Iran, misalnya kepada mereka disematkan gelar kehormatan “Mir”. Hal yang sama pernah ditanyakan pada seorang di antara keturunan Rasulullah Saw itu, Imam Musa al-Kazhim as.

Beliau menjawab dengan merujuk pada Surat al-An’aam [6]:84-85, “Dan Kami telah menganugerahkan Ishak dan Ya’qub kepadanya. Kepada keduanya masing-masing telah Kami beri petunjuk; dan kepada Nuh sebelum itu (juga) telah Kami beri petunjuk, dan kepada sebahagian dari keturunannya (Nuh) yaitu Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa dan Harun. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Dan Zakaria, Yahya, Isa, dan Ilyas. Semuanya termasuk orang-orang yang shaleh.”

Dalam ayat ini, Nabi Isa as disebut sebagai keturunan Nabi Ibrahim, keturunan Nabi Ishak dan Ya’qub, keturunan Nabi Nuh ‘alaihim afdhalu tahiyyati wat taslim. Melalui siapakah silsilah itu sampai pada Nabi Isa as? Melalui ibundanya, Sayyidah Maryam salaamullah ‘alaiha. Begitulah persamaan dan perumpamaannya.

Sayyidah Maryam sa dan Sayyidah Fathimah sa adalah dua perempuan suci perantara mukjizat Allah Swt. Melalui Sayyidah Maryam sa, lahir Nabi Isa as tanpa ayah. Dan melalui Sayyidah Fathimah sa ayat “sesungguhnya musuh-musuhmulah (yang keturunannya) terputus” (QS. Al-Kautsar [108]:3) menemukan perwujudannya. ‘Ala kulli haal, dalam Islam tak pernah ada permasalahan itu. Semua sepakat bahwa hanya melalui Sayyidah Fathimah sa keturunan itu bersambung pada Rasulullah Saw. Tidak melalui yang lainnya. Sayyidah Fathimah menjadi mata penghubung antara silsilah keemasan terdahulu dan silsilah keemasan kemudian. Itulah mengapa ia digelari “Penghulu Perempuan semesta alam.”

Diskusi kedua, dalam perjalanan kereta itu, adalah tentang pertanyaan banyak orang: mengapa Peringatan Asyura, syahadahnya Imam Husain as, lebih besar diperingati, lebih banyak dihadiri dibandingkan Mawlid Nabi Saw. Dulu, kami mencoba ‘menganalisis’ berbagai jawaban. Misalnya, karena Mawlid sudah banyak diperingati, sudah semarak, sudah mentradisi dan seterusnya. Termasuk di antara jawaban itu adalah jawaban imajiner, jawaban pengandaian. Yaitu, bila Nabi Saw bersama kita sekarang ini lalu kita tanyakan kepada Baginda: mana yang harus diperingati lebih besar? Mawlid Nabi Saw atau Asyura Imam Husain as? Kira-kira apa jawaban Nabi Saw? Dan bagaimana jika pertanyaan yang sama kita ajukan pada imam Husain as: mana yang akan dipilih Imam as? Kesimpulannya: dua-duanya harus kita peringati sebaik-baiknya.

Sekarang, duapuluh tahun setelah itu, sudahkah pertanyaan itu terjawab? Sepasang suami istri, yang baru saja pulang berziarah ke Karbala, Irak, ke pusara Imam Husain as dan menempuhnya dengan berjalan kaki sekitar 80 kilometer jauhnya, menelepon saya dan bertanya tentang apa yang disaksikannya selama di sana. Lautan manusia puluhan juta banyaknya. Tua, muda, bayi, sehat, pincang, berkursi roda. Semua bergerak ke titik yang sama. Mereka hanyut dalam lautan massa itu. Makanan dihidangkan sepanjang jalan. Mushalla, tempat peristirahatan, bahkan orang-orang yang siap berkhidmat memijat kaki-kaki yang kelelahan itu, semua tersedia. Mereka bertanya kepada saya, mengapa seluruh perkhidmatan itu? Mereka merasa, apa yang dilakukan melebihi apa yang dilakukan selama ini kepada Rasulullah Saw. Tidaklah Imam Husain as lebih tinggi dari Nabi Saw, tapi mengapa seluruh perkhidmatan itu?

Saya menjawabnya singkat dan panjang. Yang singkat: justru semua itu karena kecintaan mereka kepada Rasulullah Saw. Karena mengasihi dan menyayangi kecintaan Nabi Saw. Bukankah cinta tak mengenal kadar? Tak ada batas dalam cinta seberapa pun besar. Bukankah tentang Al-Husain, Nabi Saw bersabda, ''Husain dariku dan aku dari Al-Husain. Ya Allah, cintailah yang mencintainya.'' (Sunan Turmudzi 3775, Sunan Ibnu Majah 144, Musnad Imam Ahmad bin Hanbal 17111) . Adapun jawaban yang panjang adalah berikut ini.

Ketika turun surat Al-Ahzab [33]:33, Rasulullah Saw sebagaimana dinukil banyak kitab tafsir melalui riwayat Ummu Salamah ra (Al-Fakhr al-Razi, Al-Suyuthi, Al-Baghawi, Al-Nisyaburi, Al-Thabari, dan Ibn Katsir) berbalutkan selimut Khaibari bersama empat orang keluarganya: Imam Hasan as, Imam Husain as, Sayyidina Ali as, dan Sayyidah Fathimah sa. “…Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” Lima orang itulah: Rasulullah, Hasan, Husain, Ali, dan Fathimah ‘alaihimus salaam yang kemudian dikenal dengan ahlul kisaa, orang-orang di bawah selimut.

A’isyah Ummul Mukminin pun meriwayatkannya dalam Shahih Muslim 7/130 hadits nomor 6414. Ensiklopedi Lidwa memuatnya dalam Shahih Muslim, Kitab Keutamaan Sahabat hadis nomor 4450. Sejak itu, Rasulullah Saw sering mengetuk pintu rumah keluarga Faathimah sa seraya membacakan ayat itu. Riwayat semisal ada pada Sunan al-Nisaa’i 5:113, Sunan al-Turmudzi 5:699 dengan pensahihan dari Al-Albani 3:306 hadis nomor 3205. Dan masih banyak lagi. Pendek kata: ada lima orang terpilih dalam selimut itu. Lima orang yang karena mereka turun ayat mulia.

Lima orang yang sama yang berangkat untuk peristiwa Mubahalah. Surat Ali Imran [3]:61 dalam berbagai kitab tafsir juga menceritakan kelima orang itu. Memang Al-Suyuthi menambahkan yang berbeda, yaitu bahwa pada peristiwa itu Rasulullah Saw membawa serta Khalifah Abu Bakar dan putra-putranya, Khalifah Umar dan putra-putranya, Khalifah Utsman dan putra-putranya, begitu pula Sayyidina Ali dan putra-putranya (Al-Durr al-Mantsur 2:40). Riwayat-riwayat lain mengisahkan bahwa yang dibawa Rasulullah Saw adalah keluarganya saja: Ali, Fathimah, Al-Hasan dan Al-Husain. Telusuri misalnya: Musnad Imam Ahmad bin Hanbal 1:120 hadis 1608; Shahih Muslim 2:120 bab Fadhail Ali bin Abi Thalib as; Al-Mustadrak 3:163 hadis 4719 dan Sunan Turmudzi 5:163 hadis 2999. Untuk hadis terakhir kata Al-Albani: shahih al-isnad.

Saya ambil yang dari Shahih Muslim saja sebagai contoh. Saya kutip sesuai terjemahan Lidwa yang mengisahkan dua di antara hadis ketika Ali bin Abi Thalib dikecam:

4426. Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id; telah menceritakan kepada kami ‘Abdul ‘Aziz yaitu Ibnu Abu Hazim dari Abu Hazim dari Sahl bin Sa’ad dia berkata: “Pada suatu ketika, seorang keluarga Marwan diangkat menjadi pejabat di Madinah. Lalu orang tersebut memerintahkan Sahal bin Sa’ad untuk mencaci maki Ali bin Abu Thalib, tetapi Sahal malah menolak perintah tersebut. Pejabat tersebut berkata kepada Sahal, Kalau kamu tidak mau maka ucapkanlah; ‘Semoga Allah melaknat Abu Thurab.’ Sahal menjawab, “Tidak ada nama julukan Ali bin Abu Thalib yang lebih ia sukai daripada julukan Abu Turab dan ia pun senang jika dipanggil dengan julukan tersebut…”

4420. Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id dan Muhammad bin ‘Abbad, lafazh keduanya tidak jauh berbeda. Keduanya berkata; Telah menceritakan kepada kami Hatim yaitu Ibnu Isma’il dari Bukair bin Mismar dari ‘Amir bin Sa’ad bin Abi Waqqash dari Bapaknya dia berkata; Mu’awiyyah bin Abu Sufyan pernah menyuruh Sa’ad dan menanyakan kepadanya tentang sikapnya kepada Ali, dia berkata: ‘Kenapa kamu tidak mau menyalahkan (dalam Arabnya: tasubba, artinya mengecam) Ali?

Dia menjawab, ‘Aku teringat kepada tiga hal tentang kedudukan Ali yang pernah diucapkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, maka aku selamanya tidak akan mencelanya karena tiga hal tersebut. Sesungguhnya salah satu dari tiga hal tersebut lebih aku sukai daripada seekor sapi yang mahal. …(kemudian ia menyebutkan dua keistimewaan Ali, dan sampai pada yang ketiga)…Tatkala turun ayat: (Marilah memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memanggil Ali, Fatimah, Hasan, dan Husain dan bersabda, “Ya Allah, mereka adalah keluargaku.”

Pendek kata, semua umat Islam sepakat dengan kemuliaan dan derajat khusus dari lima orang yang sama-sama berada dalam satu selimut itu. Masyarakat Muslim Indonesia bahkan sering mendendangkan bait-bait syair yang menunjukkan penghormatan kepada mereka. Nasyid Lii khamsatun mengisyaratkan azab yang tertahan karena kehadiran mereka.

Nah, apa hubungannya jawaban panjang ini dengan Asyura? Ketika Nabi Saw wafat, satu di antara lima pusaka itu kembali ke pangkuan Kekasih Sejati, menyisakan empat di antaranya. Kemudian wafat Sayyidah Fathimah sa dan tersisa tiga. Lalu gugur Sayyidina Ali di mihrabnya dan tinggal dua. Kemudian syahid Imam Hasan as dan menyisakan Imam Husain as saja. Sehingga, ketika syahid juga Imam Husain as di Padang Karbala pada tahun 61 H itu, tak tersisa lagi dari Ashabul Kisaa di muka bumi ini.

Dari lima orang di bawah selimut Hadhrami Khaibari. Dari lima orang yang dibawa Nabi Saw pada asbabun nuzul Ali Imran 61 itu. Maka Asyura menjadi akumulasi dari berbagai duka. Bukan meninggikan satu di atas yang lainnya, karena mereka semua terhubung. Dalam duka Asyura ada duka seluruh yang lima itu. Dalam duka Asyura ada duka Al-Hasan, ada duka Ali, ada duka Sayyidah Fathimah dan ada duka Nabi Saw. Karenanya, mencintai Imam Husain as adalah satu di antara bentuk kecintaan pada Rasulullah Saw.

Justru karena mencintai Nabi itulah orang-orang menempuh perjalanan panjang, sebagian tanpa alas kaki untuk menyampaikan belasungkawa, untuk mengungkapkan duka cita pada pusara cucunda Baginda kinasih yang tercinta. Bayangkan, sekiranya diizinkan juga menempuhnya, jutaan orang akan berjalan kaki, bahkan mungkin merangkak, berkursi roda, atau dibantu sesamanya…untuk tersungkur di mihrab cinta pusara Rasulullah Saw.

Begitulah jawaban ‘panjang’ saya. Lalu, apa hubungannya dengan Mawlidur Rasul Saw. Bila Asyura adalah akumulasi duka, maka Mawlidur Rasul Saw adalah pangkal dan puncak dari seluruh sukacita. Keduanya: baik duka maupun suka, sama-sama digerakkan oleh cinta.

(bersambung)

Fri, 9 Jan 2015 @15:33

Copyright © 2020 Misykat · All Rights Reserved