Rubrik
Terbaru
Media Kajian

Fanpage Facebook MISYKAT

YouTube Channel Misykat TV 

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Maulid Rasulullah Saw bersama Kang Jalal: Sebagai Bukti Cinta

image

Bagi kaum Musimin Indonesia tidak menjadi soal, mau dari Syiah atau Sunni, pasti setiap kali Rabiul Awwal menyelenggarakan Maulid Nabi Muhammad Saw. Di kota dan desa beragam cara merayakannya. Misalnya di Garut, Jawa Barat, perayaan Maulid Nabi diawali dengan pembacaan kitab Al-Barzanji yang dilakukan mulai tanggal 1 hingga 11 Rabiul Awwal di masjid. Baru tanggal 12 dirayakan Muludan secara bersama dengan membaca shalawat, ceramah, dan memakan nasi tumpeng.

Di Cirebon dan Yogyakarta memiliki kesamaan dalam Maulid Nabi. Mereka membuat gunungan berupa makanan dibawa ke arena acara maulid. Selesai ceramah dan shalawatan, gunungan itu dinikmati bersama hingga ada yang saling berebut.

Warga Madura merayakan Maulid Nabi Muhammad saw tidak tanggal 12 Rabiul Awwal. Mereka merayakan setiap tanggal 17 Rabiul Awwal. Sudah menjadi tradisi setiap tanggal 17 Rabiul Awwal warga Madura membuat makanan terbuat dari ketan, membuat makanan dengan bungkus daun pisang, dan menyajikan buah-buahan dalam wadah khusus yang masing-masing orang membawanya saat acara Maulid Nabi. Selesai acara dimakan bersama dan orang saling mencicipi makanan maulid yang dibawanya. 

Di Makassar, setiap Maulid Nabi pasti dibuat pohon maulid dengan aneka warna yang menghiasi dan dibuahi dengan telor matang. Makanan khas yang disajikan berupa nasi ketan dengan lauk ayam. Tidak jarang pohon maulid ini direbutkan oleh peserta yang hadir dalam perayaan Maulid Nabi.

Untuk di Bandung, biasanya setiap pesantren, madrasah, dan sekolah menyelenggarakan Maulid Nabi secara terpisah. Sebelum hari perayaan, diadakan kegiatan lomba-lomba dan berbagi makanan untuk masyarakat sekitar. Pada hari pelaksanaannya diisi ceramah dari ustad terkenal, shalawatan, dan memakan tumpeng.

Yang disebutkan di atas adalah perayaan Maulid Nabi versi kaum Muslimin Sunni Indonesia. Sedangkan perayaan Maulid Nabi Muhammad saw yang diselenggarakan kaum Muslimin Syiah sedikit perbedaannya. Acara Maulid Nabi diawali dengan shalawatan, nasyid, pembacaan narasi dan puisi, ceramah, dan doa ziarah. Kemudian menikmati nasi tumpeng dan aneka manisan secara bersama.

Maulid Rasulullah saw bersama Kang Jalal

Alhamdulillah, saya bisa menghadiri acara Maulid Nabi Muhammad saw. Minggu, 18 Januari 2015 di Bandung diselenggarakan oleh IJABI (Ikatan Jamaah Ahlulbait Indonesia) dan Yayasan Muthahhari. Acaranya diisi dengan penampilan nasyid shalawat dari murid-murid sekolah Muthahhari, pembacaan puisi, dan ceramah dari Dr KH Jalaluddin Rakhmat (yang biasa disapa Kang Jalal). Diakhiri dengan doa ziarah dan memakan nasi tumpeng. Tidak hanya dimakan oleh jamaah, tetapi sekira 114 tumpeng dibagikan untuk masyarakat yang miskin, yatim, piatu, dhuafa, dan jamaah. Pembagiannya dilakukan melalui panti asuhan, panti jompo, dan pesantren.

Saya mendengar ceramah Kang Jalal yang sangat menyentuh. Kang Jalal membacakan puisi yang membuat saya terharu karena ada riwayat-riwayat yang berkaitan dengan kecintaan sahabat kepada Nabi Muhammad saw. Tidak disadari air mata keluar ketika Kang Jalal membaca untaian kalimat puitis dengan suara yang teratur dan sangat jelas dari makna. Setiap kalimat yang dibacanya dengan mudah tertanam dalam benak bahwa betapa agung dan mulia Rasulullah saw.

Saya kira ini Maulid Nabi yang istimewa. Terasa menyentuh dan betapa dekatnya Nabi Muhammad saw dengan umat Islam. Sangat terasa lantunan shalawat menyerap dalam hati dan membuat saya tergerak untuk mengenal sosok Nabi Muhammad saw lebih dekat dan mendalam.

Hatur nuhun untuk Dr KH Jalaluddin Rakhmat. Sangat menyentuh pembacaan puisinya. Terima kasih bagi teman-teman yang sudah berkenan mengajak saya untuk hadir dan merasakan nuansa yang berbeda dalam perayaan Maulid Nabi Muhammad saw.

Ya Rasulullah… berikan saya beserta keluarga kesempatan untuk menghadiri kembali hari lahirmu.  Ya Rasulullah… berikan saya beserta keluarga kesempatan untuk bisa ziarah dan menyentuh makammu. Ya Rasulullah … berikan saya beserta keluarga untuk terus menerus berada dalam bahagia dan merasakan nikmat mencintaimu. Ya Rasulullah … berilah syafaat bagi mereka yang merayakan hari lahirmu sebagai wujud kecintaan kepadamu.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa aali Muhammad. Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa aali Muhammad. Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa aali Muhammad. *** (Ikhwan Mustafa)

 

Mon, 19 Jan 2015 @12:37

Copyright © 2019 Misykat · All Rights Reserved