Rubrik
Terbaru
Media Kajian

Fanpage Facebook MISYKAT

YouTube Channel Misykat TV 

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Charlie Hebdo: Ujian Kebebasan dan Keyakinan (by Fikri Disyacitta)

image

Tragedi penyerbuan bersenjata yang dilakukan oleh Kouachi bersaudara terhadap kantor majalah satir Charlie Hebdo di Paris sungguh menyentak dunia internasional. Belum selesai fitnah yang ditimbulkan ISIS di Timur Tengah, para simpatisannya yang bermukim di negara-negara Barat melakukan aksi keji yang semakin mencoreng dunia Islam. Meski kemudian Kouachi bersaudara terbunuh di tangan satuan anti-teror Prancis dalam drama penyanderaan di sebuah gudang, rupanya tidak membuat problem ikut mereda.

Publik Eropa semakin terbelah dalam menyikapi Islam, demikian pula dalam tubuh umat Islam sendiri juga terdapat perbedaan memandang kasus ini. Yang pasti, implikasi dari peristiwa berdarah ini tidak main-main bagi eksistensi kaum imigran dan muslimin di benua Eropa.

Contohnya seperti kebangkitan elemen sayap kanan neo-fasis yang bersikap Islamophobia dan xenophobia (anti-terhadap orang dan kebudayaan asing) seperti kelompok PEGIDA di Jerman beakangan ini maupun aksi vandalisme terhadap sejumlah makam pahlawan tak dikenal tempat dikebumikannya prajurit berkebangsaan Maroko yang gugur membela Prancis saat berkecamuknya Perang Dunia II. Sejumlah tanda tanya kemudian muncul, salah satunya adalah bagaimana semestinya kita sebagai muslim menyikapi kasus ini lewat pembacaan yang utuh serta menjadikannya bahan i’tibar.

Kebebasan yang Kebablasan

Sebagai permulaan mari kita mencoba melihat perspektif korban, yang dalam kasus ini adalah redaksi Charlie Hebdo. Majalah bergaya satir ini pertama kali didirikan pada 1970 sebagai ganti dari majalah Hara-Kiri yang dibredel oleh otoritas Prancis. Secara politik, majalah ini berafiliasi dengan aliran kiri dan bervisi anti-diskriminasi. Sehingga tidak heran jika objek kritik yang dijadikan karikatur umumnya merepresentasikan ideologi sayap kanan seperti kelompok fasis, nasionalis, serta kelompok berbasis agama.

Berkaitan dengan kelompok terakhir, Charlie Hebdo berulang kali menerbitkan edisi dengan karikatur kontroversial bertema tokoh-tokoh suci baik Islam, Yahudi, maupun Kristen. Kartun terakhir yang diterbitkan sebelum aksi penembakan terjadi (dan diduga menjadi penyebab mengamuknya Kouachi bersaudara yang ternyata diperintah oleh Al Qaeda cabang Semenanjung Arabia) mengilustrasikan Nabi Muhammad akan dipancung oleh anggota ISIS. Menanggapi derasnya hujatan dari umat karena gambar nyleneh tersebut, almarhum Stephane Charbonnier atau Charb selaku pimpinan redaksi menjawab enteng, “Muhammad tidak suci bagi saya. Saya hidup dalam undang-undang Prancis, bukan hukum Quran".  

Melihat fakta tersebut, dalam kasus ini Charlie Hebdo tidak sepenuhnya “bersih” sebagai korban. Saya menyebut demikian karena beberapa poin. Pertama, redaksi tidak sensitif terhadap penggunaan simbol suci dalam tradisi beragama. Pernyataan Charb yang menyiratkan dirinya tidak menghormati Nabi hanya karena dirinya tidak berhukum pada Quran jelas merupakan kesalahan berpikir. Bukankah moral universal meniscayakan kita untuk saling hormat menghormati?

Sebagai orang yang concern dengan isu sosial politik dirinya semestinya memahami konsep relativitas budaya bahwa sesuatu bisa saja dianggap tidak sakral di satu tempat, tapi di tempat lain sebaliknya. Terlebih, kantor majalah ini sudah berulang kali mendapat kritik dalam wujud ekstrim: teror pemboman. Sepatutnya dari awal mereka sadar dan berbenah bahwa ada sesuatu yang salah jika reaksi yang diterima sampai sedemikian keras. Namun, berdalih freedom of speech, mereka tetap melanjutkan kritiknya yang kebablasan hingga akhirnya harus menerima konsekuensi tragis.

Kedua, terdapat kontradiksi antara visi majalah yang menyuarakan anti-diskriminasi dengan praktiknya selama ini. Perhatikan pada gambar bertema Islam yang dihasilkan Charlie Hebdo: Nabi diperlihatkan berwajah (maaf) seperti orang idiot, berjenggot, berserban. Ini jelas visualisasi bernada stereotipe ras dan agama tertentu yang seolah hendak memberikan citra pada khalayak Barat bahwa seperti itulah gambaran khas seorang muslim, khususnya dari Timur Tengah. Gambaran seperti ini justru semakin menguatkan mindset orang Eropa dalam memandang orang muslim sebagai liyan.

Reaksi yang Mengerikan          

 Jika begitu, lantas apakah tindakan Kouachi bersaudara, atas nama pembelaan terhadap Islam dan martabat Nabi dapat serta merta dibenarkan? Jawabnya adalah tidak. Alasan pertama adalah situasi dan kondisi yang tidak tepat. Penggunaan kekerasan hingga hilangnya nyawa demi mempertahankan keyakinan terhadap penduduk sipil, terlebih bukan dalam situasi perang bagi saya adalah kesalahan. Bahkan dalam situasi perang sekalipun, andaikan redaksi Charlie Hebdo memposisikan diri tetap sebagai institusi swasta dan tidak beralih fungsi sebagai departemen propaganda untuk kepentingan militer, hukuman yang dijatuhkan atasnya pun tidak bisa dilakukan sembarangan.

Alasan kedua, saya sependapat dengan almarhum Ayatullah Husain Fadhlullah bahwa pemakaian kekerasan untuk menanggapi sesuatu seperti satir adalah logikanya orang lemah yang tidak mampu berpikir kreatif dalam melakukan balasan. Ini mirip analogi seorang anak kecil, ketika ia diledek temannya lalu tidak mampu membalas dengan ejekan juga atau tidak bisa bersikap santai seolah tak ada sesuatu, maka baku hantam menjadi solusi. Apakah umat Islam ingin dinilai seperti anak kecil pemberang begini?

Tentulah tidak. Kita masih memiliki jalur hukum seperti menuntut via petisi online agar Charlie Hebdo menarik konten sensitifnya, membalas kelakuan binalnya dengan kartun tandingan yang tidak menyinggung simbol religi tertentu, atau lewat kampanye damai seperti yang dilakukan muslim Swedia untuk membuktikan miskonsepsi bentukan Hebdo tentang sosok Nabi dan Islam. Alasan ketiga, reaksi berlebihan terbukti hanya menjadi alat promosi gratis bagi Charlie Hebdo untuk semakin dikenal publik. Disadari atau tidak, bukannya takut justru majalah satir tersebut diburu orang hingga diterjemahkan ke 16 bahasa dan kios-kios di Prancis sampai kehabisan stok karena animo pembaca melonjak drastis.

Akhirul kalam, bagi saya kemunculan Hebdo adalah ujian bagi kebebasan untuk lebih memerhatikan aspek tanggung jawab dan mengenal batas-batas etika, serta ujian bagi keyakinan sebagai seorang muslim apakah kita sudah cukup dewasa atau masih pada taraf kanak-kanak ketika berhadapan dengan wacana yang tak mengenakkan.

Fikri Disyacitta adalah Mahasiswa FISIP Universitas Airlangga, Surabaya

  

Tue, 20 Jan 2015 @11:28

Copyright © 2019 Misykat · All Rights Reserved