Rubrik
Terbaru
RSS Feed
AUDIO KAJIAN ISLAM

BERBAGI BUKU ISLAM

TULIS nama, alamat lengkap & nomor HP/WhatsApp pada KONTAK

TATA CARA SHALAT

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

BAHAN BACAAN
PENGUNJUNG

Flag Counter

Dr Muhammad Tijani Samawi: Sariyyah (Expedisi) Usamah dan Sahabat (1)

image

Dua hari menjelang wafatnya Rasulullah, beliau telah siapkan sebuah pasukan untuk memerangi Roma. Usamah bin Zaid yang saat itu berusia delapan belas tahun diangkat sebagai komandan pasukan perang. Tokoh-tokoh muhajirin dan anshar seperti Abu Bakar, Umar, Abu Ubaidah dan sahabat-sahabat besar lainnya diperintahkan untuk berada di bawah pasukan Usamah ini.

Sebagian mereka mencela pengangkatan Usamah. Mereka berkata, bagaimana Nabi bisa menunjuk seorang anak muda yang belum tumbuh janggut sebagai komandan pasukan kami. Sebelum itu mereka juga pernah mencela pengangkatan ayahnya oleh Nabi. Sedemikian rupa mereka protes Nabi sampai beliau marah sekali.

Dengan kepalanya yang terikat karena deman panas yang dideritanya, Nabi keluar dipapah oleh dua orang dalam keadaan dua kakinya yang terseret-seret menyentuh bumi. Nabi naik ke atas mimbar, memuji Allah dan bertahmid padaNya. Sabdanya: "Wahai muslimin, apa gerangan kata-kata sebagian di antara kalian yang telah sampai ke telingaku berkenaan dengan pengangkatanku Usamah sebagai pemimpin. Demi Allah, jika kamu kini mengecam pengangkatannya; sungguh hal itu sama seperti dahulu kamu telah mengecam pengangkatanku terhadap ayahnya sebagai pemimpin. Demi Allah, sesungguhnya ia amat layak memegang jabatan kepemimpinan itu. Begitu juga puteranya—setelah ia—sungguh amat layak untuk itu."

Kemudian beliau mendesak mereka untuk segera berangkat. Katanya: "Siapkan pasukan Usamah. Lepaskan pasukan Usamah. Berangkatlah Sariyyah Usamah. Beliau mengulang-ulang ucapannya seperti itu, tapi mereka tetap enggan dan bermalas-malasan di Jurf.

Sikap seperti ini mendorongku untuk bertanya, alangkah beraninya mereka terhadap Allah dan RasulNya? Kenapa harus durhaka terhadap Nabi SAWW yang begitu kasih dan sayang pada kaum mukminin? Aku tidak dapat membayangkan, begitu juga orang lain, taf siran apa yang bisa membenarkan pelanggaran dan pengabaian seperti ini?

Seperti biasa, ketika membaca peristiwa-peristiwa yang menyentuh tentang kemuliaan para sahabat, maka aku berusaha untuk tidak mempercayainya terlebih dahulu. Namun bagaimana mungkin aku dapat mendustakannya sementara ahli sejarah dan ahli hadis, Sunnah dan Syi'ah, telah meriwayatkannya secara ijma'.

Aku telah berjanji pada Tuhanku untuk bersikap adil dan jujur. Aku tidak boleh bersikap fanatisme pada mazhabku. Aku harus meletakkan kebenaran semata-mata sebagai ukuran. Dan memang kebenaran adalah pahit seperti yang dikatakan. Nabi bersabda, "Katakanlah kebenaran walau untuk dirimu sekali pun; katakanlah kebenaran walau pahit sekalipun".

Dalam hal ini adalah sikap sejumlah sahabat yang telah mengecam Nabi dalam pengangkatannya Usamah sebagai pemimpin mereka, sebenarnya telah menunjukkan sikap ketidakpatuhan mereka pada perintah Allah. Mereka telah mengabaikan nas-nas yang sangat jelas yang tidak dapat diragukan lagi atau ditakwilkan. Mereka tidak mempunyai alasan dalam hal ini.

Usaha sebagian orang untuk menjaga kemuliaan sahabat atau salaf as-sholeh dengan mengajukan berbagai alasan apologis sangatlah rapuh. Seorang yang rasional tidak dapat menerimanya, melainkan mereka yang tidak memahami makna hadis tersebut, atau yang tidak berpikir, atau mereka yang fanatisme buta yang tidak dapat membedakan antara yang wajib dipatuhi dengan yang wajib dihindari.

Aku juga sering merenung kalau-kalau bisa mendapatkan suatu jawaban yang memuaskan. Tapi sayang semua itu gagal meyakinkanku. Aku baca alasan-alasan Ahlu Sunnah yang mengatakan bahwa mereka yang menolak kepemimpinan Usamah sebenarnya adalah karena mereka tokoh-tokoh dan pemuka-pemuka Qurasiy. Mereka adalah orang yang pertama memeluk Islam sementara Usamah masih baru dan tidak pernah ikut serta dalam berbagai peperangan yang menentukan seperti Perang Badar, Perang Hunain dan Perang Uhud.

Usamah juga waktu itu masih terlalu muda. Dan kebiasaannya jiwa orang-orang tua tidak akan rela berada di bawah perintah anak muda. Itulah kenapa mereka mengecam Nabi dalam pengangkatannya ini dengan maksud agar menggantikannya dengan salah seorang tokoh sahabat lain.

Alasan seumpama ini sama sekali tidak bersandar pada dalil akal atau naql (syariat). Seorang muslim yang membaca AlQuran dan mengetahui hukum-hukumnya akan menolak alasan ini. Karena Allah berfirman: "Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah" (59:7).

Juga firmannya: "Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata" (33:36).

Setelah adanya nas-nas yang jelas ini alasan apa yang kiranya dapat diterima oleh orang-orang yang berakal. Apa yang harus kukatakan kepada kaum yang telah menyebabkan Rasulullah marah sementara mereka tahu bahwa Allah akan murka lantaran murkanya Rasul-Nya. Mereka telah menuduhnya "meracau" dan bertengkar di hadapannya, padahal—demi ayah dan ibuku—baginda tengah sakit sampai mereka diusir dari kamarnya. Tidak hanya sampai di situ. Yang sepatutnya mereka kembali ke jalan yang benar dan memohon ampun kepada Allah atas apa yang telah mereka lakukan dan memohon kepada Rasul agar memintakan ampunan bagi mereka seperti yang diajarkan oleh AlQuran, namun mereka tetap melakukan protes terhadapnya tanpa memperdulikan kasih sayang yang diberikannya pada mereka. Mereka tidak memberikan penghormatan yang sewajarnya kepada baginda Nabi.

Dua hari setelah tuduhan yang mereka lontarkan, mereka kemudian mengecam pengangkatan Usamah sebagai pemimpin pasukannya sehingga beliau terpaksa mendesak mereka keluar dengan keadaan yang menyedihkan seperti yang dikatakan oleh para ahli sejarah. Lantaran terlalu sakit, baginda tidak dapat berjalan dan terpaksa diapit oleh dua orang. Kemudian beliau bersumpah kepada Allah bahwa Usamah sebenarnya sangat layak dalam memimpin. Rasul juga mengatakan bahwa sebelum ini mereka juga pernah mengecamnya karena mengangkat Zaid bin Harisah sebagai pemimpin pasukan, agar kita tahu betapa sikap seperti ini telah mereka lakukan jauh hari sebelum itu.

Bukti-bukti ini menunjukkan bahwa mereka sebenarnya bukan di antara orang-orang yang mudah bisa menerima ketentuan Nabi dan berserah sepenuhnya kepadanya. Tetapi mereka tergolong di antara orang-orang yang rela memprotes dan mengkritik walaupun ia bertentangan dengan hukum-hukum Allah dan Rasul-Nya.

Bukti atas sikap protes mereka ini adalah sikap mereka yang enggan pergi walaupun Nabi sendiri telah memberikan bendera kepemimpinan kepada Usamah dan dengan nada marah menyuruh mereka segera pergi berangkat. Demi ayah dan ibuku, mereka tidak juga pergi sampailah beliau wafat dengan hati yang kesal atas sikap ummatnya yang dikhawatir-kan kelak akan berbalik ke belakang dan terjerumus ke neraka. Tiada yang akan selamat kecuali sedikit sekali, bagaikan segelintir binatang ternak seperti yang diumpamakan oleh Nabi.

Jika kita ingin jujur dalam melihat peristiwa ini maka kita akan dapati bahwa Khalifah Kedua adalah tokoh yang paling berperan di sini. Beliau datang menghadap Khalifah Abu Bakar setelah wafatnya Rasulullah dan memintanya agar menyingkirkan Usamah serta menggantinya dengan orang lain. Abu Bakar menjawab: "Wahai Ibnu Khattab, apakah kau suruh aku menyingkirkannya sementara Rasulullah telah mengangkatnya?"

Di mana Umar dibandingkan dengan Abu Bakar yang mengetahui kebenaran ini? Ataukah di sana ada rahasia tersendiri yang tidak diketahui oleh ahli-ahli sejarah. Atau mungkin juga ada pihak lain yang menyembunyikannya lantaran ingin menjaga "kemuliaan" sahabat, seperti yang mereka lakukan dalam mengganti kalimat "yahjur" dengan kalimat "ghalabahul waja'"'.

Aku juga heran dengan sikap para sahabat yang membangkitkan amarah Nabi pada hari Khamis itu dan menuduhnya telah meracau serta berkata, "cukup bagi kita Kitab Allah". Sementara Kitab Allah sendiri berfirman: "Katakanlah jika kalian mencintai Allah maka ikutilah aku (Muhammad) kelak Allah akan mencintai kalian" (Ali Imron:31).

Seakan-akan mereka lebih tahu akan Kitab Allah daripada orang yang menerimanya sendiri. Lihatlah hanya setelah dua hari dari tragedi yang menyayat hati itu dan dua hari sebelum hari pertemuannya dengan Allah SWT mereka telah membangitkan amarahnya lebih banyak dengan mengecam pengangkatan Usamah dan tidak mematuhi perintahnya. Jika dalam tragedi pertama baginda terbaring sakit di atas tikarnya, tetapi di kali kedua ini baginda terpaksa keluar dengan kepala yang terikat dan badan yang berbalut selimut sambil berjalan tertatih-tatih diapit oleh dua orang.

Baginda naik ke atas mimbar dan berkhutbah lengkap. Mula-mula memuji Allah dan mengucapkan Tahmid atas-Nya agar menunjukkan kepada mereka bahwa dirinya tidaklah meracau. Kemudian diberitahunya bahwa beliau sadar akan protes dan kecaman mereka. Diingatkannya mereka dengan suatu peristiwa di mana mereka telah memprotesnya juga empat tahun yang lalu. Apakah setelah itu mereka masih menganggap bahwa baginda meracau dan tidak sadar apa yang diucapkannya?

(Diambil dari buku AKHIRNYA KUTEMUKAN KEBENARAN karya Dr Muhammad Tijani Samawi; Penerbit Zahra, Jakarta)


Wed, 28 Jan 2015 @08:42

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved