Rubrik
Terbaru
Media Kajian

Fanpage Facebook MISYKAT

YouTube Channel Misykat TV 

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Dr Muhammad Tijani Samawi: Sariyyah (Expedisi) Usamah dan Sahabat (2)

image

Maha Suci Engkau ya Allah dan segala puji bagi-Mu. Bagaimana mereka begitu berani terhadap Rasul-Mu, tidak setuju dan menentang keras dengan perjanjian damai yang dilakukannya sehingga beliau sebanyak tiga kali menyuruh mereka berkorban dan mencukur rambur masing-masing tetapi tiada siapa pun yang mematuhinya.

Di waktu lain mereka tarik bajunya dan melarangnya menyembahyangkan jenazah Abdullah bin Ubai. Mereka berkata kepada beliau: "Sesungguhnya Allah telah melarangmu menyembahyangi jenazah orang-orang munafik". Seakan-akan mereka mengajarkan apa yang diturunkan Allah kepadanya. Padahal Allah berfirman dalam kitab-Nya: "Dan Kami turunkan kepadamu (Muhammad) AlQumn agar kamu menerangkan kepada ummat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka" (16: 44) Dan firman-Nya: "Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab kepadamu (Muhammad) dengan membawa kebenaran supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu" (4: 105). Dan firman-Nya lagi: "Sebagaimana (Kami selalu menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamn yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamii dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu AlKitab dan hikmah serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui" (2:151)

Aneh memang terhadap mereka yang meletakkan diri mereka lebih tinggi dari diri Rasulullah SAW. Kadang-kadang mereka tidak patuh pada perintahnya, atau menuduhnya telah meracau, atau bertengkar di hadapannya tanpa adab, dan pada tempat yang lain mengecam pemilihan Usamah sebagai pimptnan pasukan mereka sebagaimana yang mereka lakukan terhadap ayahnya Zaid bin Harisah sebelum itu.

Apa yang harus diragukan lagi oleh orang yang meneliti secara kritis bahwa Syi'ah sebenarnya mempunyai alasan yang sangat kuat ketika mempertanyakan sikap sebagian sahabat seumpama itu. Mereka memang lebih menghormati dan mencintai Nabi SAWW dan kerabat keluarganya.

Empat atau lima contoh yang kusebutkan di atas hanya sebagian kecil dari fakta-fakta yang ada. Ulama-ulama Syi'ah telah merincinya hingga ratusan di mana para sahabat telah mengabaikan nas-nas yang nyata dan jelas. Mereka tidak berhujah melainkan dengan riwayat ulama-ulama Ahlu Sunnah sendiri dalam berbagai kitab shahih yang muktabar.

Ketika kuketahui sikap sebagian sahabat terhadap Rasulullah SAW adalah seperti itu, aku kemudian merasa bingung dan heran. Sebagaimana aku juga heran melihat sikap ulama-ulama Ahlu Sunnah Wal Jamaah yang menggambarkan kepada kita bahwa para sahabat senantiasa dalam keadaan benar dan tidak boleh dikritik. Ini berarti mereka tidak mengizinkan seorang peneliti untuk sampai kepada suatu kebenaran, dan membiarkan mereka terus tenggelam dalam suasana pemikiran yang kontradiktif. Aku ingin membawa beberapa contoh sebagai tambahan, yang kiranya akan dapat memberikan gambaran yang sebenarnya tentang sahabat. Dan dari sini kita akan memahami sikap Syi'ah terhadap mereka.

Bukhari telah meriwayatkan dalam kitabnya Jil. 4 hal. 47 dalam Bab as-Sabru a'lal adza (Sabar Dari Gangguan) tentang maksud firman Allah, "Sesungguhnya orang-orang yang sabar akan diberikan ganjaran". 

 Katanya: "Al-A'masy meriwayatkan kepada kami bahwa beliau pernah mendengar Syaqiq bercerita tentang Abdullah yang berkata: "Suatu hari Nabi membagikan sesuatu kepada sahabat-sahabatnya sebagaimana yang biasa beliau lakukan. Seorang dari Anshar memprotes dan berkata: pembagian ini bukan karena Allah SWT. Kukatakan padanya bahwa aku akan lapor kepada Nabi (apa yang dikatakannya). Aku menghampiri Nabi yang ketika itu berada di antara para sahabatnya. Kuceritakan kepadanya apa yang terjadi. Tiba-tiba mukanya berubah dan marah sekali sampai aku rasa menyesal karena memberitahunya. Nabi kemudian berkata: "Nabi Musa as telah diganggu lebih dari itu, tetapi beliau bersabar."

Bukhari juga meriwayatkan dari Bab yang sama pada pasal at-Tabassum wa ad-Dhahk (Bab Tersenyum dan Tertawa). Katanya, Anas bin Malik meriwayatkan: "Suatu hari aku berjalan bersama Rasulullah yang waktu itu memakai syal Najrani yang berpinggiran tebal. Datang seorang Badwi yang tiba-tiba saja menarik dengan kuat syalnya. Anas berkata, aku lihat kulit leher Nabi lebam akibat tarikan keras yang dilakukan oleh si Badwi ini. Kemudian dia berkata: "Hai Muhammad, berikan padaku sebagian dari harta Allah yang ada padamu." Lalu Nabi melihatnya sambil tertawa dan menyuruh sahabatnya untuk memberinya.

Dalam Bab yang sama, pasal Man Lam Yuwajih an-Nas Bil Atab Bukhari meriwayatkan bahwa Aisyah pernah berkata bahwa Nabi pernah melakukan sesuatu dan mengizinkan para sahabatnya untuk melakukan yang serupa. Tiba-tiba sebagian sahabat menolak melakukannya. Berita ini sampai ke telinga Nabi lalu baginda berkhotbah dan memuji-muji Allah. Kemudian baginda berkata: "Kenapa orang-orang ini menghindari dari melakukan sesuatu yang kulakukan. Demi Allah aku lebih tahu dari mereka tentang Allah dan lebih takut kepadaNya di banding mereka."

Orang yang merenungkan contoh riwayat serupa ini akan merasakan bahwa para sahabat telah meletakkan diri mereka lebih tinggi dari kedudukan Nabi sendiri; mereka percaya bahwa Nabi bisa berbuat salah dan merekalah yang benar. Sebagian ahli sejarah terikut-ikut dalam membenarkan tindakan sahabat walaupun ia bertentangan dengan perbuatan Nabi; atau kadang-kadang menunjukkan bahwa kedudukan ilmu dan ketakwaan para sahabat lebih tinggi dibandingkan dengan Nabi, seperti yang dikatakan konon Nabi keliru dalam menyelesaikan masalah tawanan perang Badar dan Umar bin Khattablah yang benar. Mereka telah meriwayatkan berbagai hadis palsu yang konon Nabi SAWW bersabda: "Seandainya Allah turunkan suatu bencana maka tiada yang akan selamat melainkan Umar bin Khattab." Seakan-akan mereka ingin berkata "Kalau Umar tiada maka celakalah Nabi". Semoga Allah melindungi kita dari kepercayaan yang salah seperti ini.

Demi jiwaku! Mereka yang mempunyai kepercayaan seperti ini akan jauh dari Islam sejauh dua kutub barat dan timur. Dia wajib merujuk kembali akalnya atau mengusir setan dari hatinya. Allah berfirman: "Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya; dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya. Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambilpelajaran?" (45: 23)

Demi jiwaku! Mereka yang percaya bahwa Rasulullah SAWW bisa diombang-ambingkan oleh nafsunya dan lari dari jalan yang benar sehingga pernah membagi sesuatu bukan semata-mata karena Allah, tetapi karena nafsu dan kepentingannya; dan mereka yang menghindar dari berbuat sesuatu yang Rasulullah lakukan lantaran menduga bahwa mereka lebih bertakwa dan lebih arif pada Allah dibandingkan Rasul-Nya? Orang-orang seperti ini memang sangat tidak layak untuk dihormati oleh kaum muslimin apalagi menempatkan mereka seperti para malaikat, lalu menghukumkan mereka sebagai makhluk terbaik setelah Rasulullah, dan kaum muslimin harus ikut mereka dan berjalan di bawah naungan sunnah mereka hanya semata-mata karena mereka adalah sahabat Nabi.

Hal ini bertentangan dengan sikap Ahlu Sunnah Wal Jamaah yang menyertakan semua sahabat dalam salawat mereka kepada Nabi dan keluarganya. Allah Mahatahu akan kedudukan mereka. Karena itu mereka ditempatkan pada posisi yang layak bagi mereka. Mereka diperintahkan untuk bersalawat kepada Nabi dan kelurganya yang suci agar mereka tunduk dan tahu kedudukan Ahlul Bait yang sebenarnya di sisi-Nya. Lalu bagaimana tiba-tiba kita menempatkan mereka lebih tinggi dari kedudukan keluarga Nabi atau menyamakan mereka dengan orang-orang yang telah diutamakan oleh Allah atas alam semesta ini.

Aku berkesimpulan bahwa Bani Umaiyah dan Bani Abbasiah yang telah memusuhi Ahlul Bait Nabi, mengejar-ngejar dan membunuh mereka beserta para Syi'ahnya, mengetahui keutamaan keluarga Nabi dan kedudukan mereka yang tinggi. Apabila Allah tidak terima sembahyang seseorang melainkan di dalamnya ada salawat pada Nabi dan keluarga-nya, maka apa alasan permusuhan dan bersikap lari dari garis Ahlul Bait? Itulah kenapa kita lihat mereka telah mengiring-kan kalimat sahabat dengan Ahlul Bait semata-mata agar dapat memberikan gambaran kepada orang banyak bahwa antara sahabat dan Ahlul Bait sebenarnya adalah sama.

Terutama apabila kita ketahui bahwa "master mind" mereka yang sebenarnya adalah sebagian sahabat itu sendiri. Mereka telah upah sebagian sahabat lain yang lemah akal dan karakter atau golongan tabi'in agar meriwayatkan berbagai hadis palsu tentang keutamaan sahabat, khususnya mereka yang pernah menjabat kedudukan khilafah, yang merupakan sebagai sebab utama naiknya mereka (Bani Umaiyah dan Abbasiah) ke puncak kekuasaan. Sejarah adalah sebaik-baik bukti atas apa yang kukatakan ini.

(Diambil dari buku AKHIRNYA KUTEMUKAN KEBENARAN karya Dr Muhammad Tijani Samawi; Penerbit Zahra, Jakarta)

 

Wed, 28 Jan 2015 @08:49

Copyright © 2019 Misykat · All Rights Reserved