AUDIO KAJIAN ISLAM

BERBAGI BUKU ISLAM

TULIS nama, alamat lengkap & nomor HP/WhatsApp pada KONTAK

TATA CARA SHALAT

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

BAHAN BACAAN
PENGUNJUNG

Flag Counter

Dr Muhammad Tijani Samawi: Sariyyah (Expedisi) Usamah dan Sahabat (3)

image

Lihat Umar bin Khattab yang sangat terkenal dengan pengontrolannya pada semua gubernurnya, dan akan memecat mereka serta merta lantaran suatu keraguan yartg dilihatnya. Lihatlah betapa beliau sangat berlemah lembut terhadap Muawiyah bin Abi Sufyan dan tidak pernah mengontrolnya sama sekali.

Dahulu Abubakar yang mengangkat Muawiyah sebagai gubernur kota Syam. Kemudian dilanjutkan oleh Umar sepanjang hayatnya. Beliau juga tidak pernah memprotesnya, bahkan menegur atau mengecamnya sekalipun; walau banyak keluhan yang mengatakanbahwa Muawiyah memakai emas dan sutera yang telah diharamkan oleh Rasulullah SAW kepada kaum lelaki. Umar menjawab mereka dengan kata-kata: "Biarkan dia. Dia adalah Kisra (Raja) Arab."

Dan Muawiyah terus berkuasa selama dua puluh tahun tanpa ada yang menegur dan memecatnya. Ketika Utsman berkuasa diberinya lagi wilayah-wilayah lain untuk diurusnya, sehingga dia dapat menguasai tidak sedikit dari kekayaan negara Islam dan dapat memobilisasi kekuatan militer menentang kepemimpinan Imam Ali. Kemudian secara kekerasan dan dengan tangan besi, dia dapat kuasai semua kaum muslimin, lalu kemudian memaksa mereka memberikanbai'atkepada Yazid, puteranya yang fasik dan pemabok. Kisah Yazid ini adalah cerita panjang yang tak dapat kita muatkan dalam buku yang ringkas seperti ini. Apa yang penting adalah pengetahuan kita akan mentalitas para sahabat yang duduk di jabatan khilafah dan yang telah menyiapkan secara langsung berdirinya suatu kerajaan Bani Umaiyah berdasarkan keputusan Quraisy yang enggan menerima Nubuwah dan Khilafah berada di tangan Bani Hasyim.

Dinasti Bani Umaiyah mempunyai hak, bahkan kewajiban untuk berterima kasih pada mereka yang telah menyiapkan berdirinya kerajaannya itu. Paling tidak sebagai ungkapan rasa terima kasih adalah dengan mengupah sejumlah perawi yang mau meriwayatkan berbagai "hadis" tentang keutamaan para leluhur mereka dengan mengangkatnya lebih tinggi dari kedudukan Ahlul Bait, musuh utama mereka. Jika hadis-hadis keutamaan ini dikaji berdasarkan hujah-hujah syariah dan akliah, maka keabsahannya akan cepat diragukan. Melainkan jika ada kelainan dalam mentalitas kita dan tidak mampu membedakan antara perkara-perkara yang kontradiktif.

Sebagai contoh, kita banyak mendengar tentang keadilan Umar yang diceritakan oleh berbagai perawi, sehingga dikatakan:" Wahai Umar, kau telahbersikap sangat adil; karena itu kau dapat tidur".

Konon, Umar dikebumikan dalam keadaan berdiri agar keadilan tidak mati bersamanya. Dan berbagai cerita lain yang menarik tentang keadilannya. Namun sejarah yang benar mengatakan kepada kita bahwa Umar ketika membagi-bagikan harta baitul mal pada tahun 20 hijriah, beliau tidak mengikuti sunnah Nabi. Nabi SAW telah membagi sama rata antara segenap kaum muslimin dan tidak mengutamakan satu dari yang lainnya. Begitu juga Abu Bakar di dalam masa khilafahnya. Tetapi kemudian Umar menciptakan suatu cara baru, mengutamakan golongan yang sabiqin (muslimin senior) atas yang lainnya, dan golongan muhajirin Quraisy atas muhajirin selain Quraisy, golongan muhajirin atas golongan anshar, golongan Arab atas non-Arab, golongan orang merdeka atas hamba-hamba sahaya; mengutamakan suku Mudhir atas suku Rabi'ah dengan memberikan suku yang pertama tiga ratus dan suku kedua dua ratus; serta mengutamakan suku Aus atas suku Khazraj.

Di mana letaknya keadilan dalam sistem kelas seperti ini wahai orang-orang yang berpikir? Kita telah banyak mendengar tentang cerita-cerita Umar. Bahkan dikatakan bahwa beliau adalah sahabat yang paling alim.

Konon Allah banyak membenarkan pendapat Umar ketika terjadi perselisihan antara Nabi dan Umar, dengan menurunkan ayat-ayat yang mendukung pendapatnya. Namun sejarah yang benar membuktikan kepada kita bahwa Umar banyak menyalahi ayat-ayat AlQuran hatta setelah turunnya sekalipun. Ketika seorang sahabat bertanya kepadanya di zaman khilafahnya: "Ya Amir al-Mukminin, aku kini berjunub tetapi tidak kujumpai air, bagaimana hukumnya?" Umar menjawab: "Tidak perlu shalat!" Ammar bin Yasir mengingatkan sang khalifah bahwa kewajibannya adalah tayammum. Tetapi Umar tidak peduli. Katanya: "Ya Ammar, engkau hanya bertanggung jawab atas tugas-tugasmu saja."

Di mana ilmu Umar tentang ayat tayammum yang diturunkan di dalam AlQuran? Mana ilmu Umar tentang sunnah Nabi yang mengajarkan kepada mereka bagaimana bertayammum sebagaimana baginda ajarkan wudhu? Di dalam berbagai peristiwa, Umar banyak mengakui dirinya tidak alim. Bahkan—menurutnya—semua orang lebih alim darinya hatta para wanita sekalipun. Beliau juga berulang kali mengatakan demikian, "Kalaulah tiada Ali maka Umar telah celaka". Dan sampai akhir hayatnya beliau tidak tahu hukum Kalalah, yang sering dihukumkannya di zaman pemerintahannya seperti yang dicatat dalam sejarah.

Mana ilmunya wahai orang-orang yang berakal? Kita juga sering rnendengar akan kepahlawanan, keperkasaan dan keberaniannya sehingga dikatakan bahwa kaum Qurasiy merasa gentar setelah Islamnya Umar dan agama Islam sendiri menjadi kuat.

Konon Allah telah muliakan Islam karena Umar bin Khattab, dan Nabi tidak menyatakan dakwahnya secara terang-terangan melainkan setelah Islamnya Umar. Namun sejarah yang benar tidak menunjukkan kepada kita keperkasaan dan kepahlawanan itu. Bahkan sejarah juga tidak pernah menunjukkan kepada kita ada seorang yang dikenal atau orang biasa sekalipun yang dibunuh oleh Umar dalam peperangan seperti Badar, Uhud, Khandak dan lain sebagainya. Bahkan sejarah membuktikan sebaliknya, Umar pernah lari bersama sahabat-sahabat lain dalam peperangan Uhud dan Hunain. Ketika Rasulullah mengutusnya untuk membebaskan kota Khaibar, beliau kembali dalam keadaan kalah.

Bahkan di dalam berbagai peperangan sariyyah (peperangan yang tidak diikut-sertai oleh Nabi) sekalipun, Umar tidak pernah menjadi komandan pasukannya. Dalam sariyyah Usamah—sariyyah terakhir—juga beliau hanya ditunjuk sebagai anggota pasukan Usamah bin Zaid, seorang anak muda berusia belasan tahun. Mana klaim keperkasaan tersebut wahai orang-orang yang berakal?

Kita juga sering mendengar tentang ketakwaan Umar bin Khattab serta rasa takutnya yang amat sangat sehingga menangis karena takutkan Allah SWT.

Konon dikatakan bahwa beliau takut dihisab oleh Allah jika seekor keledai di Irak sekalipun tersesat lantaran tidak disediakan jalan untuknya. Tetapi sejarah yang benar mengatakan kepada kita bahwa beliau sesungguhnya seorang yang keras dan kasar. Beliau tidak berhati-hati dan tidak segan memukul orang yang bertanya kepadanya tentang suatu ayat Kitab Allah sehingga melukainya tanpa suatu dosa yang dilakukannya. Bahkan seorang wanita pernah jatuh dan tergugur kandungannya lantaran melihatnya dengan penuh ketakutan.

Kenapa beliau tidak takut kepada Allah ketika menghunuskan pedangnya dan mengancam setiap orang yang mengatakan bahwa Muhammad telah mati. Beliau bersumpah bahwa Muhammad sebenarnya tidak mati, dia hanya pergi bermunajat kepada Tuhannya seperti yang dilakukan oleh Musa bin Imran. Umar mengancam akan memukul leher setiap orang yang mengatakan bahwa Nabi telah mati. Kenapa beliau tidak takut kepada Allah ketika mengancam akan membakar rumah Fatimah jika orang-orang yang berada di dalamnya tidak mau keluar untuk membai'at (Abu Bakar). Ketika dikatakan padanya bahwa Fatimah ada di dalamnya, dia menjawab, "Sekalipun dia ada."

Beliau juga "berani" terhadap Kitab Allah dan Sunnah Rasulnya dengan melakukan berbagai hukum—di masa pemerintahannya—yang bertentangan dengan nas-nas AlQuran dan Sunnah Nabi SAW.

Nah, dimana letaknya wara' dan ketakwaan setelah me-nyaksikan serangkaian fakta yang menyedihkan ini wahai hamba-hamba Allah yang shaleh?

Aku hanya ingin menjadikan sahabat yang agung dan terkenal ini sebagai contoh. Itu pun telah kuringkaskan sedemikian rupa agar tidak panjang dan sederhana. Jika aku ingin tuliskan secara terperinci maka ia akan memuatkan berjilid-jilid buku. Seperti yang kukatakan di atas, aku hanya mengetengahkannya sebagai contoh.

Apa yang kusebutkan di atas, hanya segelintir kecil dari peristiwa yang terjadi. Tetapi ia telah memberikan kepada kita suatu pengetahuan yang jelas tentang mentalitas para sahabat dan sikap para ulama Ahlu Sunnah yang kontradiktif. Mereka melarang setiap orang untuk mengkritik dan meragukan sahabat, tetapi dalam masa yang sama mereka riwayatkan dalam berbagai buku mereka fakta-fakta yang bisa menimbulkan keragu-raguan dan kecaman. Kalaulah para ulama Ahlu Sunnah Wal Jamaah tidak menyebutkan fakta-fakta yang jelas yang menyentuh tantang sahabat dan melukai keadilan mereka, maka mereka akan berjasa dalam menghilangkan segala jenis keraguan dari benak kita.

Aku teringat akan perjumpaanku dengan salah seorang ulama dari Najaf al-Asyraf, Asad Haidar, penulis buku Al-Imam as-Shodiq Wa al-Mazahib al-Arba'ah (Imam Shodiq Dan Empat Mazhab). Waktu itu kami berbicara tentang Sunnah Syi'ah. Diceritakannya kepadaku tentang ayahnya yang berjumpa dengan seorang alim dari Tunisia pada waktu musim haji lima puluh tahun yang lalu. Mereka berdua berdiskusi panjang tentang keimamahan Amir al-Mukminin Ali bin Abi Thalib. Orang alim Tunisia ini mendengar ayahku menghitung hadis-hadis yang membuktikan tentang kepemimpinan Imam Ali as. dan haknya dalam masalah khilafah. Dihitungnya sehingga empat atau lima dalil. Ketika selesai, ditanyanya apakah ada dalil selain ini. "Tidak" jawabnya. Kemudian dia berkata: "Keluarkan tasbihmu dan mulai hitung."

Orang alim Tunisia ini menyebutkan dalil-dalil berkenaan sehingga seratus, yang hatta ayahku sendiri tidak mengetahuinya." Syaikh Asad meneruskan: "Jika Ahlu Sunnah membaca kitab-kitab mereka, maka mereka akan berpendapat seperti kami; dan perselisihan ini telah selesai sejak lama."

Demi jiwaku! Sesungguhnya ini adalah kebenaran yang tidak dapat dihindari bagi mereka yang telah membebaskan dirinya dari fanatisme buta dan bagi mereka yang setia pada dalil yang shahih.

(Diambil dari buku AKHIRNYA KUTEMUKAN KEBENARAN karya Dr Muhammad Tijani Samawi; Penerbit Zahra, Jakarta)

 

 

Wed, 28 Jan 2015 @08:59

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved