Rubrik
Terbaru
Media Kajian

Fanpage Facebook MISYKAT

YouTube Channel Misykat TV 

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Syiah dan Seruan Jihad

image

Baru kali ini terdengar kabar Kaum Muslim Syiah menyerang. Tidak ada catatan sejarah Indonesia jika Syiah menyerang.

Sejarah Indonesia membuktikan bahwa tidak ada orang Islam Syiah yang melakukan pemberontakan terhadap pemerintahan Indonesia.

Justru yang ada dalam sejarah adalah berasal dari umat Islam non Syiah seperti Pemberontakan DI/TII, Pemberontakan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI), Pemberontakan G30s/PKI, Republik Maluku Selatan (RMS), Pemberontakan Permesta, dan lainnya. 

Kemudian yang meneriakan anti Pancasila, anti UUD 1945, tidak hormat bendera, enggan menyanyikan lagu Indonesia, dan menyebut thogut pada pemerintah Indonesia adalah kalangan orang-orang yang menyebut sesat pada Musimin Syiah. 

Sekadar mengingatkan bahwa kasus Sampang, yang menyerang adalah pihak yang anti Syiah dengan mengatasnamakan Ahlusunnah. Kasus penyerangan pesantren di Bangil, Bondowoso, Makassar, dan acara Asyura (dan lainnya) justru posisi Muslim Syiah diserang. Lalu, muncul kabar Muslimin Syiah menyerang. Aneh bin ajaib.

Mengapa ramai media sosial menuduh Syiah menyerang Islam? Faktanya justru kaum Muslimin Syiah yang diserang secara membabi buta dalam khutbah jumah, bulletin, pengajian, media elektronika, dan media sosial.

Setelah ditelusuri, ternyata ungkapan tersebut datang dari Ustad Arifin Ilham, berkaitan dengan penurunan spanduk di Az-Zikra. Warga yang kesal dengan tulisan spanduk yang bisa memancing konflik agama segera diturunkan dengan telebih dahulu laporan polisi. Karena tidak ditanggapi kemudian melakukan tindakan dengan menurunkan spanduk. Namun, yang terjadi malah disebut gerombolan dan digelari Syiah.

Tampaknya ustad yang sering menyeru zikir ini tidak mendahulukan tabayun malah langsung serang dengan pernyataan yang dapat memecah persaudaraan Islam.  Tidak hanya itu, Ustad Arifin Ilham pun menyerukan untuk jihad melawan Syiah.

Pernyataan tersebut bertentangan dengan fatwa seluruh ulama dan cendekiawan Islam yang termuat dalam Risalah Amman.

Pada 2005 di Jordania telah kumpul ratusan ulama dari seluruh dunia, termasuk dari Indonesia, yang menanda tangani Risalah Amman untuk persatuan Islam di seluruh dunia.

Di dalamnya menyebutkan Syiah sebagai Islam dan sama seperti Islam lainnya, penganutnya tidak boleh ditumpahkan darahnya. Tidak boleh dikafirkan karena sama-sama menyakini Allah sebagai Tuhan, Muhammad saw sebagai Nabi, dan berpedoman pada Al-Quran serta Ka’bah adalah kiblat. 

Lalu, mengapa ustad nasional seperti Arifin Ilham berani meneriakan jihad melawan kaum Muslimin Syiah?

Seharusnya sebagai ustad sadar bahwa seruannya adalah bisa memancing konflik yang lebih luas lagi. Bahkan, dikabarkan bersama para ustad yang tergabung dalam Aliansi Nasional Anti Syiah (ANAS) mengeluarkan pernyataan yang sama dengan yang tertulis dalam spanduk yang menuai protes warga kampung Az-Zikra.

Mengapa itu tidak menjadi pelajaran? Tampaknya ada kepentingan dan agenda besar dibalik spanduk dan teriakan di media sosial untuk benci kaum Muslimin Syiah.

Konflik mazhab

Mengapa umat Islam Indonesia menjadi beringas dan berani menyatakan sesat pada sesama umat Islam?

Menurut Prof Azyumardi Azra bahwa Indonesia sebelum masa reformasi tidak ada konflik mazhab Sunni dan Syiah karena dahulu Islam Indonesia adalah Islam yang damai dan toleran. Namun, setelah reformasi muncul konflik mazhab. Tampaknya agama telah dimanfaatkan dengan kepentingan politik untuk mencari pengikut sebanyak-banyaknya. Bahkan, yang menyeru zikir pun sama beringasnya dengan yang menyeru anti Pancasila.

(Redaksi Misykat; tulisan diperbarui dari kuliah mubaligh)

 

 

 

Tue, 17 Feb 2015 @21:07

Copyright © 2019 Misykat · All Rights Reserved