Rubrik
Terbaru
Kirim Artikel & Pertanyaan

ke email: abumisykat@gmail.com

Pustaka (Buku PDF Gratis)
image

 

RSS Feed
Minat beli buku klik covernya
image

 

AUDIO KAJIAN ISLAM

Instagram MisykatNet
image

.

Follow Twitter Misykat
image

Silahkan ikuti Twitter Misykat

YouTube Misykat TV
image

Subscribe Channel Misykat TV

TATA CARA SHALAT

PENGUNJUNG

Flag Counter

Stop Anti Syiah! Lakukan Tabayun

image

Fitnah yang kerap dilemparkan kepada kaum Muslimin Syiah atau pengikut Ahlulbait adalah berkaitan dengan mencaci sahabat Nabi Muhammad saw. Ini yang terus ditudingkan. Saya tidak mengerti mengapa isu tersebut yang terus disebarkan. Padahal, sudah banyak ulama Syiah yang menolak tentang hujatan terhadap sahabat Nabi Muhammad saw. 

Selain masalah sahabat, orang yang anti Syiah seringkali menyatakan bahwa Syiah memiliki Al-Quran sendiri yang berbeda. Bahkan, Malaikat Jibril salah kirim wahyu. Kemudian isu ibadah haji yang bukan ke Makkah, tetapi ke Karbala. Yang lainnya yang diisukan adalah nikah mutah yang kalau melakukannya bisa hapus dosa. Kebohongan itu yang terus disebarkan kaum takfiri untuk menanamkan kebencian dan agar umat Islam terpecah-pecah.  

Sudah banyak ulama Indonesia yang datang ke negeri yang penduduknya bermazhab Syiah seperti Iran dan Bahrain. Mereka melihat sendiri, para ulama dan umat yang berada di masjid atau sekolah menggunakan Al-Quran yang sama dengan yang digunakan umat Islam di Indonesia yang dikenal dengan mushaf usmani, yang hingga sekarang pun sama-sama digunakan oleh kaum Muslim Syiah.  

Pernah berkunjung ulama Iran ke Makassar. Ia melantunkan ayat-ayat yang dihafalnya. Kemudian ulama Indonesia yang tergabung dalam Majelis Ulama Indonesia menyimaknya. Selesai pembacaan Al-Quran, mereka menyimpulkan bahwa selama ini umat Islam dibohongi oleh orang yang benci Syiah tentang Kitab Suci yang berbeda. Siapakah yang kerap menyebarkan kebencian kepada Muslimin Syiah? Tentu saja kaum takfiri yang mengatas namakan Islam dengan tujuan memecah belah persatuan dan persaudaraan umat Islam Indonesia. 

Sudah dijawab

Sejumlah isu yang disebarkan oleh pembenci Syiah sebenarnya sudah banyak dijawab dalam buku-buku yang ditulis ulama dan penulis Indonesia. Bukan hanya Muslim Syiah dan organisasi Syiah yang menjawabnya, bahkan ulama Sunni ikut menjelaskan posisi Syiah sebagai bagian dari Islam. Sebut saja Muhammad Quraish Shihab, Alwi Shihab, Azyumardi Azra, Agus Sunyoto, Hasyim Muzadi, Din Syamsuddin, Gus Dur, dan lainnya turut menjawab tudingan-tudingan kaum takfiri. 

Anehnya, meski sudah dijawab tetap saja masih ada yang terus menebarkan isu-isu bohong tersebut. Kayaknya sudah deprogram dan menjadi bagian dari projek. Kalau tidak dilakukan pasti tidak akan dapat uang. Demi pendapatan, rela berbohong dan menyesatkan orang lain yang berbeda mazhab dan pendapat. 

Salah satu ormas Islam di Indonesia yang mewakili pengikut Muslim Syiah sudah menerbitkan buku yang isinya menjelaskan segala hal yang berkaitan dengan Syiah. Bukannya berhenti, malah terus saja provokasi dan isu-isu lain muncul lagi. Kalau memperhatikan mereka yang benci Syiah, terasa cape dan lelah melayaninya. 

Yang paling membosankan adalah alasan tidak mengakui Syiah sebagai Islam karena membenci sahabat Nabi Muhammad saw. Saya sendiri belum menemukan bukti bahwa orang Syiah hujat sahabat Nabi, khususnya di Indonesia. Sejarah mengisahkan justru Dinasti Umayyah yang menghujat Sayidina Ali bin Abi Thalib beserta keturunannya. Kemudian dihentikan melalui pernyataan Umar bin Abdul Aziz untuk melarang umat Islam menghujat Sayidina Ali. 

Sampai sekarang belum saya temukan bukti kalau orang-orang Islam Syiah yang tergabung dalam ormas resmi (ABI dan IJABI) melakukan hujat terhadap sahabat-sahabat Nabi Muhammad saw yang saleh. Kalau kajian kritis terhadap sahabat memang kerap dilakukan dengan bukti ilmiah.

Untuk kasus pembunuh Imam Husein, cucu Nabi, bisa mungkin dilakukan kaum Syiah dalam acara Asyura. Tapi yang demikian wajar karena Yazid bin Muawiyah, yang menjadi aktor dari pembunuhan Keluarga Nabi, telah melakukan kezaliman dan perbuatan tercela. Apalagi ini membunuh cucu Nabi. Orang yang zalim memang layak dicela karena perbuatannya tidak Islami. 

Kalau membaca sejarah Islam diketahui bahwa tidak semua sahabat masuk dalam golongan saleh. Dr Fuad Jabali secara khusus menulis buku Sahabat Nabi yang menjelaskan para sahabat saling bunuh dan satu sama lain memerangi. Bahkan, istri Nabi yang bernama Aisyah pun memerangi pemimpin Islam yang sah: Ali bin Abi Thalib. Apakah yang demikian diingkari? Jika tidak benar maka layak dikaji ulang, bukan menghujat para pengkaji sejarah.

Perlu disadari bahwa tidak semua orang yang mengaku beragama Islam itu beriman dan bertakwa atau berada dalam jalan yang lurus. Bisa saja ada orang yang mengaku Islam, tetapi perbuatannya tidak Islami dan keluar dari ajaran Nabi serta tidak mengikuti Al-Quran. Tentu yang demikian layak disebut oknum.

Tidak dipungkiri dalam sejarah Islam terdapat sahabat-sahabat Nabi yang kualitas keimanannya sangat kurang sehingga berani melakukan sesuatu yang bertentangan dengan ajaran Islam. Melakukan perbuatan bid’ah, membunuh sesama umat Islam, atau menolak wasiat Rasulullah saw.  

Sejarah mengisahkan orang-orang yang berada pada zaman Nabi Muhammad saw masuk Islam dengan beragam kepentingan. Karena itu, tidak mudah untuk mengakui seluruh sahabat Nabi itu adil atau beriman. Paling dianggap generasi awal Islam; yang memerankan peran dalam sejarah Islam. Ada sahabat yang dibunuh oleh sahabat Nabi lainnya. Ada yang sahabat yang memerangi sahabat Nabi yang memegang jabatan khalifah. Bahkan, istri Nabi yang bernama Aisyah binti Abu Bakar pun memerangi Imam Ali bin Abi Thalib ra yang sedang menjadi khalifah. Inilah fakta sejarah yang harus diingat umat Islam bahwa tidak semua sahabat itu saleh! 

Sekadar informasi, berikut ini ada fatwa dari Sayid Ali Khamenei, pemimpin Islam Syiah di Iran yang menyatakan larangan menghujat sahabat Nabi:  

“Bismillahirrahmanirrahim. Assalamualaikum wa rahmatullah wa barakatuh. Diharamkan menghina simbol-simbol (yang diagungkan) saudara-saudara seagama kita, ahlusunah, berupa tuduhan terhadap istri Nabi saw dengan hal-hal yang mencederai kehormatannya, bahkan tindakan ini diharamkan terhadap istri- istri para nabi terutama penghulunya, yaitu Rasul termulia saw. Semoga Anda semua mendapatkan taufik untuk setiap kebaikan.”

Dengan adanya bukti larangan dari ulama Syiah Iran tersebut, sudah saatnya kaum Muslim Sunni tidak lagi menganggap Syiah sebagai penghujat Sahabat Nabi. Kalau pun ada orang Syiah yang masih terus begitu, berarti bukan lagi seorang yang beriman dan saya kira sudah keluar dari ajaran Islam. Tinggal para penebar isu-isu negatif yang menyadarinya dan melakukan evaluasi diri.

Meski sudah ada fatwa dari Ayatullah Khamenei, para penyebar fitnah terus saja bekerja. Mereka mendirikan lembaga yang bernama Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS) di Bandung di bawah komando Athian Ali cs. Gerakan ANNAS ini disebarkan bagai virus. Di Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Bandung Barat, Garut, Subang, Bekasi, dan lainnya menggelar seminar yang bernuansa kebencian pada sesama Muslim, khususnya Syiah.

Risalah Amman

Gerakan ANNAS ini bertentangan dengan fatwa ulama sedunia dalam Risalah Amman di Jordania. Para ulama dari berbagai dunia (termasuk dari Indonesia) menandatangani Risalah Amman berikut ini:

"Siapa saja yang mengikuti dan menganut salah satu dari empat mazhab Ahlus Sunnah (Syafi’i, Hanafi, Maliki, Hanbali), dua mazhab Syiah (Ja’fari dan Zaydi), mazhab Ibadi dan mazhab Zhahiri adalah Muslim. Tidak diperbolehkan mengkafirkan salah seorang dari pengikut atau penganut mazhab-mazhab yang disebut di atas. Darah, kehormatan dan harta benda salah seorang dari pengikut/penganut mazhab-mazhab yang disebut di atas tidak boleh dihalalkan.

Lebih lanjut, tidak diperbolehkan mengkafirkan siapa saja yang mengikuti akidah Asy’ari atau siapa saja yang mengamalkan tasawuf (sufisme). Demikian pula, tidak diperbolehkan mengkafirkan siapa saja yang mengikuti pemikiran Salafi yang sejati. Sejalan dengan itu, tidak diperbolehkan mengkafirkan kelompok Muslim manapun yang percaya pada Allah, mengagungkan dan mensucikan-Nya, meyakini Rasulullah (saw) dan rukun-rukun iman, mengakui lima rukun Islam, serta tidak mengingkari ajaran-ajaran yang sudah pasti dan disepakati dalam agama Islam.

Ada jauh lebih banyak kesamaan dalam mazhab-mazhab Islam dibandingkan dengan perbedaan-perbedaan di antara mereka. Para pengikut/penganut kedelapan mazhab Islam yang telah disebutkan di atas semuanya sepakat dalam prinsip-prinsip utama Islam (Ushuluddin).

Semua mazhab yang disebut di atas percaya pada satu Allah yang Mahaesa dan Makakuasa; percaya pada al-Qur’an sebagai wahyu Allah; dan bahwa Baginda Muhammad saw adalah Nabi dan Rasul untuk seluruh manusia. Semua sepakat pada lima rukun Islam: dua kalimat syahadat (syahadatayn);kewajiban shalat; zakat; puasa di bulan Ramadhan, dan Haji ke Baitullah di Mekkah.

Semua percaya pada dasar-dasar akidah Islam: kepercayaan pada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitabNya, para rasul-Nya, hari akhir, dan takdir baik dan buruk dari sisi Allah. Perbedaan di antara ulama kedelapan mazhab Islam tersebut hanya menyangkut masalah-masalah cabang agama (furu’) dan tidak menyangkut prinsip-prinsip dasar (ushul) Islam. Perbedaan pada masalah-masalah cabang agama tersebut adalah rahmat Ilahi. Sejak dahulu dikatakan bahwa keragaman pendapat di antara ‘ulama adalah hal yang baik.

Mengakui kedelapan mazhab dalam Islam tersebut berarti bahwa mengikuti suatu metodologi dasar dalam mengeluarkan fatwa: tidak ada orang yang berhak mengeluarkan fatwa tanpa keahlihan pribadi khusus yang telah ditentukan oleh masing-masing mazhab bagi para pengikutnya. Tidak ada orang yang boleh mengeluarkan fatwa tanpa mengikuti metodologi yang telah ditentukan oleh mazhab-mazhab Islam tersebut di atas. Tidak ada orang yang boleh mengklaim untuk melakukanijtihad mutlak dan menciptakan mazhab baru atau mengeluarkan fatwa-fatwa yang tidak bisa diterima hingga membawa umat Islam keluar dari prinsip-prinsip dan kepastian-kepastian Syariah sebagaimana yang telah ditetapkan oleh masing-masing mazhab yang telah disebut di atas."

 

[Ikhwan Mustafa, kontributor Misykat]


Thu, 19 Feb 2015 @22:51

Copyright © 2021 Misykat · All Rights Reserved