Rubrik
Terbaru
BERBAGI BUKU

TULIS nama, alamat & HP/WhatsApp pada KONTAK

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

Twitter Kata Hikmah 

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Hadza Masjid Bahlul [by Miftah F.Rakhmat]

image

Di antara ‘keuntungan’ jadi Ustad dibanding pelawak adalah materi yang bisa diulang itu. Meski membosankan, asalkan jemaah itu komunitas yang baru, kita bisa selalu melakukannya. Saya punya beberapa tradisi kalau saya diminta datang di tempat yang baru: bercerita tentang Bahlul, atau mengajukan kuis dan bagi-bagi buku.

Ini kisah Bahlul yang biasa saya sampaikan di awal pertemuan. Kisah ini dalam berbagai versinya dinisbatkan pada Abu Nawas atau juga Mulla Nasruddin Khoja. Mana yang benar, saya kurang paham. Tapi siapa pun itu, Abu Nawas-kah, Bahlul atau Mulla Khoja, semua adalah guru-guru kehidupan yang mengajarkan kita pada kearifan dengan cara yang “we didn’t see it coming...” seperti kisah berikut ini.

Bahlul adalah seorang murid Imam Ja’far Shadiq. Imam keenam dari silsilah keemasan keluarga Nabi. Imam yang juga guru dari imam-imam mazhab setelahnya: Imam Hanafi, Imam Malik, Imam Syafi’i dan Imam Hambali. Umat Islam di Indonesia kebanyakan ikut fiqih Imam Syafi’i. Nah, Imam Ja’far Shadiq ini adalah gurunya guru Imam Syafi’i. 

Tidak ada yang tahu nama asli Bahlul. Sejarah lebih mengenalnya dengan sebutan itu: bahlul. Artinya, orang bodoh. Konon, ia meminta izin pada gurunya untuk berdakwah di tengah-tengah masyarakat seperti layaknya orang bodoh. Terkadang ia dilempari anak-anak, dan dijuluki orang gila. Ketika gurunya bertanya: “Mengapa kamu ingin disebut orang bodoh, orang gila? Mengapa kamu ingin berdakwah dengan cara seperti itu?”

Bahlul menjawab: “Karena hanya orang gila yang pembicaraannya didengar orang tanpa melihat dari kelompok mana dia berasal. Karena hanya orang gila yang mengecam penguasa tanpa takut akan dijebloskan ke penjara.”

Bahlul memang hidup di saat kekhalifahan dipegang oleh para penumpuk kekayaan. Mereka yang lalim dan mengambil hak tanpa perhitungan. Ia ingin menasihati penguasa. Di saat mulut kritis dibungkam, di saat para pengingat dipenjarakan, bertingkah seperti orang gila, ternyata banyak untungnya juga. Seperti pernah satu saat, seorang kaya mewakafkan sebuah masjid.

Masjid itu diberi nama dengan namanya. Agak mirip dengan masjid-masjid di Indonesia. Masjid Bank Indonesia diberi nama “Baitul Ihsan”. Kalau disingkat, jadi BI. Di PT Dirgantara Indonesia, nama masjidnya “Habibur Rahman”. Mengapa? Apakah karena yang membangunnya Pak Habibie? (Di Taman Mini ada masjid dengan nama surat Al-Qur’an: At-Tin. Apakah karena ada kedekatan dengan Ibu Tien Soeharto? Saya tidak tahu. Yang jelas, di perumahahan warga saya ada masjid Al-Radhiah yang disematkan atas nama Ibu yang mewakafkannya: Ibu Radhiah. Semoga Allah merahmati semua pewakaf itu.

Tidak ada  yang salah dengan itu. Tapi Bahlul menunjukkan kepada kita sesuatu yang lainnya. Pada cerita orang kaya yang wakaf itu, direncanakan keesokan harinya ada peresmian. Maka nama masjid yang sudah dipahatkan dengan nama pewakaf itu, ditutup tirai untuk dibuka keesokan harinya. Malamnya, Bahlul menyelinap. Ia bawa cat basah. Ia coret nama orang kaya itu. Dan ia tuliskan dengan namanya. Kini di atas pintu masjid itu tertulis: hadza masjid bahlul. Inilah masjidnya Bahlul. Kemudian ia tutupi kembali dengan rapi.

Esok paginya, jamaah dan masyarakat sudah berkumpul. Mereka tak sabar menanti kapan tirai dibuka. Setelah berbagai protokoler dan basa-basi, sampai juga saat yang dinanti. Tirai perlahan-lahan disingkapkan. Mari kita baca bersama: Bismillah dengan ini diresmikan masjid...B..a..h...lul!!???  Serentak sesepuh masjid berteriak: “Mana Bahlul...!? Panggil dan bawa dia kesini!” Pasukan pemuda dengan cepat bergerak. Bahlul diseret. Terdakwa, tertuduh, dan terpidana. 

“Benar kamu yang mencoret nama masjid ini...” tanya sang sesepuh.
“Benar...” Jawab Bahlul.
“Mengapa kaulakukan itu?” tanya sang sesepuh lagi.
“Izinkan aku bertanya padamu dan pada kalian semuanya...” Bahlul balik hendak bertanya. “Untuk siapakah kalian bangun masjid ini? Untuk Tuhan atau untuk orang kaya?”
Semua serentak menjawab: “Untuk Tuhan...”
Kata Bahlul: “Kalau begitu, biar Tuhan yang protes kepadaku. Dia sendiri tidak marah ketika nama masjid ini tadi malam aku ganti. Kenapa kalian marah kepadaku sekarang ini?” dan jamaah pun kebingungan.

Bahlul sebenarnya hendak mengajarkan arti keikhlasan. Boleh-boleh saja nama kita disematkan sebagai nama masjid yang kita wakafkan, tapi keikhlasan dan ketulusan, hanya Allah Ta’ala yang tahu. Di antara cara untuk tulus dalam berderma adalah ketika tidak menyebutkan nama kita sama sekali...

Demikianlah Bahlul, guru kehidupan. Orang yang sezaman dengannya tahu bahwa ia sebenarnya alim cendekia. Hanya saja ia mengajarkan ilmu dengan cara yang berbeda. Satu hari, masyarakat hendak memintanya memberikan ceramah. Sudah masyhur bahwa Bahlul enggan berkhotbah di mimbar-mimbar. Mereka berkumpul, mengirimkan utusan, memohon agar Bahlul berkenan membagi ilmunya, tidak dengan cara yang biasa dilakukan Bahlul, tapi dengan berdiri di  mimbar kehormatan.

Di luar perkiraan, Bahlul mengiyakan. Diumumkanlah kepada khalayak banyak bahwa Bahlul hendak memberikan pencerahan. Semua berduyun-duyun memadati setiap jengkal masjid. Bahlul tiba. Ia naik ke mimbar. Di Timur Tengah, mimbar itu bukanlah seperti podium yang digunakan para ustad di Indonesia. Di sana, mimbar itu mirip anak-anak tangga. Rasulullah kabarnya sering duduk dan berdiri pada anak tangga yang ketiga. Dengan cara ini, hadirin yang datang terlambat, mereka yang duduk di barisan paling belakang, dapat melihat dengan jelas sosok pembawa peringatan. 

Bahlul perlahan-lahan menaiki anak tangga itu, satu demi satu. Ia berhenti di anak tangga yang ketiga. Ia memandang hadirin. Usai basmalah dan salam, ia membaca iftitahiyyah: biasanya pujian pada Allah Swt dan shalawat atas baginda Rasul dan keluarganya. Kemudian Bahlul berkata: “Amma ba’du, hadirin yang dimuliakan Allah, sudah tahukah Ibu dan Bapak, jamaah sekalian, apa yang hendak saya bicarakan?” Dengan serentak, jamaah menjawab: “Belum...” 

“Kalau begitu...” kata Bahlul, “untuk apa saya bicara di hadapan orang yang tidak punya persiapan sama sekali. Permisi, saya mau turun. Assalamu’alaikum...” Dan ia pun turun meninggalkan mimbar. Orang-orang berteriak, “Namanya juga Bahlul...harap maklum...” mereka meninggalkan masjid dengan penuh kecewa.

Pengurus masjid rupanya tak patah arang. Mereka bertekad untuk dapat memaksa Bahlul bicara. Mereka datangi lagi Bahlul, mengundangnya untuk kembali bicara. Bahlul mengiyakan. Maka pengumumanpun diedarkan. Pada jam dan waktu yang sudah ditentukan, masjid jauh lebih padat dari sebelumnya. Mereka penasaran dengan ulah Bahlul yang tak terduga berikutnya.

Semua mata tertuju pada Bahlul, bahkan mengikuti langkah demi langkah pendek yang diambilnya. Ia kini di mimbar, memandang pada lautan khalayak di bawahnya. Basmalah dan shalawat, ia baca iftitahiyyah. Ia diam sejenak, menghela nafas dan mengeluarkannya. “Amma ba’du” ujarnya memecah keheningan. “Apa Ibu dan Bapak sudah tahu apa yang akan saya bicarakan hari ini?” Persis seperti peristiwa sebelumnya! Kali ini, jamaah belajar dari kesalahan sebelumnya. Mereka kompak berkata: “Sudah!!!” Kemudian Bahlul dengan tenang berkata: “Kalau begitu, untuk apa saya bicara, di hadapan orang yang sudah tahu. Saya permisi turun. Assalamu’alaikum...” seraya ngeloyor meninggalkan “arena sidang.” Jamaah riuh rendah, mereka merasa ditipu untuk kali yang kedua. Umpatan, makian, gerutuan terdengar silih berganti. Bahlul sudah mengakali mereka lagi.

Ajaibnya, para pengurus masjid merasa makin tertantang. Kita sudah gagal dua kali, pikir mereka. Kita tidak boleh gagal kali yang ketiga. Maka kali ini, tekad mereka untuk menghadirkan Bahlul makin bulat, jauh lebih membara dari sebelumnya. Tapi kini, mereka kumpul lebih dahulu. Rapat antara pengurus masjid dan jamaah. Seorang di antara mereka berkata: “Untuk apa kita hadirkan Bahlul lagi? Dia memang tidak berniat untuk bicara?” Yang lain berusaha menenangkan dan berkata: “Mungkin itu cara bagi dia untuk menyampaikan apa yang ingin dia sampaikan. Mari kita buktikan dengan mengundangnya lagi untuk kali yang ketiga.”

“Tapi bagaimana nanti bila ia bertanya hal yang sama?”
“Kita jawab belum, salah. Ia turun. Kita jawab sudah juga salah. Ia turun juga.”
“Bagaimana kalau kita bagi tugas. Sebagian di antara kita menjawab ‘sudah’ sebagian lagi menjawab ‘belum’. Bagaimana? Setuju?”
“Nah, itu dia! Bahlul pasti takluk. Ayo kita lakukan!”

Penuh semangat, mereka mendatangi Bahlul, kembali memintanya untuk hadir di masjid. Pengumuman diedarkan. Kisah dua pertemuan sebelumnya telah membuat seisi kota jadi heboh. Hadirin memadati bahkan setiap ruang yang ada. Penuh sesak, berduyun-duyun. Telah sampai kabar bahwa Bahlul menyanggupi ia akan hadir. Maka pada jam dan waktu yang ditentukan, semua seperti menahan nafasnya. ‘Tugas’ dari panitia telah sampai pada mereka. Mereka harus berbagi tugas seandainya Bahlul bertanya hal yang sama.

Di mimbar, bakda basmalah dan salam, Bahlul tersenyum melihat wajah-wajah penuh penasaran itu. Setelah iftitahiyyah, mengalirlah kalimat yang ditunggu-tunggu semua orang: “Apakah Ibu dan Bapak, sudah tahu apa yang akan saya bicarakan...”

Riuh rendahlah orang bersahutan: “Sudah!” “Belum” “Sudah...” “Belum....” “Sudah” “Belum!” Mereka ucapkan berkali-kali, silih berganti.

Setelah kegaduhan itu berhenti, semua mata tertuju pada Bahlul, semua telinga terpusat padanya. Dengan tenang Bahlul berkata: “Kalau begitu, harap yang sudah tahu memberi tahu yang belum tahu. Saya permisi turun. Assalamu’alaikum...”

Dan kaumnya Bahlul tidak pernah berhasil memintanya untuk bicara. Namanya juga Bahlul! :-)

Ps. Dalam versi lain, kisah di atas dinisbatkan pada Khoja Nasruddin, Nasruddin Thusi, dan-konon- Abu Nawas. Wallahu a'lam.

 Miftah F. Rakhmat

 

Thu, 10 Jan 2019 @11:23

Copyright © 2019 Misykat · All Rights Reserved