Rubrik
Terbaru
PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed
AUDIO MISYKAT

TATA CARA WUDHU

TATA CARA SHALAT

TATA CARA TAYAMUM

MEDSOS ISLAM

WhatsApp: 0812-2391-4000

Fanpage: Komunitas Misykat

Twitter: Sekolah Islam Ilmiah

BERBAGI BUKU ISLAM

MISYKAT akan memberikan buku-buku ISLAM secara gratis. Silakan tulis nama, alamat lengkap, dan WhatsApp (aktif) pada KONTAK

BAHAN BACAAN

Sudah Lama Ibu Pertiwi Berduka [by Miftah F.Rakhmat]

image

Bismillahirrahmanirrahim 

Allahumma shalli 'ala Sayyidina Muhammad wa Ali Sayyidina Muhammad
Wa sallim 'ala jami'i anbiyaa'illahi wa rusulihi wa jami'i 'ibaadillahis shaalihin

Ada banyak hal terjadi di sekitar (kehidupan) saya beberapa waktu terakhir. Semoga dengan menuangkannya dalam tulisan mampu membantu mengurai jalinan itu dan mengantarkan pada kejernihan berpikir, bersikap, bertutur kata dan berbuat.

Ayah mertua saya berpulang ke rahmatullah. Saya ikut memandikan, mengkafani, menshalatkan dan menguburkan. Sehari setelahnya, sesepuh kami di lingkungan warga juga menyusul ayah mertua. Lalu saya dihujani oleh tiga kabar kepulangan setelahnya. Setiap hari satu berita duka.

Apa yang saya petik dari peristiwa itu? Skala prioritas. Saya belajar untuk menentukan mana yang lebih harus kita utamakan dalam singkatnya waktu yang Allah Ta'ala berikan pada kita. To do the best within the given time.

Ayah mertua saya, 78 tahun usianya ketika mangkat. Sesepuh di warga kami, Pak Haji Tartam namanya, 87 usianya. Saya ragu apakah saya akan sampai pada usia keduanya. Kedua orangtua saya itu sudah berbuat banyak untuk keluarganya, untuk masyarakat di sekitarnya, dan untuk bangsanya. Lalu saya, apa yang sudah saya lakukan?

Almarhum ayah mertua aktif membantu petani, buruh, dan pekerja. Ia satu di antara tokoh penggerak reformasi di daerahnya. Pak Haji Tartam, ia seorang militer purnawirawan yang bergerak di bidang kesehatan dan lingkungan hidup. Usia sepuhnya ia habiskan berkhidmat pada warga. Bila ada riwayat dari Imam Ja'far Shadiq as bahwa pengikut keluarga Nabi Saw yang sejati adalah ia yang hidup di tengah seribu orang dan jadi yang paling berkhidmat pada orang-orang itu, maka ayah mertua dan Pak Haji Tartam adalah contoh di antaranya.

Mereka berdua sangat memelihara dan menghormati kerukunan umat beragama. Di warga kami, Pak Haji datang melayat pada saudara berbagai umat. Ayah mertua sangat demokratis, silakan anak-anaknya belajar mana yang argumentasinya paling kuat.

Pernah di masjid kami, datang orang yang menghembuskan pertikaian, Pak Haji dengan segera mengusirnya. Tegas memintanya tak lagi berkhotbah seperti itu. Masjid kami rujun bersaudara. Bila tarawih tiba, kami tak pernah mempermasalahkan shalat seperti apa. Mau sebelas atau duapuluh tiga, silakan saja. Mau witir satu salam atau dua. Mau empat rakaat baru salam atau dua. Tak ada kendala. Pak Haji Tartam pernah berkata, ''Mungkin kita tidak punya banyak program, tapi kerukunan dan persatuan umat Islam di warga ini itu keberhasilan tersendiri.'' Saya mengamininya.

Kerinduan pada sosok Pak Haji mengemuka ketika belakangan saya mendengar beragam berita menjurus pada perpecahan. Penghakiman yang tergesa-gesa dan tendensius. Khotbah-khotbah dan seminar yang provokatif. Bahkan spanduk-spanduk penolakan, distribusi buku-buku hujatan…miris melihatnya. Prihatin mendengarnya.

Seorang wakil sekjen ormas di Indonesia bahkan begitu mudahnya mengumbar fitnah, mengatakan di lembaga kami ada murid bergontaganti pasangan, permisif dengan lawan jenis dan sebagainya. Masya Allah…mulutmu harimaumu, tuanku. Benar memang kata Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib kw, ''Lisan itu timbangan insan.'' Kehormatan seorang manusia dilihat dari kata-kata yang diucapkannya.

Apa yang saya rindukan dari kedua ayahanda saya itu dan melihat apa yang terjadi sekarang? Kearifan. Saya melihat kearifan dan para sesepuh itu, dan oh alangkah indahnya ia. Alangkah berharganya.

Saya melihat bagaimana mereka mengelola perbedaan, menghargai kemajemukan, dan memberikan ruang pada pendapat berlainan tanpa harus meninggalkan kesantunan. Kearifan memang barang teramat berharganya. Dan ia akan tercermin dari kata-kata.

Pernah di kampung ayah mertua, ada perkara keamanan. Beberapa barang hilang. Mereka mencurigai seseorang, tapi tak punya cukup bukti dan tak bisa main tuduh sembarangan. Apa yang dilakukan ayah mertua? Ia mengangkat 'terduga' itu menjadi kepala keamanan. Hasilnya? Kampung terkendali dan aman. Oh, rupanya hanya masalah pengangguran, perkara pendapatan. Adakah ragam tindak kekerasan, upaya menghasut dan mengadu domba juga karena perihal lapangan pekerjaan? Di sinilah diperlukan kearifan.

Pak Haji Tartam lain lagi ceritanya. Ia memilih untuk menanami lahan-lahan kosong di sekitar rumahnya. Rumah saya, dulunya taman yang digarapnya. Ketika saya membangun rumah, ia berkata ''Saya nangis kalau pohon sukun itu ditebang...'' maka jadilah ia satu-satunya pohon yang tetap saya pertahankan.

Desain rumah pun mengikuti letak pohon itu. Ia kini jadi kenang-kenangan yang ditinggalkan almarhum. Apa pelajaran yang saya raih? Sebelum sibuk di luaran, lihatlah begitu banyak kesibukan yang bisa kita lakukan di sekitar kita. Jadilah bermanfaat bagi sebanyak mungkin orang di kiri dan kanan kita, orang-orang terdekat kita.

Maka saya prihatin, sedih, pada saat yang sama berusaha berempati. Di sosial media, begitu mudah saling menghujat, begitu gampang mengucap sesat. Atau menyebar dusta atas nama agama. Terkadang mengancam, membuang sumpah serapah…dan siapakah yang tertawa di atas pertengkaran? Siapakah yang mengendarai pertikaian? Saudaraku, malakal maut sudah mengepakkan sayapnya di atas kita. Apa yang akan kita hadirkan? Apa yang akan jadi bekal kita? Kepulangan kedua orangtua saya membuat saya menyusun ulang prioritas kehidupan.

Apa itu? Kasih sayang, terhadap sesama. Waktu yang kita miliki terlalu berharga bila diisi dengan kebencian. Pak Haji Tartam dalam usianya yang sepuh, 72 tahun, mengantar saya menikah, menyeberang pulau ke Sumatra, menempuh perjalanan ratusan kilometer.

Ia juga yang ketika ayah saya berulangtahun, meraih telepon genggam saya dan bernyanyi ''Selamat ulang tahun'' di telepon. Sungguh, air mata saya menetes karenanya. Ayah mertua juga yang begitu rajin mengunjungi cucu-cucunya di Bandung, padahal sudah sepuh usianya. Sedang saya yang masih muda, amat jarang membalas kunjungannya. Kasih sayang, teladan dan kearifan, itulah yang sekarang ini dibutuhkan. Itu juga yang jadi semestinya diprioritaskan.

Sudahi bermusuhan. Tutup rapat-rapat telinga untuk berita hasutan. Konon, kata Emha Ainun Nadjib, ''Hanya Allah Ta'ala yang tahu akidahmu. Yang masyarakat butuhkan hanya akhlakmu.''

Berdebat berperang kata di sosial media tak banyak mendatangkan makna. Lihat saja kata yang diumbar. Mari penuhi dunia dengan tutur kata mulia, dengan ungkap kasih pada sesama, dan pada para teladan suci yang dirindukan. Bila karenanya kita berduka, bila karenanya kita dicerca, ingat kematian kapan saja menjemput kita. Waktu hisab dan perhitungan akan datang juga.

Seperti sebuah pesan singkat yang masuk ke hape saya, bercerita tentang pengalaman berziarah.

Alkisah, seorang suami di Teheran Iran bergerilya ke sana ke mari, mencari dokter dan obat yang tepat buat istri. Istrinya menderita sejenis penyakit yang belum diketahui penyembuhannya. Ia lumpuh, terbaring tak berdaya.

Di tengah kegelisahannya, seorang kawan menyarankan, ''Berangkatlah berziarah. Temui Imam Ridha as di Mashhad sana. Mohonkan pada Allah Ta'ala dengan wasilahnya. Semoga kesembuhan diberikan kepadanya.''

Maka ia pun berangkat berziarah. Airmata tumpah begitu melihat kubah keemasan itu. Di pagar depan ia berdoa, di dinding besi ia meminta. ''Imam,'' gumamnya, ''sampaikan pada Tuhan…berikan istriku kesembuhan. Bukankah keluarga Nabi Saw tak pernah menolak permohonan siapa saja yang datang kepadanya…?'' Ia pun tersungkur dalam tangisan.

Selesai ziarah, ia pergi ke ruang telepon antarkota. Ia hubungi istrinya. Hasilnya: tak ada perubahan. Ia kembali bergegas berziarah, berharap kunjungan yang kedua menghasilkan ijabah.

Usai ziarah, ia hubungi lagi istrinya. Rupanya, tak ada juga tanda-tanda. Pemenuhan doa tak bisa instan sepertinya. Maka ia tinggal selama tiga hari di samping pusara Imam dari keluarga Nabi itu, dan setiap usai ziarah, ia selalu hubungi istrinya. Tak ada perubahan. Semua seperti sebelumnya.

Hingga tibalah saat, ia harus sampaikan salam perpisahan. Dengan airmata yang berderai ia berkata, ''Imam, kalau kau tidak mohonkan Tuhan agar berikan istriku kesembuhan, aku akan berangkat ke Baqi'. Aku akan berziarah ke Madinah. Dan akan aku adukan engkau pada Sayyidah Faathimah salaamullah 'alaiha. Bahwa engkau menolak permintaanku…'' dan ia pamit pulang. Kali ini, langsung ke bandara, tanpa sempat menghubungi istrinya di rumahnya.

Sesampainya di Teheran, matanya yang masih sembab tak juga dapat menghapus tangisannya. Tibalah ia di rumah. Ia bayangkan istrinya terbaring tak berdaya. Begitu ia pencet bel rumahnya, ia terkejut. Istrinya terlihat sehat menyambutnya. Berdiri di atas kedua kakinya.

Ia tak dapat mempercayainya. Matanya takjub mengemuka…mengapa dan mengapa, sejuta tanya muncul di kepalanya.

Istrinya mendudukkannya di teras rumah. Kepadanya ia berkata, ''Aku tertidur ketika melihat seorang lelaki bercahaya, berwajah teramat mempesona datang kepadaku dan berkata, 'Engkau akan disembuhkan. Berdirilah setelah ini. Tolong sampaikan pada suamimu, agar ia tak berangkat ke Baqi', tunda dulu ziarahnya ke pusara ibuku dalam keadaan ia hendak mengadukan apa yang dikatakannya kepadaku. Jangan sampaikan kesedihan itu pada ibuku. Ibuku sudah terlalu berat berduka. Ia sudah terlalu banyak terluka.''

Dalam tangisan, sepasang suami istri itu berbagi kasih. Kerinduan akan para teladan suci memberi kekuatan di tengah segala duka, mengembangkan sayap kasih di atas semua murka. Kearifan, keteladanan dan kasih semoga senantiasa menyertai.

(Miftah F.Rakhmat, Anggota Dewan Syura IJABI )

 

Tue, 24 Feb 2015 @20:10

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved