AUDIO KAJIAN ISLAM

BERBAGI BUKU ISLAM

TULIS nama, alamat lengkap & nomor HP/WhatsApp pada KONTAK

TATA CARA SHALAT

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

BAHAN BACAAN
PENGUNJUNG

Flag Counter

Budhy Munawar Rachman: Pencerahan (Kesadaran) Membawa Pada Pembebasan (Rohani)

image

Berbicara mengenai filsafat perennial sebagai "pencerahan atau “kesadaran” dalam tesis ke-6 ini, menarik melihat Q. 72:16 “wa an law istaqâmû 'alâ tarîqati la’asqaynâhum mâ’an ghadaqân” (Kalau saja mereka mengikuti “tarekat,” maka pasti Kami siramkan pada mereka “air yang melimpah”).

Dua kata penting perlu dibahas di sini, “tarekat” dan “air yang melimpah.” perlu dikemukakan firman Allah yang dijadikan dalil oleh kaum tarekat: Perkataan tarekat di sini menunjuk pada arti agama secara keseluruhan, bukan hanya suatu wujud atau institusi keagamaan seperti yang kita kenal sebagai tarekat. Secara harfiah tarekat berarti jalan, sama dengan syari’ah, yaitu jalan setapak menuju oase yang dalam bahasa Arabnya jannah–biasa diterjemahkan sebagai surga. Bagi orang di daerah padang pasir, oase asalah lambang kehidupan yang paling ideal karena suatu kehijauan di tengah kegersangan yang luar biasa.

Jalan setapak menuju oase itu disebut juga syariah, dan kemudian dipakai sebagai metaphor. Agama adalah jalan menuju kebahagiaan, menuju surga (istilah dalam tradisi lain bisa “kesadaran”, “kebebasan”). Ada banyak kosakata yang dapat diartikan dengan jalan, seperti sabîl, manhaj atau minhaj, suluk atau maslak, nusuk atau mansak.

Agama memang selalu digambarkan sebagai jalan–sama dengan Marg atau Dharma dalam bahasa Sansekerta yang juga berarti jalan, atau Tao dalam bahasa Cina. Dalam perkembangannya, karena ada tekanan-tekanan di dalam apresiasi keagamaan dan sesuai dengan perkembangan sejarah, istilah-istilah tersebut mengalami sedikit pergeseran makna. Seperti syarî‘ah yang lebih menunjuk kepada jalan yang bersifat lahiri, hukum, dan tariqah menjadi lebih bersifat batini.

Dalam ayat al-Qur’an banyak menggunakan air sebagai simbol kehidupan. Mâ’an ghadaqân (air yang melimpah) dalam firman di atas berarti kehidupan bahagia, lahir dan batin. Dalam sistem agama lain pun air dijadikan sebagai sombol kehidupan, seperti digambarkan dalam cerita tentang Nabi Musa yang mau bertemu dengan Nabi Khidhir (lihat dalam “comment”).

Memahami arti yang dimaksud adalah dalam cerita ini, untuk mendapatkan makna pencerahan dan pembebasan perlu hermeneutika yang “menembus batas,” atau ‘ibrah, i’tibâr. Maksudnya, seseorang ketika hendak mengerti makna mendalam sebuah teks mestinya tidak berhenti pada aspek lahir tetapi mencoba memahami apa yang ada di baliknya. Ini penting, mengingat agama sebenarnya merupakan sistem simbol; orang baru akan mengerti agama dengan benar jika sanggup menyeberangi simbol-simbol itu.

Fa i’tabirû yâ ûlî al-absâr (Karena itu menyeberanglah wahai orang-orang yang mempunyai pikiran mendalam (Q. 59: 2). Wamâ ya'qiluhâ illa al-'âlimûn Tidak ada yang bisa memahami secara rasionil kecuali mereka yang berpengetahuan (Q. 29:43).

(Budhy Munawar Rachman, dosen filsafat Universitas Paramadina Jakarta)


 

Wed, 26 Oct 2016 @12:45

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved