BERBAGI BUKU

TULIS nama, alamat & HP/WhatsApp pada KONTAK

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

Twitter Kata Hikmah 

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Fatimah Az Zahra...

image

Ketaatan Fatimah Az Zahra kepada suaminya Imam Ali As menyebabkan Allah subhanahu wa ta'ala mengangkat darajatnya. Fatimah Az Zahra tidak pernah mengeluh dengan kekurangan dan kemiskinan keluarga mereka. Tidak juga dia meminta-minta hingga menyusah-nyusah­kan suaminya. Meski begitu, kemiskinan tidak menghalangi Fatimah Az Zahra untuk selalu bersedekah. Dia tidak sanggup untuk kenyang sendiri apabila ada orang lain yang kelaparan.

Dia tidak rela hidup senang dikala orang lain menderita. Bahkan dia tidak pernah membiarkan pengemis melangkah dari pintu rumahnya tanpa memberikan sesuatu meskipun dirinya sendiri sering kelaparan. Tulang rusuk dan tangan Fathimah yang patah sangat membuat putri Nabi ini sangat menderita. Bahkan cedera yang sedemikian serius itu juga mengakibatkan bayi dalam kandungannya meninggal.

Cedera fisik serta benturan mental yang dialaminya memperparah sakitnya. Sebaris bait dalam bentuk puisi yang dinyatakannya sebelum ia meninggal cukup memberikan gambaran betapa berat beban derita yang dirasakan putri kesayangan Nabi ini.

Sekian banyak derita yang menimpaku
pabila semua derita ini ditimpakan kepada siang,
niscaya siang segera kan berubah menjadi malam

Walau pun begitu, wanita mulia ini tetap mengatakan kepada seisi rumahnya bahwa ia merasa lebih baik, rasa sakit pada rusuk dan tangannya tidak lagi terlalu dirasakannya dan panas demamnya sudah mulai turun. Kemudian ia memandikan anak-anaknya, yang segera dibantu Imam Ali dan Fizzah.

Ia memandikan anak-anaknya, mengganti pakaian mereka, kemudian mengantarkan mereka ke sepupunya. Lalu ia memanggil suami tercintanya, Ali ke sisinya seraya berkata dngan suara yang sangat lemah,”Ali, suamiku tercinta, engkau tahu mengapa kulakukan semua itu. Mohon engkau maafkan kesalahanku. Mereka, anak-anak kita, sudah demikian menderita bersamaku selama aku sakit, sehingga aku ingin hari ini mereka berbahagia di hari terakhir hidupku.

“Wahai Ali, engkau pun tahu bahwa hari ini adalah hari terakhirku. Aku gembira tetapi sekaligus sedih. Aku gembira karena penderitaanku akan segera berakhir, dan aku akan segera bertemu dengan ayah tercinta, namun aku juga sedih, karena harus berpisah denganmu, dan anak-anakku. Kumohon Ali, catatlah apa yang akan kukatakan kepadamu dan lakukanlah apa yang kuingin engkau melakukannya. Sepeninggalku nanti, engkau boleh mengawini siapa saja yang engkau sukai, tetapi alangkah baiknya jika engkau mengawini sepupuku, Yamamah. Ia mencintai anak-anakku khususnya Husain sangat lengket dengannya.

Biarlah Fizzah (pelayan Fathimah) tinggal bersama kalian, sekalipun ia sudah kawin, jika ia mau. Ia lebih dari sekedar pelayan bagiku. Aku mencintainya sebagai anak.

Wahai Ali, kuburkan jenazahku di malam hari dan jangan biarkan orang-orang yang telah berbuat sedemikian kejam kepadaku turut menyertai penguburan jenazahku. Dan jangan kematianku mengecilkan hatimu. Engkau mesti melayani Islam dan kebenaran untuk waktu yang lama. Janganlah penderitaanku membuat hidupmu kau rasakan pahit. Berjanjilah padaku, Ali…”

“Ya..Fathimah, aku berjanji…” suara Ali bergetar

“Wahai Ali…” Fathimah melanjutkan. “Aku tahu betapa engkau mencintai anak-anakku, tetapi khusus Husain, hati-hatilah kepadanya. Ia sangat mencintaiku dan ia akan sangat kehilanganku. Jadilah ibu baginya. Hingga menjelang sakitku ini ia biasa tidur lelap di atas dadaku (beliau menahan sakit pada tulang rusuknya yang patah demi putranya tertidur). Sebentar lagi ia akan kehilangan itu.”

Ali yang sedang mengelus-elus tangan Fathimah yang patah itu, tanpa disadarinya meneteskan air matanya dan jatuh di atas tangan Fathimah. Fathimah mengangkat wajahnya seraya berujar lembut, “Jangan menangis, suamiku. Aku tahu…dengan wajah lahirmu yang kokoh dan tegar, namun betapa lembut hatimu sesungguhnya. Engkau sudah terlalu banyak menderita dan akan lebih banyak lagi derita yang akan kau alami. Selamat tinggal, tuanku, selamat tinggal kekasihku, selamat tinggal suamiku tercinta. Selamat tinggal Ali…Katakanlah selamat jalan untukku…”

Rasa sedih sudah sedemikian mencekik kerongkongannya, sehingga nyaris tidak lagi sanggup ia mengeluarkan sepatah kata pun. Ia mengatakan dengan ucapan yang telah bercampur air mata,”Selamat jalan Fathimah….”

Fathimah melanjutkan, “Semoga Allah Yang Maha Pengasih menolongmu dalam menanggung penderitaan dan kesedihan ini dengan kesabaran. Sekarang biarkanlah aku sendiri dengan Tuhanku”

Ketika Fathimah mengakhiri kata-katanya ini, ia langsung berpaling ke arah tikar sajadah, lalu bersujud ke hadirat Allah. Beberapa saat kemudian Imam Ali memasuki ruangan. Ia mendapatkan Fathimah masih dalam keadaan bersujud tetapi jiwanya telah berangkat dijemput ayahnya menuju Rahmat Allah. Fathimah syahid dalam usia yang masih sangat muda, seperti yang dikatakan Imam Ali :

“Sekuntum bunga yang dipotong ketika sedang kuncup,
dari Jannah kembali ke Jannah,
dan telah meninggalkan semerbak wewangian
ke dalam jiwaku!”

UstdAdlany@TPW

 

 

 

Sun, 10 Feb 2019 @11:34

Copyright © 2019 Misykat · All Rights Reserved