Minat beli buku klik covernya
image

Minat BUKU hubungi WA Misykat

AUDIO KAJIAN ISLAM

Instagram MisykatNet
image

.

Follow Twitter Misykat
image

Silahkan ikuti Twitter Misykat

YouTube Misykat TV
image

Subscribe Channel Misykat TV

TATA CARA SHALAT

PENGUNJUNG

Flag Counter

Al-Muawiyyat, Hadis-Hadis Politis Keutamaan Sahabat [by Muhammad Babul Ulum]

image

Pemalsuan hadis terjadi sejak dini, bahkan semasa hidup Nabi. Sepeninggal Nabi pemalsuan semakin menjadi. Karena motif politik sahabat yang berkuasa sepeninggal Nabi membuat hadis yang berbeda dengan hadis Nabi.

Dengan dukungan struktur dan infrastruktur kekuasaan yang dimiliki hadis-hadis tersebut disebarkan secara terstruktur, sistematis, dan masif sehingga menjadi ideologi negara yang haram diganggugugat.

Hadis yang mendukung penguasa diterima, perawinya diapresiasi. Sedangkan hadis yang mendukung oposisi ditolak, perawinya dipersekusi. Seorang rawi semakin dekat dengan penguasa semakin tinggi penilaian kualitas hadis yang dibawa. Semakin dekat dengan oposisi semakin rendah penilaian kualitas hadis yang diterima. 

Para sahabat yang berkuasa sepeninggal Nabi melarang penulisan hadis Nabi. Hadis-hadis yang sudah terlanjur ditulis dibakar. Hadis-hadis tersebut terkait keutamaan Ali sebagai washi Nabi. Kelompok quraisy enggan menerima keputusan Nabi.

Dengan bantuan Yahudi disusun strategi untuk menjauhkan Ali dari posisi washi. Otoritas Ali dieliminasi, otoritas sahabat dijadikan tradisi. Hadis Nabi dilarang ditulis, hadis sahabat terus dirilis. Hadis keutamaan Ali dilarang beredar, hadis keutamaan sahabat selalu diumbar.

Para pendukung Ali dipersekusi, para pendukung sahabat diapresiasi. Sabda Nabi tentang Ali dimutilasi, sabda Nabi tentang sahabat dibumbui menjadi al-Mu'awiyat yang wajib diyakini.

Seiring perjalanan waktu para pendukung Ali disebut Syi'ah, para pendukung sahabat disebut Sunni. Relasi keduanya seringkali digambarkan berdarah-darah. Padahal Ali meski secara de jure tidak menjadi khalifah, tapi secara de facto tetap tampil sebagai Imam pengembala umat. Al-Khilafah yang ada pada tiga sahabat sebelumnya adalah jabatan politik, sedangkan al-Imamah adalah jabatan Tuhan yang inheren kepada Ali. Dalam konteks seperti ini, Ali dan sahabat Nabi dapat bersatu dalam perbedaan.

Karena itu, untuk menyelesaikan persoalan akut antara Sunni dan Syi'ah urusan politik harus dijauhkan dalam relasi keduanya. Politisasi Sunni atau vise versa yang seringkali dibenturkan dengan Syi'ah harus dicegah. ***

Muhammad Babul Ulum, Mahasiswa S3 Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta

 

 

Sat, 28 Mar 2015 @13:11

Copyright © 2021 Misykat · All Rights Reserved