Minat beli buku klik covernya
image

 

AUDIO KAJIAN ISLAM

KATALOG Kajian Islam
image

.

TATA CARA SHALAT

Pustaka (Buku PDF Gratis)
image

 

Syiah dan Tahrif Al-Quran

image

Asslklm wr, wb. Redaksi Misykat yang terhormat, saya juga ingin bertanya sehubungan dengan tulisan yang saya baca pada blog fajrul Islam. Tulisan tersebut membahas beberapa hal di antaranya keyakinan Syiah mengenai tahrif al-Quran yang diambil dari literatur Syiah yang otoritatif yang dicocokan dengan data di lapangan; dengan mengambil contoh (katanya) seorang tokoh Syiah di Pasuruan.

Di sisi lain, saya pernah membaca Buku Putih Mazhab Syiah yang diterbitkan ABI yang menolak pandangan tahrif al-Quran. Yang saya tanyakan adalah mengapa ada dualisme pandangan dalam Syiah mengenai tahrif al-Quran? Bagaimana hadits dari para Imam yang paling shahih mengenai isu ini? Juzitu khairan. Wassalaam.

Salam wa rahmah

Adanya perbedaan pendapat di kalangan internal sebuah mazhab adalah hal yang sangat wajar, termasuk yang terkait dengan isu sangat sensitif semisal isu tahrif Al-Quran. Ini juga yang terjadi pada kedua mazhab: Sunni dan Syiah. Hanya saja, munculnya perbedaan tersebut tidak bisa serta-merta menjadi dalil bahwa terjadi dualisme pandangan dalam mazhab tersebut. Jika pandangan yang pertama disampaikan oleh sekelompok ulama otoritatif, sedangkan pendapat kedua disampaikan satu-dua ulama biasa, tentu tidak bisa dikatakan telah terjadi dualisme.

Dalam literatur studi Islam klasik, pendapat kedua seperti itu (yaitu pendapat minor yang disampaikan segelintir kecil ulama) diberi istilah syadz (minor). Sedangkan pendapat pertama disebut mu’tabar (representatif). 

Sekali lagi, akal kita tentu menolak jika hanya karena keberadaan pendapat yang syadz, lalu dikatakan terjadi dualisme. Akan lebih ngawur lagi jika pendapat syadz itu lalu dianggap sebagai pendapat yang representatif. 

Kini kita lihat isu tahrif Al-Quran di kalangan mazhab Syiah. Kita tidak menyangkal bahwa di kalangan Syiah juga terdapat pendapat yang meyakini terjadinya tahrif atau distorsi pada Al-Quran. Orang pertama yang menulis kitab tentang masalah tahrif adalah Sayid Ni’matullah al-Jazairi (w. 1112 H.) dibahas dalam kitab Manba’ al-Hayat cetakan Baghdad dan Beirut.

Dia membawakan beberapa bukti untuk memaparkan masalah tahrif dalam al-Quran. Kemudian setelah lebih dari 200 tahun, Haji Nuri (w. 1320 H.) menulis kitab Fashlul Khithab yang menyodorkan sekumpulan riwayat tentang masalah ini. Jika ada ulama Syiah kontemporer yang memiliki keyakinan serupa, bisa dipastikan bahwa yang disampaikan tidak lebih dari daur ulang atas pendapat Al-Jazairi atau Haji Nuri. 

Siapakah Al-Jazairi dan Haji Nuri? Di dalam ensiklopedia ulama Syiah, keduanya bisa dikatakan “bukan siapa-siapa”. Tidak ada jejak pemikiran lainnya yang diwariskan kepada penganut Syiah zaman sekarang. Keduanya bukan seorang mufassir atau faqih (ahli fiqih).

Hal yang sama juga berlaku untuk ulama Syiah Pasuruan yang disebut-sebut dalam artikel Fajrul Islam itu. Siapa ulama itu? Apakah dia seorang mufassir atau mujtahid?

Lalu, jika pendapat adanya tahrif itu bersifat syadz, apakah pendapat yang menolak tahrif itu bersifat mu’tabar? Jawabannya adalah ya. Di dalam kitab Shiyanatul Quran min al-Tahrif, dituliskan pendapat para ulama Syiah dengan otoritas yang tidak diragukan lagi tentang tidak adanya tahrif dalam Alquran. Tidak mungkin memuat semuanya di sini.

Berikut ini adalah nama dan buku-buku dari ulama-ulama ternama Syiah yang menolak tahrif:

Pertama, Allamah Abu Ali Fadhl bin Hasan al-Thabarsi (w. 548 H), Majma’ al-Bayan; jilid 1, hal. 15.

Kedua, Muhaqqiq Ardabili (w. 993 H), Majma’ al-Faidah; jilid 2, hal. 218.

Ketiga, Syekh Ja’far Kabir Kasyiful Ghitha’ (w. 1228 H), Kasyiful Ghitha’ Wa Risalah al-Haqqil Mubin; hal. 11.

Keempat, Syekh Muhammad Husain Âli Kasyiful Ghitha’ (w. 1373 H.), Ashlus Syi’ah wa Ushuluha; hal. 133.

Kelima, Muhammad Muhsin Faidh Kasyani (w. 1090 H.), mukadimah keenam Tafsir al-Shafi dan Ilmul Yaqin; jilid 1, hal. 565 dan al-Wafi; jilid 2, hal. 273-274.

Keenam, Khatamul Muhadditsin Syekh al-Hur al-Amili, penulis Wasail al-Syi’ah (w. 1104 H.) telah menulis masalah ini dalam sebuah risalah berbahasa Persi, seperti yang dinukil oleh Syekh Rahmatullah Dahlawi dalam bukunya yang sangat berharga, Izhharul Haq; jilid 2, hal. 208 dan Al-Fushulul Muhimmah, karya Sayid Syarafudin, hal 166.

Ketujuh, Allamah Syekh Muhammad Jawad Balaghi (w. 1353 H.),  Âla’ al-Rahman; jilid 1, hal. 25-27.

Kedelapan, Muhaqqiq Tsani Syekh Ali bin Abdul ‘Âli al-Karaki (w. 940 H.) dalam risalahnya yang ditulis berkenaan dengan masalah ini, menurut saduran Sayid Muhsin al-A’raji  dalam kitab Ushul, Syarhul Wafiah.

Kesembilan, Sayid Syarafudin al-Amili (w. 1381 H.), Al-Fushul al-Muhimmah; hal. 163 dan kitab Radiyah tentang masalah-masalah Musa Jarullah; hal 28.

Sepuluh, Sayid Muhsin Amin al-Amili (w. 1371 H.), A’yan al-Syi’ah; jilid 1, hal. 41.

Sebelas, Allamah Thabathaba’i (w. 1402 H.), Al-Mizan; jilid 12, hal. 106-137.

Duabelas, Imam Khomeini dalam kitab Tahdzibul Ushul; jilid 2, hal. 165 dan dalam syarah dan ta’liq atas Kifayatul Ushul.

Tigabelas, Ayatullah Abul Qasim al-Khu’i dalam mukadimah tafsirnya, Al-Bayan; hal. 215-254.

Tak ada yang menolak otoritas ketiga belas ulama di atas. Adakah yang berani mengatakan bahwa al-Jazairi, Haji Nuri, atau ulama anonim dari Pasuruan itu memiliki otoritas keilmuan yang lebih tinggi dibandingkan salah satu dari 13 nama ulama besar di atas?

Dengan logika seperti ini pula, kalangan Syiah tidak pernah mempermasalahkan pendapat Sunni mengenai tahrif Al-Quran. Meski pun di dalam kitab-kitab otoritatif Sunni terdapat riwayat-riwayat tahrif dan meski pun ada segelintir ulama Sunni yang meyakini tahrif Al-Quran.

Syiah sebenarnya juga tahu bahwa ada minimalnya ada 12 riwayat yang terdapat pada kitab-kitab hadits Sunni (Muslim, Musnad Ahmad, Al-Itqan, Mizanul Itidal, dan lainnya) yang menyatakan adanya tahrif.

Syiah juga tahu bahwa Ibnu Arabi (w. 638 H.), penulis kitab Futuhat Makkiah, berkeyakinan bahwa al-Quran telah di-tahrif dan banyak sesuatu yang berkurang darinya. Atau Muhammad Abdul Lathif yang dikenal dengan Ibnul Khathib dari Mesir, yang di dalam kitab Al-Furqan menulis bahwa ada banyak perubahan dan penyelewengan di dalam al-Quran sebelum Usman.

Hanya saja karena status riwayat dan juga pendapat segelintir ulama itu termasuk syadz, maka pendapat seperti ini harus diabaikan. Wallau a’lam.

 ( redaksi@misykat.net )

  

Fri, 15 Apr 2016 @12:59

Copyright © 2020 Misykat · All Rights Reserved