AUDIO KAJIAN ISLAM

BERBAGI BUKU ISLAM

TULIS nama, alamat lengkap & nomor HP/WhatsApp pada KONTAK

TATA CARA SHALAT

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

BAHAN BACAAN
PENGUNJUNG

Flag Counter

Tabayun: Sudah Hilangkah?

image

Baru-baru ini kita dapat kabar bahwa kaum Muslimin Nahdlatul Ulama (NU) di Madura dan Cirebon berani menolak gerakan Wahabi dan membatalkan deklarasi anti Syiah. Saya salut dengan keberanian NU ketika orang-orang hanya bisa komentar dalam situs sosial media. Tindakan berani untuk kerukunan umat beragama di Indonesia. Dan itu bentuk nyata dari pengakuan pluralitas umat Islam untuk menjaga keutuhan bangsa.

Hampir di setiap acara deklarasi anti Syiah digaungkan, logo NU terpasang pada spanduk. Seakan-akan benar diwakili kalangan NU. Bahkan logo Muhammadiyah pun dipasang bersama logo ormas lainnya. Kadang timbul tanya dalam benak: benarkah pihak yang empunya logo ikut serta secara resmi? Atau hanya segelintir orang dari masing-masing ormas? Jika benar keputusan resmi tentu harus menjadi keputusan nasional dan segelintir orang tidak layak digeneralisir sebagai wakil umat Islam.

Penolakan terhadap mazhab Islam yang non mainstream perlu dikaji. Sebagaimana gugatan segelintir orang atas blokir pemerintah terhadap 22 situs yang dianggap menyebarkan paham radikalisme agama. Saya termasuk yang dukung dan mempertanyakan orang-orang yang menggugat keputusan pemerintah. Pers yang bertendensi memecah persaudaraan dan menyesatkan paham agama yang berbeda dengan yang diyakini awak media, bukan pers Islam.

Kita tahu Islam melalui Nabi Muhammad saw telah mengajarkan perilaku dan ucapan yang baik. Lisan dan tulisan dilandasi dengan kalimat yang baik. Setiap ada persoalan atau sesuatu yang tidak jelas, dianjurkan untuk tabayun. Ini yang sudah hilang dari kalangan umat Islam Indonesia. Tentu bukan dari kaum mayoritas, tetapi dari segelintir orang yang dengan percaya diri mengaku paliing saleh dan benar.

Saya tidak melihat (etika) tabayun (konfirmasi) pada mereka yang doyan sesatkan Syiah. Saya tidak melihat upaya dialog dari mereka yang tulisannya penuh umpatan dan hinaan pada sesama umat Islam yang berbeda dalam memahami nash-nash agama Islam. Buku sudah banyak ditulis oleh orang Islam yang disesatkan. Bahkan, ada buku yang atas nama lembaga resmi. Lagi-lagi tidak dibaca sebagai bentuk konfirmasi atas sejumlah fitnah. Bahkan disebut taqiyah. Susah memang berhadapan dengan orang dan lembaga yang bisanya hanya curiga dan merasa paling benar.

Hingga sekarang saya belum melihat itikad baik dari mereka yang kerap sesatkan Syiah. Padahal, dari kaum Muslimin Syiah sudah menunjukkan argumentasi dari yang diyakininya dengan sejumlah buku-buku. Saya membacanya dan percaya dengan pemahaman yang mereka yakini. Di dalam ajaran Islam yang oleh kaum Syiah yakini terdapat kebenaran, yang sama dengan kaum Muslimin mayoritas Indonesia. Bukan seperti yang disebarkan kaum yang benci Syiah. Saya cukup baca situs yang benar-benar menyuarakan paham Syiah dari kaum Muslim Syiah. Tidak membaca situs yang kini kena blokir pemerintah.

Karena itu, sudah saatnya umat Islam kini tabayun. Dialog dengan ahlinya. Lakukan silaturahim dengan cara yang baik. Tidak membawa spanduk yang malah mencederai kerukunan umat Islam. Islam di Indonesia berbeda dengan Islam di Mesir, Arab, Pakistan, Irak, atau Iran. Islam Indonesia dibangun atas dasar kesadaran menjalankan hidup damai sehingga yang tampak Islam corak kultural, bukan Islam ideologis dan politis. Juga bukan Islam yang bersumber pada persoalan ekonomis.

Maaf bagi yang tersinggung. Ini murni untuk kesadaran sekaligus menyadarkan pentingnya tabayun. Mari lakukan tabayun dan stop fitnah terhadap sesama umat Islam.

Ikhwan Mustafa adalah kontributor Misykat


Mon, 10 Oct 2016 @19:00

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved