AUDIO KAJIAN ISLAM

BERBAGI BUKU ISLAM

TULIS nama, alamat lengkap & nomor HP/WhatsApp pada KONTAK

TATA CARA SHALAT

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

BAHAN BACAAN
PENGUNJUNG

Flag Counter

Haidar Bagir: Filsafat sebagai Terapi (1)

image

Filsafat sebagai terapi, paling tidak, ada dua hal; kita harus membahasnya terlebih dahulu sebelum kita bahas yang lain. Pertama, yang dimaksud dengan filsafat itu apa? Kedua, terapi terhadap masalah; jadi masalahnya apa? Kalau mengenai masalah, tadi kita sudah kumpulkan. Saya pikir hanya masalah-masalah eksistensial, tapi ternyata ada permintaan untuk sosial. Kalau eksistensial sifatnya lebih individual. Jadi, bisa individual, sosial, politik, ekonomi, bisnis.

Kalau mau jawaban yang lebih mudah untuk mengetahui filsafat itu apa, atau filsafat seperti apa yang kita maksudkan, kita bisa memulai dengan mengatakan bahwa filsafat adalah induk dari segala ilmu. Kalau belajar sejarah ilmu pengetahuan, misalnya, maka kita akan tahu bahwa para ilmuwan itu adalah para filosof. Baik sejarah sebelum Masehi ataupun setelahnya. Seperti Pascal, sebagai seorang filosof yang juga seorang spiritualis; Pythagoras, sebagai filosof dan spiritualis—bahkan Suhrawardi menyebutnya sebagai seorang iluminis (sumber filsafat Iluminisme); Aristoteles, sebagai ahli biologi. Kemudian filsafat Modern Barat, Descartes sebagai seorang ahli matematika.

Jadi, kalau kita lihat, pertama, filsafat sebagai induk segala ilmu dapat dibuktikan, bahwa ketika sebuah ilmu belum terpecah-pecah menjadi spesialisasi-spesialisasi—seperti sekarang—ternyata yang mengembangkan ilmu pengetahuan itu adalah kaum filosof. Kalau kita lihat dalam sejarah Islam, maka kita ketahui bahwa Al-Kindi sebagai ahli matematik dan astronomi; Ibn Sina seorang dokter. Bahkan sampai abad ke-19, Al-Qanûn fî al-Thibb karya Ibn Sina masih dipakai di universitas-universitas Eropa. Al-Biruni, selain seorang filosof, juga sosiolog, terkenal dengan analisisnya tentang sosiologi masyarakat India. Kemudian Jabir bin Hayyan—murid Imam Ja’far Shadiq—sebagai seorang filosof sekaligus ahli kimia. Al-Razi, sebagai filosof dan ahli kedokteran. Mereka sering disebut sebagai polymath (orang dengan berbagai kemampuan).

Juga ketika kita perhatikan sains itu di awal perkembangannya—sebelum terpecah-pecah—berada di tangan kaum filosof. Ini pasti bukan suatu kebetulan. Di awal renaissance Itali, misalnya, ilmuwan-ilmuwan itu biasanya para pastur, ahli teologi, ahli filsafat. Mereka-lah yang mengembangkan ilmu pengetahuan. Jadi, jawaban yang paling gampang atau paling ringkas, adalah karena filsafat itu induk segala ilmu. Ini jawaban yang pertama. Kemudian, jika kita perhatikan Ibn Khaldun, misalnya, dia berbicara tentang sosiologi, sejarah, ekonomi; Al-Farabi berbicara soal ekonomi, politik. Ini bukti bahwa ilmu pengetahuan itu berkembang di tangan para filosof.

Memaknai Filsafat Secara Benar

Nah, sekarang kita masuk lebih dalam dan bertanya, “jadi filsafat itu apa?” Atau, “filsafat yang mana?” Filsafat itu bisa didefinisikan macam-macam, tapi saya kira kalau mau disatukan, filsafat adalah “suatu disiplin ilmu yang berupaya mencari jawaban mendasar (radikal) mengenai masalah kehidupan, dengan menggunakan prosedur berpikir yang ketat, rigoris, dan bisa dipertanggungjawabkan secara publik”.

Tentu saja ada pengecualian-pengecualian. Sains tidak masuk ke dalam ranah filsafat, karena sains tidak memerlukan jawaban yang sifatnya radikal. Sains memiliki jawabannya sendiri. Sains juga tidak mencakup segala sesuatu, karena sains hanya berkaitan dengan dunia natural. Agama juga bukan filsafat, karena agama—setidaknya, “pemahaman agama” secara spesifik—tidak harus memberikan jawaban yang menerapkan suatu prosedur yang tidak publicly verifiable (pembuktian secara publik), karena sebagian besar agama tidak bersifat eksperiensial (tidak harus dirasakan).

Filsafat itu ada macam-macam. Kalau kita ambil filsafat Barat modern, misalnya, belum tentu filsafat itu bisa sebagai terapi. Sebab, di antara salah satu karakter filsafat Barat modern adalah—tentu berlaku juga pengecualian—bahwa kehidupan dipandang sebagai sebuah tragedi. Biasanya orang selalu memberikan sebuah ilustrasi dengan mengisahkan Mitos Sisifus, yaitu seseorang yang dikutuk dewa dan dihukum untuk mengangkat batu ke puncak bukit, dan ketika telah tiba di puncak sana, ia terjungkal dan jatuh ke bawah lagi, kemudian harus kembali mengangkat batu ke atas. Ini adalah suatu gambaran yang ditunjukkan oleh Albert Camus, filosof Perancis, untuk menunjukkan betapa absurd-nya kehidupan ini. Jadi hidup itu seperti Sisifus yang mengangkat batu ke puncak bukit, lalu jatuh dan naik lagi ke atas, begitu seterusnya. Hidup itu tidak jelas, tak ada tujuannya. Hidup itu absurd. Sehingga orang seperti Albert Camus ini mengatakan, bahwa sesungguhnya tugas filsafat itu dapat diringkaskan ke dalam satu kalimat, yaitu untuk menjawab pertanyaan, “kenapa manusia itu tidak bunuh diri saja?”.

Memang sebagian filsafat Barat modern sangat dipengaruhi suatu pandangan yang mengatakan bahwa hidup ini adalah suatu tragedi. Filsafat yang seperti ini mungkin tidak dapat menjadi terapi, namun malah buat pusing orang. Mungkin, jika seseorang lebih dalam lagi mengkaji dan tidak berhenti hanya pada filsafat Barat modern, maka filsafat Barat modern ini akan punya manfaat sendiri. Jadi, jika kita berhenti hanya pada filsafat Barat modern, kita akan bingung. Misalnya, kita berhenti pada pemikiran Nietzsche, maka kita malah bingung, stres, gila, bahkan bisa bunuh diri. Tapi, kalau itu kita tempatkan dalam satu wawasan yang lebih luas, maka akan ada manfaatnya. Setidaknya bisa merangsang kita untuk introspeksi lebih dalam. Kita akan dipaksa untuk bertanya dan bertanya, meskipun jawabannya tidak ketemu. Seperti ketika kita berhenti pada pemikiran eksistensialisme Sartre, maka kita akan terdorong untuk introspeksi tanpa memberikan solusi puncak terhadap persoalan terkait. Jadi, kalau kita berbicara filsafat, filsafat yang mana? Atau, filsafat yang seperti apa?

Ada sebuah ungkapan yang sering dikatakan oleh orang berkenaan dengan filsafat, antara lain diulang lagi oleh Nadim al-Jisr. Kata beliau, belajar filsafat itu seperti belajar melaut. Kalau masih di pinggir ombaknya besar, namun begitu sampai di tengah malah terasa tenang.

Saya jadi ingat kasus Tsunami; orang yang berada di tengah laut tidak apa-apa, tapi justru yang kena ombaknya adalah mereka yang berada di pinggir. Jadi, seperti itulah belajar filsafat. Kalau kita belajar filsafat hanya berhenti di pinggir, seperti pada Albert Camus, Nietzsche, Sastre, maka sama saja kita belajar melaut hanya di pinggir-pinggir. Bahaya! Lebih baik tidak usah.

Nah, beruntung kita sebagai orang beragama (Muslim), di mana posisi filsafat Islam—sebetulnya ini filsafat tradisional—jelas kedudukannya di dalam keberagamaan kita. Filsafat itu ada untuk menjawab pertanyaan puncak. Jadi, filsafat Islam tidak akan berhenti sebelum sampai kepada ujung pencarian kita, yaitu hidup ini dari mana, untuk apa, dan apa yang akan kita lakukan. Beruntung filsafat Islam—termasuk filsafat Barat tradisional—atau filsafat yang dikembangkan dalam konteks agama-agama, tidak akan pernah berhenti sebelum sampai pada jawaban terhadap pertanyaan yang terakhir. Kalau yang dimaksud adalah filsafat yang seperti ini, maka diharapkan memang dapat menjawab persoalan-persoalan dan diharapkan dapat menjadi terapi; filsafat yang sifatnya komprehensif.

Kalau kita membaca filsafat Islam, kita akan dapati bahwa filsafat Islam ini membahas siklus kehidupan manusia, berangkat dari apa yang disebut sebagai al-mabda’ (tempat mula) dan tidak berhenti sebelum sampai pada al-ma’ad (tempat kembali). Jika kita ilustrasikan dalam sebuah gambar, al-mabda’ dan al-ma’ad itu titiknya sama. Jadi, kalau sudah sampai kepada al-ma’ad akan kembali kepada al-mabda’ lagi. Karena al-mabda’ dan al-ma’ad itu satu “tempat”. Filsafat seperti ini kalau dipahami secara benar dapat memberikan sebuah jawaban; menjadi terapi untuk berbagai permasalahan, bahkan mungkin bisnis. Tentu saja berlebihan menganggap filsafat sebagai alat untuk cari duit. Kecuali jika kita buka kantor konsultasi filosofis, seperti di Amerika dan Eropa. Tentu berlebihan pula mengatakan, “Bagaimana caranya filsafat mengajari kita menjalankan bisnis fotocopy?” Itu tidak mungkin. Namun, bahwa filsafat dapat membekali kita kemampuan—termasuk kemampuan dalam bisnis—adalah sesuatu yang tidak mustahil.

Filsafat: Teoretis dan Praktis

Filsafat tradisional dapat dipetakan ke dalam dua kelompok. Pertama, filsafat teoretis (al-hikmah al-nazhariyyah). Kedua, filsafat praktis (al-hikmah al-‘amaliyyah). Filsafat dapat memberikan landasan yang immediate (lebih dekat), misalnya soal bisnis. Kita tahu bahwa dalam filsafat tradisional, filsafat praktis itu membahas politik, etika, dan ekonomi (ekonomi rumah tangga). Etika banyak membahas upaya-upaya untuk memecahkan persoalan-persoalan psikologis. Kalau kita baca buku Al-Razi, Al-Syifa’ al-Ruhani (Kedokteran Jiwa), di sana dia membahas salah satu problem modern seperti “takut mati”. Kalau kita baca puisi-puisi Rumi tentang kematian, maka kematian itu akan tampak indah. Jadi, kita dibawa kepada hakikat kematian, sampai kita merasa bahwa kematian itu adalah sesuatu yang indah.

Filsafat teoretis membahas hakikat sesuatu sebagaimana adanya; filsafat praktis membahas hakikat sesuatu sebagaimana mestinya, seperti norma, etika, dsb. Kita tidak dapat membahas sesuatu sebagaimana mestinya, kalau kita tidak mengetahui sesuatu itu sebagaimana adanya. Misalnya, kita ingin berbicara tentang ekonomi. Maka akan muncul pertanyaan, ekonomi yang bagus itu seperti apa? Kapitalisme atau sosialisme? Orang bijaksana tahu berdasarkan apa yang dilakukannya. Apakah setiap orang diberi secara sama atau berdasarkan usahanya? Misalnya, ketika Presiden Amerika Serikat di tahun 1940/1950-an—setelah terjadi upaya emansipasi—sang Presiden melancarkan sebuah program, yaitu memberikan fasilitas untuk kaum kulit hitam. Tindakannya ini dikecam oleh warga AS, khususnya dari kaum kulit putih, karena dinilai telah mengkhianati nilai-nilai liberal Amerika. Kita tahu bahwa nilai liberalisme diatur dengan prinsip kebebasan; bebaskan orang kuat yang akan menang. Ini dapat kita ilustrasikan dengan lomba lari 1000 m. Sebagian peserta memulai start dari nol meter, sementara sebagian lain sudah pada garis 500 m. Mana yang lebih adil? Apakah membiarkan keadaan seperti ini, lalu meletupkan pistol dan lomba dimulai? Atau mendorong pelari yang tertinggal ini untuk maju dulu, supaya sama-sama start di garis 500 m?

Memutuskan persoalan seperti ini tidaklah mudah. Mungkin kita bisa berpendapat, bahwa yang adil adalah mendorong orang yang berada di start nol meter ke garis 500 meter. Namun, kaum liberal akan mengatakan, “Biarkan saja! Biar mereka lebih keras dalam mengejar ketertinggalannya.” Orang miskin kalau tidak diberi fasilitas, selamanya tidak akan berubah. Jadi, mana yang lebih adil? Apakah mengambil pajak dari orang kaya lalu dibagikan kepada orang miskin sebagai modal dan sebagainya? Atau, membiarkan keadaan seperti sekarang, yaitu pasar yang diatur oleh para ekonom kapitalis-liberal, dan pemerintah tidak boleh banyak ikut campur? Sebab, menurut sistem ekonomi kapitalisme-liberal, ekonomi yang baik itu adalah ketika keterlibatan pemerintah semakin sedikit. Prinsip ini dapat dipahami bahwa kekayaan orang-orang kaya akan turun dengan sendirinya, baik dalam bentuk investasi ataupun lainnya, sehingga sampai orang miskin tidak ada yang tertinggal.

Kalau kita mau memilih antara sistem ekonomi kapitalisme liberal atau sosialisme sentralistik, maka kita harus menjawab pertanyaan: Apakah memberikan kesamaan kepada setiap orang, atau membiarkan sesuai dengan apa yang mereka peroleh?

Ini merupakan satu contoh bahwa filsafat teoretis mengenai persoalan ekonomi harus menjawab pertanyaan sesuatu, bagaimana seharusnya. Misalnya, “Bagaimana ekonomi itu diatur?.” Sebelumnya, harus dilandaskan pada menjawab pertanyaan, “Apa itu keadilan?.” Jadi, ekonomi itu diatur supaya dapat memenuhi keadilan. Ketika proses menjawab keadilan itu, maka kita masuk ke dalam filsafat teoretis yang akan mendasari kita dalam membuat aturan.

Demikian pula dengan masalah politik. Ketika kita dihadapkan pada persoalan untuk memilih antara sistem politik demokrasi atau otoritarianisme, orang yang menganut demokrasi akan mengatakan bahwa yang paling baik adalah semua orang diberi kesempatan untuk memilih. Kemudian lahir prinsip vox populi vox dei (suara rakyat adalah suara tuhan). Kalau kita melihat dalam mazhab Islam, misalnya, ada hal-hal yang menjadi perdebatan, seperti masalah ijma’. Orang Syiah menganggap ijma’ itu ada, tapi diartikan berbeda – bukan kesepakatan yang didasarkan suara terbanyak sebagaimana keyakinan Sunni – yaitu mencari kesepakatan dalam konteks tradisi. Dalam Syiah, pendapat para imam sebagai ijma’ ditetapkan dengan didasarkan dari berbagai hadis dan ucapan para imam. Syiah mementingkan otoritas, sedangkan Sunni mementingkan demokrasi. Persoalan ini juga membutuhkan terlebih dahulu diskusi-diskusi filosofis.

Kemudian masalah kemasyarakatan atau sosial. Al-Farabi, misalnya, beranggapan bahwa masyarakat itu disusun berdasarkan hierarki. Sampai kapapun, manusia yang bijak itu jumlahnya sedikit. Masyarakat manusia itu seperti segitiga. Semakin ke atas, semakin bijaksana, dan jumlahnya semakin sedikit. Tapi, tidak semua orang setuju dengan hal itu. Apa dasarnya yang mengatakan bahwa masyarakat manusia itu seperti segitiga? Tukang becak dan ahli filsafat mempunyai hak yang sama untuk mengambil keputusan mengenai hal apa saja. Nah, untuk memecahkan masalah ini juga diperlukan diskusi-diskusi filosofis.

Filsafat praktis lebih dekat untuk menjawab persoalan-persoalan praktis dibandingkan filsafat teoretis. Meskipun yang praktis ini harus didasarkan pada teoretis. Yang paling dekat, misalnya, bagaimana digunakan untuk mencari uang. Sedangkan yang paling jauh dapat membantu mencari sistem ekonomi yang akan memberikan keadilan kepada banyak orang. Kalau sistem ekonominya benar, maka semakin banyak orang yang akan makmur.

 

Haidar Bagir adalah cendekiawan Muslim

Sat, 16 Dec 2017 @22:48

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved