Menimbang Sunni - Syiah dalam Media [by Fikri]

image

Baru saja saya membuka twitter siang ini dan pandangan mata langsung tertuju pada status yang dicantumkan oleh akun berita resmi BBC Indonesia sekitar tiga jam silam. Status tersebut berbunyi: Hezbollah akan serang kelompok Sunni di perbatasan Libanon-Suriah. Headline yang terdengar seram ini kemudian dilengkapi link supaya pembaca bisa mengetahui informasi lengkapnya di website resmi kantor pemberitaan yang berpusat di Inggris itu.

Baiklah, saya mencoba tabayyun dulu dengan membaca konten beritanya secara utuh. Barangkali saja antara isi berita tidak seseram judulnya. Sebab, bukankah sudah menjadi kebiasaan sebagian besar media dewasa ini terutama yang berbasis online untuk mencantumkan judul fantastis sebagai salah satu teknik marketing untuk menggaet calon pembaca?

Rupanya yang dimaksud sebagai “kelompok Sunni” dalam berita BBC itu adalah Front Jabhat Al Nusra di Suriah. Sebagaimana kita ketahui Al Nusra merupakan sayap militer Harakah Tanzhim Al-Qaeda untuk wilayah operasi Suriah. Tentulah sebagaimana rekam jejak organisasi Al-Qaeda yang penuh darah, Al Nusra juga dilaporkan melakukan sejumlah kejahatan perang selama konflik berusia hampir 4 tahun dalam rangka menggulingkan Bashar al- Assad.

Ada pun Hezbollah lebih dikenal luas sebagai organisasi paramiliter Syiah meski dalam berita ini tidak disebut demikian secara eksplisit. Setelah membaca berita ini sampai habis, saya mengamati ada problem serius dalam penggunaan term “Sunni-Syiah” dalam media massa belakangan ini.

 Rentan Generalisasi

Disadari atau tidak, penggunaan istilah Sunni-Syiah oleh media massa untuk menggambarkan konflik di Timur Tengah yang saat ini tengah berkobar justru semakin mengaburkan fakta bahwa apa yang terjadi di Irak maupun Suriah sejatinya bersifat politis (dan juga ekonomis) namun dibumbui isu sektarian. Mari kita ambil contoh berita yang saya kutip sebelumnya di atas sebagai bahan kajian kritis. Diwartakan bahwa Hezbollah akan menyerbu apa yang disebut sebagai “kelompok Sunni”.

Penggunaan istilah kelompok Sunni ini sendiri rancu. Sebab apakah benar al Nusra bernilai valid untuk bisa merepresentasikan populasi Sunni?  Kemudian pertanyaan selanjutnya adalah mengapa headline yang digunakan seolah tendensius, langsung merujuk pada aliran “Sunni” tidak menyebutkan nama organisasi militernya secara eksplisit, “Al-Nusra” seperti ketika menyebutkan “Hezbollah”?

Mungkin ini terlihat sepele hanya soal pemilihan diksi di meja editor. Namun di Indonesia, meski angka pengguna internet sudah mencapai 55 juta orang seperti dilansir oleh LBH Pers namun masih sedikit sekali pengguna yang melek dan sadar akan literasi media, dalam arti ketika seorang individu menerima hujan informasi di internet lantas melakukan cross check ke sumber lain untuk memastikan kebenaran informasi yang baru saja ia baca.

Pembaca yang kurang memahami apa itu Sunni, Syiah, konflik politik di Timur Tengah, ketika membaca judul seram itu akan mendapat kesan buruk seolah Hezbollah yang dikenal luas sebagai Syiah itu adalah militan doyan perang yang akan menghabisi kelompok Sunni. Padahal faktanya dalam jajaran Hezbollah sendiri juga terdapat sukarelawan Sunni serta Kristen meski mayoritasnya adalah Syiah. Atau lebih mengerikan lagi ketika pembaca kemudian menyimpulkan bahwa Jabhat Al Nusra sebagai representasi Sunni padahal organisasi tersebut merupakan bagian integral kelompok teroris Al-Qaeda yang justru mencoreng citra Sunni sebagai paham toleran.

Berawal dari pola pikir seperti ini kemudian masyarakat awam akan lebih mudah lagi digiring oleh opini sempit media massa milik kelompok intoleran yang dari segi bahasa sudah tidak memperhatikan kaidah etika jurnalisme. Inilah yang saya khawatirkan jika media besar seperti BBC, Reuters, dan lain sebagainya yang sering disebut “media netral” masih keukeuh menggunakan istilah secara serampangan tanpa berpikir efeknya pada pembaca awam.

Dalam lubuk hati saya masih mencoba berpikir positif, mungkin ini hanya karena redaksi kurang memahami peta konflik serta kondisi geopolitik Timur Tengah saja sehingga langsung melihatnya sebagai ajang pertempuran “Sunni-Syiah”. Tetapi ketika redaksi berita sebetulnya sudah tahu pola faksi di Timur Tengah lalu sengaja memakai terminologi “Sunni-Syiah” dalam headline maupun konten beritanya dengan niatan tertentu, saya berlepas tangan darinya sembari berdoa mudah-mudahan pembaca kita mampu berpikir kritis di tengah banjir bandang berita.     

Fikri Disyacitta adalah Mahasiswa FISIP Universitas Airlangga, Surabaya

(redaksi misykat mengucapkan terima kasih atas kiriman artikel/tulisan dari Fikri, semoga bermanfaat dan menjadi pencerahan)

Thu, 2 Feb 2017 @11:44

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved