AUDIO MISYKAT

TATA CARA WUDHU

TATA CARA SHALAT

TATA CARA TAYAMUM

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK: Komunitas Misykat

BAHAN BACAAN

Memahami Invasi Ignaz Goldziher dan Joseph Schacht: Mengenal Buku Misteri Wasiat Nabi [by HERNOWO]

image

"Saya harus menghaturkan terima kasih yang tidak terhingga kepada pimpinan UIN Alauddin Makassar yang memberikan kehormatan kepada "orang yang menginvasi disiplin Islam dari disiplin 'sekular'." 

Ucapan terima kasih Kang Jalal untuk beberapa tokoh yang disampaikan di "Kata Pengantar" buku Misteri Wasiat Nabi ada yang unik. Di awal ucapan terima kasih tersebut, saya menemukan kata-kata sebagaimana saya kutip untuk mengawali tulisan ini. Saya menemukannya di halaman 7. Apakah "orang yang menginvasi disiplin Islam dari disiplin 'sekular'" adalah Kang Jalal sendiri? 

Saya tentu harus berhati-hati dalam mencari tahu siapa orang “yang menginvasi” itu dan memaknai katai-kata itu. Namun, ketika saya membaca "Bab II Metodologi"—yang tidak mudah bagi saya untuk memahaminya—keyakinan saya bahwa orang yang "menginvasi" adalah Kang Jalal perlahan-lahan seperti mendapatkan pembenaran.
 

"Menurut Jonathan A.C. Brown—yang saya jadikan rujukan utama pada bagian ini—prinsip pertama dengan asumsi a priori meragukan otentisitas hadis bertentangan dengan penelitian hadis di kalangan kaum Muslim," tulis Kang Jalal di halaman 27 (halaman ketiga di Bab II). Buku Brown yang dijadikan rujukan utama oleh Kang Jalal adalah Hadith: Muhammad's Legacy in the Medieval and Modern World. Mungkin saja Brown termasuk kelompok yang disebut "sekular". Selain Brown, ada dua nama terkenal dan populer di kalangan para peneliti hadis: Ignaz Goldziher dan Josep Schacht. Mungkin dua tokoh ini juga dapat dimasukkan ke dalam kelompok "sekular" yang bisa disebut "menginvasi" disiplin Islam. 

Saya baru benar-benar memahami peran dan keahlian Goldziher-Schacht lewat buku Misteri Wasiat Nabi ini. Kang Jalal begitu rancak dan gamblang dalam menjelaskannya. "Goldziher mewakili sarjana Barat yang mencoba menerapkan metode sejarah untuk menguji otentisitas hadis. Ia memperluas kritik hadis dari sekadar kritik isnad kepada kritik matan. Jika matan suatu hadis mengandung absurditas historis atau logis, hadis itu harus ditolak," tulis Kang Jalal di halaman 25. Buku Goldziher yang digunakan Kang Jalal berjudul Muslim Studies (Muhammedanische Studien). Dan, ingin saya tegaskan di sini bahwa saya—sebagai penikmat buku—hanya ingin membaca (menikmati) saja materi ini tanpa ada keinginan untuk masuk lebih dalam dan menguasainya. 


Saya sesungguhnya agak kerepotan mengikuti penjelasan Kang Jalal soal "metode kritik hadis di Barat" yang dipaparkan di Bab II ini. Hanya rasa penasaran dan keingintahuan saya mendorong saya untuk terus membaca (menikmati) dan sedikit-sedikit berusaha mencoba memahaminya—tentu semua itu gara-gara soal "invasi" yang disebut-sebut Kang Jalal di ucapan terimakasihnya.

"Serangan terhadap isnad hadis diguncangkan lagi lebih telak oleh Joseph Schacht," tulis Kang Jalal di halaman 28. Dalam menunjukkan mazhab Goldziher-Schacht dan mazhab yang berlawanan dengannya, Kang Jalal menggunakan buku Herbert Berg yang berjudul The Development of Exegesis in Early Islam: The Authenticity of Muslim Literature from the Formative Period. Di sisi yang berseberangan dengan Goldziher-Schacht (yang disebut sebagai "mazhab pertama" dan dalam hal skeptisisme didukung oleh Cook dan Adler) terdapat "mazhab kedua" yang dipelopori oleh Abbot, Sezgin, dan Azami serta mendapat dukungan Motzki, Horovitz, dan Fuck. 

Mohon maaf, saya tidak dapat mendetailkan nama-nama di kedua mazhab dalam konteks studi kritik hadis versi Barat dan juga buku-buku mereka yang dirujuk sekaligus dipahami Kang Jalal karena saya memang tidak bermaksud untuk masuk terlalu dalam. Dan, akhirnya, saya hanya ingin menutup hal-ihwal berkaitan dengan "invasi" ini—yang memesona pikiran saya—lewat kata-kata menarik Kang Jalal berikut ini: 

"Dalam penelitian ini, saya mengambil tradition-critical approach, dengan sedikit sentuhan skeptical approach. Salah satu di antara warisan 'ulum al-hadits ialah menilai otentisitas dan reliabilitas hadis dengan menggunakan ilmu al-jarh wa al-ta'dil. Apabila para peneliti Barat kebanyakan menaruh perhatian pada kajian isnad, sedikit pada kajian matn, para peneliti hadis Muslim hampir tidak memperhatikan kajian matn (sebagai petunjuk akan otentisitas hadis) dan umumnya memusatkan perhatian mereka pada kajian asma al-rijal." 

Alhamdulillah.[]

Tue, 2 Jan 2018 @20:02

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved